Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2021

Letaknya ketenangan jiwa

  Kita cenderung mudah terperangkap dalam pemikiran bahwa segala hal yang kita miliki sekarang ini adalah kondisi yang sangat rumit, yang butuh suatu perubahan sehingga nantinya hidup akan jadi lebih mudah. Padahal nyatanya, yang kita hadapi sekarang adalah level termudah karena ketika apa yang kita pikir bisa mempermudah hidup itu menjadi kenyataan, selalu ada hal lain yang datang dengan kerumitan berbeda.  Untuk itu kita terus menerus terjebak dalam pikiran; kalau ada A, hidup akan lebih mudah. Saat A sudah terwujud, ternyata ada A+ yang kita butuhkan. Kebutuhan untuk memenuhi A+ mendatangkan kerumitan baru, sampai terwujudlah A+ tadi. Dan seterusnya. Tadinya saya pikir kunci hidup bahagia adalah memiliki apa yang saya pikir akan mempermudah hidup saya. Ternyata kunci hidup bahagia adalah dengan menikmati apa yang ada di depan mata sekarang dan saat ini. Tadinya saya pikir ketenangan batin terletak pada perbuatan baik yang kita beri pada orang lain. Ternyata justru saya temukan keten

Yang unik tentang cinta

  Soalan satu ini, terus terang saya hanya berperan sebagai pengamat. Melihat, mendengar, terkagum, tanpa pernah benar-benar menjadi pemain utama. Lebih tepatnya, belum. Saya hanya sedang menunggu waktu dan orang yang tepat untuk melakoni aksi ini, dan sambil menunggu, saya habiskan waktu untuk memetik pelajaran dari satu per satu kisah cinta yang melintas di hadapan saya. Ada yang unik, yang lucu baru-baru saya temui. Kisah nyata, namun hubungan saya dengan mereka tidak perlu saya beberkan di sini. Anggap saja.. kami tidak saling mengenal,.. atau saling mengenal.. terserahlah. Mereka berdua adalah dua insan yang jatuh cinta saat usia masih sangat belia. Singkat cerita, perasaan yang mereka punya hanya bisa diendapkan diam-diam. Karena usia masih dianggap belum paham urusan cinta, hingga mereka beranjak dewasa. Pun karakter keduanya sama-sama pemendam.. pendiam.. dan cenderung tidak menampakkan apa yang mereka rasakan. Akhirnya mereka tumbuh besar, dan menikah dengan pilihan orang tua

Grumpy Nana

 You can drive for long hours without switching. You can make billions of money. You can be so powerful at your job that people admire you for your leadership skill. But none of that matters to your nana. As long as you’re not married, you achieved nothing. For her, the ultimate goal is to be a wife. Doesn’t matter if you cant do anything but to beg for your husband as long as you have a husband. May we all grow old with value. Have a sense of purpose, have vision. The world is more than just being a wife and do nothing but to be grumpy about every bits of money he gave. And then you busy spending your time talking about how much other people have. *** Bogor, May 24 01:20 Nyetir konvoi Bandung-Pantura. Pulang dr Pamanukan jam 9 malam nyampe Rumah Bogor jam satu dini hari. Sudah Senin. Mari bekerja. 

Hey, June

  Selain Maret, bulan lain yang paling spesial untukku adalah Juni. Di bulan itu, banyak orang yang akhirnya betah membersamaiku yang lahir di bulan Juni, utamanya para Gemini. Bayangkan, 14, 15, dan 16 Juni secara berturut-turut adalah ulang tahun sahabatku. Tiga-tiganya adalah sahabat dekat sejak SMA dan kuliah dan yang paling betah menghadapi mood ku yang berantakan, kelakuanku yang memalukan, dan jalan pikiranku yang paling aneh. Juga Bulan Juni adalah bulan kelahiran babeh, dan adik sepupu cucu Eyang yang paling bungsu. Btw.. Hai Eyang.. Lebaran kemarin aku tidur di kamar Eyang. Dua malam tidur di sana, dan aku semakin sadar betapa dekat Eyang dengan toa masjid. Suaranya menggema di seisi kamar setiap kali tadarusan atau azan. Eyang tidak pernah mengeluh ya, apalagi protes ke masjid. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan Eyang tentang-Nya, dan ya.. Eyang tidak pernah lupa pada-Nya kan. Buktinya, Allah panggil Eyang dengan cara yang saangat indah. Tradisi kita setiap kali lebara

Eyang, Tujuh Hari

  Hi, Eyang. Ini hari ke-tujuh Eyang ninggalin kita. Kemarin aku pulang ke Pamanukan, bawa mama, papa, Aini sama Tsaltsa. Alhamdulillah di jalanan lancar, lengang, dan kita ga diberhentiin sama pos-pos penjagaan. Allah lancarkan perjalanan kami sampai di rumah selepas Ashar. Ternyata banyak karangan bunga baru, loh Yang. Jadi makin penuh sekeliling halaman sampe ke luar-luar. Trus hari ini juga tamunya masih banyak. Pas pengajian aku sempetin fotoin buat Eyang. Bukti kalau banyak yang sayang sama Eyang atau anak cucu Eyang. Eyang kayaknya udah enak ya di sana? Meuni udh ga balik-balik nengok ke sini. Aku minta-minta sama Allah pas lagi solat teh.. biar ketemu Eyang sebentaar aja. Pingin ngobrol lagi gitu Yang. Kan kalo kemaren mah kan Eyang nya sakit.. obrolan kita seputar sakitnya Eyang dan cara supaya sembuh aja. Kalo sekarang kan Eyang udah jauh lebih enakeun pasti tempatnya.. trus Eyang mungkin jadi lebih deket ke Allah nya? Siapa tahu gitu Allah ngirimin pesan lewat mimpi lewat Ey

Malam Pertama Eyang

  Hi Eyang.. Aku penasaran bagaimana di sana malam ini.. pasti enak ya? Kan ga ada siksa kubur di Bulan Ramadan ini.  Aku sakit kepala Yang. Emang gini kalo kebanyakan nangis. Maap aku nangis.. aku nyesel kenapa semalam pulang. Kalo tadi malam ga pulang, mungkin paginya aku bisa nuntun Eyang ngucapin kalimat tauhid. Tapi pasti Eyang ngucapin ya. Kata Euteu Eyang perginya gampang.. kayak bobo aja gitu nutup mata aja. Ga pake adegan aneh-aneh. Alhamdulillah.. moga ga sakit ya Eyang. You’ve had enough pain. Bahkan akupun yang tidur sendirian di kamar Eyang sekarang, tidak tersentuh dan tidak ditengok orang dari luar, bisa sedikit merasakan gimana rasanya nahan sakit dan gak ada yang dateng padahal orang di luar rame lalu lalang. Eyang.. Mereka masih ngaji. Ini jam 22.21 pas aku nulis bagian ini. Tante Hanny, Om Dadang, Nenek, Teu Ulan, masih di luar. Ada tenda warna kuning, Yang depan rumah. Trus karangan bunga. Banyaaaak banget karangan bunga buat Eyang.  Halaman depan penuhh. Sampe ke l

Eyang

  Aku ikhlas kalau Eyang mau pergi. Walau selama ini doaku selalu satu: supaya eyang diberi kekuatan untuk sampai minimal tahu dengan siapa nanti aku akan melanjutkan hidup. Minimal dia tahu siapa pasanganku. Tapi rupanya dia belum juga menampakkan wujudnya. Hingga sekarang kondisi eyang sudah sangat menyesakkan jiwa. 23.00 sy tiba di rumah. Nyetir dengan kecepatan rata-rata 140km dan berulang kali nyaris “bersapa” mobil lain. Tapi Allah masih tolong. Allah masih ampuni kelakuanku di jalan. Mudah-mudahan Allah tidak marah. Karena aku tidak bermaksud ugal-ugalan. Pikiranku hanya sedang kacau. Dari kecil aku selalu dibela oleh Eyang. Nenek dan Euteu sering sekali marahin aku yang terlalu kreatif ngulik-ulik barang. Cerewet bukan main, semua hal ditanyai. Cuma Eyang yang mau jawab pertanyaan-pertanyaanku. Cuma Eyang yang selalu bela aku kalo dimarahin. Sampai sekarang... cuma Eyang yang selalu bilang “gausah buru-buru. Nikmati saja dulu karir mu” ketika semua orang sibuk bertanya kapan ak