Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2021

Walls up!

  I'm in the middle of watching Modern Family S7 E7 when it hits me. I realise something about the walls we build as an adult.  Orang dewasa cenderung sulit dipahami, kadang mereka mengambil keputusan yang membuat kening masyarakat berkerut. Seperti level pembatasan sosial alias ppkm alias lockdown.  Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak hal yang dia kubur rapat-rapat. Hal-hal tersebut membawa dia ke arah yang aman bagi dirinya, dan dia ingin melindungi diri dari apa yang sudah dikuburnya itu. Banyak hal yang orang dewasa kubur; trauma masa kecil, rasa pengabaian, terasing, yang semua mengarah pada insecurity. Orang dewasa takut menghadapi sisi gelap mereka, sehingga mereka tutupi itu semua dengan dinding yang tinggi dan tebal sekali. Akibatnya, jika mereka mengambil keputusan, dan keputusan itu aneh, mereka tidak mampu untuk membubuhkan alasan dan menutupinya dengan diam. Komunikasi memang kunci dari semua masalah. Komunikasi adalah sumber masalah sekaligus juga obatnya.

Almost 30

  Looking back.. this month last year, adalah saat di mana saya menemukan momentum yang lumayan membelokkan arah hidup. Idul Adha jadi penanda, karena selama empat bulan saya berdiam diri di rumah, sendirian, dan benar-benar tidak keluar pagar. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk mengunjungi Eyang setiap bulan secara rutin, yang saya wujudkan. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk pergi ke pantai, mengajak seorang teman, dan melepas tuntas perasaan yang sudah membelenggu selama empat tahun lamanya. Setelah itu.. saya jadi orang baru. Orang yang tidak peduli lagi akan detail remeh temeh. Orang yang tidak peduli dengan drama, dan masa bodoh dengan apapun anggapan orang lain. Saya tidak lagi peduli jika sikap saya dianggap menyebalkan, jika saya sedang tidak mau melakukan sesuatu, I say it loud and clear.. but not that loud.. you know.. Karena setelah perjalanan ke pantai di area Pelabuhan Ratu itu, pulangnya saya melihat sebuah postingan yang seakan menjawab pertanyaan yang memenuh

Melepaskan Keterikatan

  Setahun yang lalu, Idul Adha menjadi pembuka jalan bagi saya berlepas diri dari kegalauan soal hati. Perasaan yg saya bawa selama empat tahun lamanya, yang membuat saya lari jauh ke Raijua hanya agar bisa mengakuinya, mulai menemukan titik akhir di Idul Adha 2020. Bukan tanpa usaha, selepas hari yang penuh bahagia itu, saya memutuskan untuk pergi ke pantai. Selama empat bulan lamanya berdiam diri di rumah, akhirnya dua perjalanan itulah yang melepaskan saya dari angan perasaan yang tidak pernah menjanjikan nyata. *** Langit sore masih memanjakan mata, unjuk kebolehan dengan sempurnanya matahari yang hendak tenggelam. Saya kembali membelah jalanan Pantura sendirian. Ditemani musik pun tidak. Saya hanya ingin hening, berdua dengan Sang Surya, setelah merasakan sendiri betapa sementaranya hidup ini. Pemakaman yang biasa saya lalui begitu saja, kini sudah dihuni dengan seseorang yang saya kenal-dan saya cintai. Kini, setiap kali melalui area itu, saya memelankan laju mobil dan berbisik..

Liberating Decisions

  Everyday in our life, we are all demanded to make decisions. Simple decisions such what to eat or what to wear might not be a big deal. As we grow older, we met a lot of intersections. Each of them brought to a whole different kind of life. I just make my one big decision two days ago. And here's my story. *** Five years ago I officially broke up with my boyfriend. That was a pretty serious relationship I've ever had, because we were about to get married. Since we were decided to stay with each other forever, we took our first big decision: buy a motorbike together. We were agreed that the motorbike is under his name, but I'm the one who pay for it, so basically it's mine. Two years after we broke up, I decided to sell that motorbike. Because I'm weak for paper work. I hate doing the paper work especially if it requires a contact with the ex.  Three years gone by, I live my life very peacefully without any ride parking at my garage. I enjoy taking online transport

Bagaimana kabarmu?

Jika duniamu dan duniaku sama, maka dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Sosial media yang biasa menjadi penglipur lara, kini justru menjadi penimbul duka. Berita kematian silih berganti, menyisakan lubang gelap di dalam hati. Kian lama kian membesar, membuat langit biru bersih nan cerah pun tidak sanggup menyinarinya. Kita kini tengah hidup di dalam bayang-bayang ketakutan. Ketakutan akan esok hari yang datang. Nama siapakah yang akan melintas di dalam pesan itu? Akankah seseorang yang kita kenal? Atau justru.. nama kita? Cekaman ekonomi terus menghantui. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan kita kini bergantung pada pekerjaan yang mungkin tidak kita senangi. Yang menyisakan tangis di setiap akhir hari, karena berhenti.. tentu bukan pilihan. Kini kita tengah lelah untuk berpura bahagia. Berpura bahwa semua ini akan baik-baik saja. Berhenti menggantungkan harapan pada tahun yang akan datang. Kenapa? Sama saja. Toh kemarin pun kita berharap pada tahun berikut, agar dapat melambaika

Relax, Baby. You’re doing great

  In this life, there’s always people who admire you silently. They’ll copy you, without telling you. Ever. Their ego will get in the way, and that’s okay. You don’t need validation for what you’re doing. Whether it’s right or not, it’s not theirs to judge. You don’t need people telling you you’re doing great. Because you are. You see.. life is not a battle between you and other people. It’s about you, your ego, and your goal. Focus on your goal, let people do what they do even if they start to be an imitation of what you are.. just let them. Live freely. Live authentically. They are silently doing what you’re doing. They’re just helping you to not be too full of it. And if you hate them, throw that feeling away. Your anger, emotions, things that sets you on fire, should be really important that will lead you to your goal. Remember.. it’s your goal that you only have to focus on. Now.. Keep doing.. you. *** Bogor, July 10 2021 And keep your friends close, yes. Friends and families are

M for Mother

  Kalau ada yang bilang "ih jadi orang jangan terlalu pemilih.. udah jalanin aja" kamu harus bisa berpikir kritis terhadap pernyataan semacam ini. Saya tidak akan bilang pernyataan ini salah, tapi juga tidak akan membenarkan orang yang ngomong gini di depan muka saya. Tapi memang betul, hidup harus dijalanin saja, asal pilihan itu memang sudah kita ambil dengan penuh kesadaran. Bahkan pilihan yang diambil secara hati-hati pun di tengah jalan pasti ada saja konfliknya. Saya tidak mau kalian menderita karena salah pilih dan menyesali setiap detiknya dengan bilang "Kalau saja waktu itu saya tidak berpikir begini.. pasti saya akan pilih yang itu.. " karena itu adalah kalimat favoritnya setan. Seorang ibu adalah orang yang terus menerus harus menentukan pilihan. Dari yang sifatnya keseharian seperti sandang dan pangan, sampai hal-hal berat lain untuk keluarganya. Untuk itu, penting bagi perempuan agar bisa mengenal dirinya sendiri dan memahami cara mengambil keputusan se

F for Father

  Saya tidak percaya adanya kebetulan, karena apapun yang terjadi dalam hidup kita di dunia ini memang sudah dirancang. Jika rasanya seperti kebetulan, ya karena Sang Perancangnya Maha Teliti, tahu kapan waktu yang tepat untuk membuat kita merasa sesuatu dan menghadirkan jawabannya dari arah tak terduga. Sering sekali saya mengalami kejadian seperti ini: terlibat dalam pertanyaan yang dalam dan rumit, sampai tidak tahu bagaimana harus mencari jawabannya. Lalu saya buka sosial media, youtube atau apalah, dan melintaslah jawaban itu dalam bentuk video atau kalimat sederhana. Hal ini terlalu sering terjadi, sampai saya menyangka AI tidak lagi dirancang untuk mendengarkan manusia tapi juga memahami jalan pikirannya. Mungkin ada frekuensi tertentu yang terbentuk saat otak sedang memikirkan sesuatu yang bisa ditangkap oleh vibrasi magnetik dari alat elektronik dan menerjemahkannya ke dalam algoritma yang menghadirkan topik relevan untuk kita nikmati. Malam ini sebuah film muncul di laman str

Fear of Rejection

  I understand now why it's hard for me to start or keep a relationship. Because every time things are hard with me, my parents' decision is to either leave me or put me away from home. I know abandon is a harsh word, but it felt like one. They'd rather move out than have a tough conversation with me. They never asked why I behave a certain way, let alone asked what I want. That's how I develop a fear. Fear of rejection. Fear that if I'm acting out, people I care, will go and leave me. I was so scared for another rejection, so I try hard on my last relationship, keeping it floating for five years and a half. I remember he was using this as a threat "if you're not gonna change, I will leave you," and then I started to change my bad behaviour, being a good girl for him, and it only lasted for two months before I entirely gave up and slowly see my worth. Since then, I learn to open the door to everyone who is leaving me. Now that I'm in my healing jou

Acceptance, Contentment

  Teruntuk teman-temanku tersayang, ijinkan aku mengingatkan kita semua tentang satu hal, bahwa  apa yang kita tidak miliki sekarang, bukan jaminan kebahagiaan. Jangan tunggu untuk memiliki yang tidak ada hanya agar bahagia. Bukan di situ letak bahagia itu. *** Pukul lima sore adalah waktu favorit saya untuk nyetir di jalan besar. Pantura-Cikampek khususnya, karena pada jam itu, matahari sedang menunjukkan kebolehannya. Bersinar teduh namun tegas, bulat sempurna kemerahan warnanya dan berada tepat di depan mata kita.  Perjalanan menuju Bogor sore tadi amat dimanja oleh matahari yang seperti di lukisan-lukisan mahal atau hasil karya fotografer ternama. Sungguh hati ini meronta ingin menghentikan laju mobil, berdiri di tengah jalan, mengangkat kamera dan membidiknya. Indah jingga cahayanya, tunggal di tengah langit luas kelabu. Sesekali dia berada di atas pepohonan, layaknya adegan dramatis cuplikan film perjalanan. Hingga saya menyaksikannya tenggelam. Dari ketinggian jalan tol layang,