Skip to main content

Curcol backpacker #5: What to do in Kupang

Sudah hampir dua jam saya duduk di pinggir pantai Ketapang Satu, salah satu pantai di Kupang yang berjejeran tempat nongkrong (walau tak banyak). Karena menginap di Kupang tanpa perencanaan, hotel yang dipilih pun yang seadanya, menurut pengetahuan sopir berdasarkan kriteria yang saya minta; gak jauh dari pelabuhan dan di pinggir laut. Hotel Pantai Timor ini memang letaknya di pinggir pantai Ketapang Satu, dengan view yang sangat memanjakan mata dan bikin betah duduk diam ber jam-jam. Tapi tidak banyak yang bisa dilakukan.

Saya tiba di Kupang pukul sembilan, menuju pelabuhan dan menyelesaikan semua pertanyaan soal rute saya ke Rote, Sabu dan Raijua hingga pukul sepuluh. Baru setelah itu cari hotel dan keliling sebentar dengan taksi bandara. Pukul dua belas saya menyudahi trip keliling-keliling itu, karena memang lumayan lelah juga setelah semalaman berkereta. Maka saya putuskan untuk tidur sebentar setelah sholat dan bersih-bersih.

Pukul tiga sore baru saya beranjak keluar hotel dengan niat untuk isi perut. Tidak ada pilihan lain sekitar sini kecuali geprek bensu. Ya sudah, mau tidak mau. Saya lagi-lagi membayangkan kalau berjalan dengan travel partner yang idealis, yang kalau ke kota orang makannya harus makanan lokal.. ya mungkin saya akan bad mood juga. Whatever. I’ll eat soto Surabaya anyway, kalau memang gak dapat makanan khas ya ngapain di paksa. Toh saya juga jalan kaki cari makannya.

Di tulisan sebelumnya saya bilang saya takut sama orang, dan terbukti. Jantung saya tidak berhenti berdegup selama saya berjalan di atas trotoar. Belum lima menit seorang sopir angkot sudah teriak-teriak memanggil saya “kaka.. kaka..” lalu bergumam entah apa. Saya hanya mengangkat tangan berusaha sopan. Belum lagi pemuda-pemuda yang nongkrong di pinggir jalan, yang menatap saya dari kejauhan dan mulai bergumam bahasa-bahasa yang saya tidak mengerti saat saya lewat. Duh.. begini toh rasanya backpacking di negeri sendiri. Waktu di luar seingat saya tidak pernah saya mendapat perlakuan serupa.

Itulah kenapa saya urungkan niat untuk melanjutkan jalan kaki eksplor area sekitar sampai ke Penjara Lama yang merupakan salah satu bangunan bersejarah. Saya memilih pulang, karena takut. Dan duduk di restoran hotel yang punya view pinggir pantai dan batu karang. Begini saja sudah cukup. Saya masih harus menyusun strategi untuk beberapa hari ke depan. Jadwal kapal seperti puzzle yang harus saya susun agar penggunaan waktu selama di sini menjadi efektif dan tidak ada yang sia-sia. Karena jika memungkinkan, saya masih mau meneruskan sampai ke Atambua..

***
Kupang, 9 Januari 2020

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu.



Sebetulnya pilihan saya itu bukan pilihan yang tepat, karena orang lokal akan lebih memilih untuk naik kapal Ferry Funka yang berangkat malam dari Kupang dan tiba di Pulau Sabu pagi. Karena kapal kecil yang akan mengantar dari Pulau Sabu ke Pulau Raijua adanya pukul sepuluh pagi. Kala…

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. (Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat.

Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya.

"Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... (Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner')" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya.

***

Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk Djangko k…

Pagar Batu dan Rumah Orang Raijua

Pertama kali menjejakkan kaki di Raijua, saya diajak oleh Pak Jesri (Kepala Desa Bellu) untuk ikut mengantar semen naik truk kecamatan ke sisi lain Raijua. Mereka sedang dalam program pembangunan jalan yang didanai oleh pemerintah. Kata Basa (kawan yang setahun tinggal di Raijua untuk Indonesia Mengajar), jalan itu nantinya akan menghubungkan area penghasil rumput laut untuk memudahkan pengangkutan. Kalau di Raijua, mereka menyebut rumput laut sebagai 'agar'.

Saat berkeliling dengan truk itulah saya bisa melihat langsung separuh Raijua, yang didominasi perbukitan dan bebatuan. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pagar-pagar batu yang ditumpuk rapi dan mengelilingi tanah-tanah masyarakat yang luas. Ada juga bukit-bukit yang ditengahnya terdapat pagar batu membuat garis lurus memanjang, seolah membagi bukit tersebut menjadi dua bagian. Jika ada terasering di bukit yang curam, maka setiap undakannya pasti disangga dengan batu-batu yang ditumpuk rapi. Rasanya seperti …