Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2021

A day in the life of a kost-an girl

  I woke up late. Nine am and the kost was empty.. weirdly quiet. I decided to do nothing today. Not responding to any texts until after mid-day. I feel like I've been avoiding loneliness since I got here three days ago, so maybe now is the time to actually face it. Because I've known loneliness my whole life, I know she won't get away until I fully embraced it. So I did.. I ordered a simple meal for breakfast and lunch.. brought by a humble-beautiful Balinese woman, who keeps saying that she doesn't actually sell food.. she sells grocery, but she made an exception for my request. I tried to watch television while eating, only a few minutes before I turned it off. Too loud, I couldn't stand the noise. After a long-peaceful shower, I change my navy pajamas into the red one, and have a little chit-chat with the neighbor. My neighbor is very kind, young woman with her baby girl to whom I borrow her broom everyday.  I actually could do something productive today, like f

Knowing the Unknown

  Hari kedua di Bali, There's some kind of comfort in knowing something. Tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, menyusun sebuah rencana dan tahu akan seperti apa jalannya nanti dan kenyataan pun sesuai dengan prediksi, adalah hal-hal yang membuat hidup jadi lebih nyaman. Itulah kenapa kita senang sekali pergi ke tempat yang familiar dan cenderung menghindari yang tidak familiar, dan hanya orang-orang yang berani sajalah yang mau berjibaku dengan ketidaktahuan akan hal baru tersebut dan menemukan kebebasannya.  Ini saya kutip dari kalimat yang terpajang di sekretariat Lawalata IPB; 'Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko yang dapat merasakan kebebasan. L-xxx' (saya lupa nomor anggota L-berapanya, tapi yang jelas itu ditulis oleh mantan atasan saya kemarin). Oh.. menyebutkan kata mantan atasan saja bagi saya adalah hal baru yang menggelitik nan aneh. Ada sensasi rasa yang berbeda saat mengetahui bahwa hidup tidak akan sama lagi meskipun pandemi ini berakhir. Saya memutu

They are Watching

  Menjelang keberangkatan ke Bali yang tinggal beberapa hari lagi, perasaan saya semakin campur aduk. Kadang senang, kadang sedih. Senang kalau ingat laut, sedih kalau ingat nanti di sana bakal jarang hujan sedangkan di sini tiap pagi mendung. Saya hanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bisa keluar dari grup whatsapp yang setiap percakapannya membuat hati saya nyeri, itu saja. Tapi saya juga takut jika di sana nanti saya tidak kenal siapa-siapa, dan segala ketidakpastiannya juga membuat saya sangat gugup. Namun sepertinya Tuhan dan ciptaan-Nya bisa merasakan getar takut itu, seolah bisa merasakan ada getar negatif berupa rasa takut yang saya pancarkan, maka Dia mengirim sesuatu untuk menenangkan saya. Perasaan takut ini tidak bisa saya hilangkan, dia selalu ada setiap hari walau intensitasnya berubah-ubah. Seperti kurva grafik yang naik dan turun, begitulah rasa takut saya berubah setiap jamnya. Namun ketika grafik ini terus naik dan naik, selalu ada saja kawan yang bertanya kabar,

Ratu Jahat

  Ibu Peri datang membawa nasihat, Setiap katanya adalah petuah. "Jangan dekati Si Ratu Jahat, Karna ia akan menusukmu dari belakang" Perlahan ia beranjak dewasa. Ibu Peri menjadi satu-satunya sosok yang mengerti dirinya, "Aku melihat diriku pada dirimu. Kau adalah aku saat masih seusiamu,"  Ia mempercayai semua ceritanya pada Ibu Peri. Yakin bahwa Ibu Peri adalah orang yang paling bisa memahami apa yang ia rasa. Juga menjaga jarak dengan Ratu Jahat. Karena Ratu Jahat hanya inginkan harta dan kekuasaan. Waktu kembali bergulir, ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan akal yang sempurna terbentuk. Ia mulai melihat garis batas, Ratu Jahat yang tidak banyak bicara dan cenderung menjauh dari kerumunan, dan Ibu Peri yang selalu di kelilingi para rakyat dan petani.  Ibu Peri berjanji, bahwa dia akan selalu ada untuk semuanya. Membantu semua orang yang berada dalam kesulitan, walau itu berarti dia harus mengorbankan dirinya dan kebahagiaannya sendiri.  Ratu Jahat

First Monday in October

  Pukul sembilan lima belas malam, suara guntur mulai menggelegar. Dua belas tahun sudah saya menetap di kota ini, dan hujan sudah menjadi bagian dari diri saya. Selama pandemi, setelah menekuni rutinitas yang begitu rutin dan adil; bangun pagi, baca buku, memberesi tempat tidur, mulai bekerja dan tidak menyentuh kasur seharian,. saya akan menutup laptop dan menyudahi pekerjaan jika pukul empat sore hujan mulai turun. Hanya untuk duduk di teras, menatap langit, menatap keberkahan yang tercurah melimpah ruah untuk kota ini. Pernah satu ketika di Bulan Juni, saat hujan sedang mengguyur malam dengan derasnya, saya menangis sendirian di dalam kamar. Bukan karena saya takut sendirian, tapi karena perkataan menyinggung yang seorang rekan lontarkan dengan sengaja. Pandemi membuat saya begitu sensitif, mudah sekali menangis bahkan oleh omongan yang tidak penting. Malam itu saya berbisik.. Tuhan, ingin sekali saya kabur dari sini. Pergi ke Bali, dan memulai hidup dari awal lagi. Mungkin saya bi

Tuhan, aku takut..

  Who aren’t scared of change? It is scary. Unusual. Strange. We don’t like change. That’s not how we designed, we were designed to remain the same and it requires power and strength to adapt. That’s why the weak dies, and only the powerful can embrace change. Are we strong enough to face one? They say you only one decision away to a new life. You said that too, that you want to start over, a fresh start. Now when the universe open a door to you, you freak out. Why? Maybe it’s because.. after all these years you’ve spent on the road.. jump from one town to another in the name of good education, you finally find (or build) a place you called home. Maybe because the process wasn’t easy and the result gives you beyond comfort and satisfaction, it brings you the elegance in life that make it hard to leave. But you won’t go anywhere unless you embrace this fear. I remember right before pandemic, I took my self on a journey. The intention was simple; to cast away a rotten feeling. After five

The Sky is Beautiful Today

  Seringkali terjadi, setelah seharian hujan badai, besoknya langit cerah dan warna mataharinya berbeda. The sky was beautiful this afternoon, so I do what I had to do: sitting outside, in my front porch, staring at the golden Sun rays.  Jingga keemasan dengan udara dingin bekas hujan sisa kemarin. Kenapa saat mau ditinggal, sesuatu jadi berlipat indahnya? Manusia memang tidak di desain untuk akrab dengan perubahan, makanya mungkin kita cenderung untuk menghindari perubahan. Ingin semua tetap sama, selalu pada tempatnya, seperti kemarin, dan kemarinnya lagi. Padahal dunia tidak sesempit tembok kamar. Perubahan memang menakutkan, apalagi jika dihadapi sendirian. Tapi.. bukankah kita tidak pernah benar-benar sendirian? At this point of my life, I wanna make the most of my favorite thing I've been built for the last three years; enjoying my afternoon staring at the Sky, watching the golden Sun rays faded away, darken as it sunk. I don't know how long will I have this view, or how

Sapu Lidi

  Kalau aku bilang “benda berkomunikasi dengan kita,” kamu percaya gak? Tadi sore selepas mengajak Papa dan adik saya makan siang di luar, kami pulang melewati pertigaan lampu merah Baranangsiang. Seperti biasa, pertigaan itu diramaikan oleh penjual yang menjajakan bermacam dagangan. Kadang tahu, kacang, bantal sandaran kursi,.. kali ini yang dijajakan adalah sapu lidi dan tongkat e-toll. Tapi yang lebih banyak disodorkan adalah sapu lidi. Salah satu penjaja tersebut menyodorkan sapu lidi dekat sekali dengan jendela saya, seperti mode zoom in. Selintas saya langsung teringat sapu lidi di rumah.. satu-satunya dan dibeli sudah lama sekali, sekitar hampir sembilan tahun lalu waktu masih nge-kost di Cibanteng. Saat itu saya hanya tersenyum. Sudah lama juga tidak beli sapu lidi. Malamnya, setelah makan malam yang singkat, kami tenggelam dalam rutinitas masing-masing. Saya memulai rutinitas sebelum tidur dengan membersihkan badan, cuci muka, sikat gigi dan ganti baju tidur. Tapi baru saja be

What if I die in Bali?

  Waktu kecil saya sering melihat mama duduk sendirian di kursi. Tidak membaca, tidak menonton. Hanya duduk menatap lantai. Keluarga kami memang bukan keluarga yang mewah, tapi kami punya semua yang kami butuhkan dalam kategori ‘cukup’. Maka saya pikir, apa yang ada di pikiran Mama? Apakah ia sedang khawatir akan sesuatu? Tapi apa yang beliau khawatirkan? Keluarga kami baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Belakangan sejak pandemi saya jadi mengerti kebiasaan duduk sendirian tersebut. Duduk diam hanya menatap lantai atau dinding. Bukan berarti sedang khawatir atau memikirkan sesuatu yang berat. Hanya duduk dan “mendengarkan diri sendiri”. Larut dalam pikiran, tentang rencana maupun masa lalu, tentang mimpi maupun menu makan malam. Sore ini setelah langit mulai menyuarakan suara guntur, saya menyudahi pekerjaan. Duduk di area kerja seperti biasa, sudut rumah yang mestinya berisikan sofa ruang tamu. Masa bodoh denga tamu, area tersebut saya pakai untuk ruang kerja karena dekat jendela. Toh

Conscious Decision

  Kapan terakhir kali kamu membuat keputusan besar dalam hidup? Bagaimana perasaanmu saat mengambil keputusan itu? Pernahkah kamu melihat ke belakang telah mengambil atau tidak mengambil keputusan tersebut? *** Sejak Eyang meninggal Bulan Mei lalu, hidup kami berubah drastis. Bukan karena kepergiannya, kepergian beliau hanyalah penanda. Karena pergi atau tidak pergi, perubahan ini pasti terjadi. Hanya saja Tuhan seperti menandai dengan bookmark khusus untuk halaman ini, membuka lembar baru setelah ia memulai kehidupannya yang baru. Adik ku yang paling kecil kini masuk SMA. Dia masih bayi merah berusia dua bulan saat dulu kutinggalkan untuk masuk SMA. Adikku yang ketiga kini masuk kuliah, walau daring, tetap saja berubah status jadi mahasiswa. Dan aku? Saat aku sudah benar-benar tidak tahan dengan segala pola yang terjadi di pekerjaan, Tuhan membukakan sebuah pintu untukku. Pintu yang mungkin dulu pernah kupinta, tapi lupa. Sebuah pekerjaan baru datang menyapa, kusambut dengan sigap. Me