Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

Ramon (2) [Fiksi]

"Told you, I'd be back differently,." aku bersenandung begitu memasuki ruangan putih abu-abu yang sama yang kutinggalkan lima belas hari lalu. Aku tidak tahu bahwa perubahannya akan sedrastis ini, one kiss is all it takes to turn my life upside down. Aku masih senyum-senyum sendiri sambil menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhku. Ingatan akan ciuman kami yang pertama, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya terus berputar berulang-ulang di kepalaku, membuatku enggan melakukan apa-apa. Tidak unpacking, tidak membersihkan badan, hanya mengganti baju dengan selembar kain seadanya yang kutarik sembarangan dari dalam lemari, lalu melemparkan tubuh ke kasur yang empuk.

"I got a boyfriend, now.." bisikku pada teddy bear coklat besar yang kuberi nama Brownie. Dia diam tersenyum seperti biasa. Memang hanya itu ekspresi yang dia punya.

Aku memejamkan mata, membayangkan senyum tipis Ramon yang sangat aku idolakan. Membayangkan canda tawanya yang garing tapi selalu berha…

Ramon, [Fiksi]

"It'll only be fifteen days. Fifteen, and I'll be back differently..." aku bergumam sebelum menutup pintu kamar, memakai sepatu, dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu.

***

"Kalau semua hal yang kamu alami dan rasakan di sepanjang perjalanan ini kamu bagi-bagi di media sosial, apa yang tersisa untukmu memaknai pelajarannya?" Ramon bertanya dengan nada datar. Aku yang sedari tadi sibuk memotret laut dan buih ombak refleks menurunkan ponsel dan menoleh ke arahnya,
"Banyak." jawabku singkat, lalu kembali sibuk mengambil gambar. Ramon masih berdiri di sebelahku sambil memandang lurus ke garis batas pertemuan antara langit dan laut. Dalam hal ini kami berdua sepakat, bahwa garis ilusi itulah yang membuat kita tetap hidup. Sepasang pembawa acara petualangan di televisi, yang hidup dengan bepergian ke tempat-tempat eksotis yang jarang dikunjungi orang.

Aku mengenal Ramon sejak tiga tahun yang lalu, saat pertama kali acara ini mulai dicetuskan dan d…

Into the Unknown

Kabut asap menyambut begitu kami menyentuh landasan dengan guncangan hebat. Badan pesawat sempat oleng, membuat sebagian penumpang memekik tertahan. Tapi aku tidak. Karena aku sudah berlatih untuk selalu biasa saja. Ah.. biasa saja. Toh paling mati. Mati kan pasti. Begitu yang ada di pikiranku, sembari membisikkan kalimat oengingat kepada-Nya.
Ada rencana yang tidak sesuai dengan kenyataan, Ada kendala yang tidak diperhitungkan, Segalanya seolah tumpuk carut marut membuat saya bertanya sendiri.. ini ada apa? Kenapa seolah-olah semuanya seperti menekan emosi saya seperti pressed juice yang sedang mengeluarkan sari dan membuang sepah? Lalu kabut asap mulai menggerogoti fisik saya. Demam tertahan, kepala berat seperti dihantam godam, harus saya tutupi semua dibalik pipi memerah oleh blush on yang hampir habis. Apa ini, ada apa?
Rupa-rupanya jika saya sigap membaca, Ini adalah tanda perumpamaan. A parable for the thinkers. This is what life looked like. Rencana yang dibayangkan akan begitu indah, t…

Serahkan hatimu dan hatinya hanya pada Dia

Masih ingat setahun lalu, kali terakhir turun ke lapangan utk penilaian area bernilai konservasi tinggi dan kawan-kawannya, saya mengalami emotional pressure yang sangat dalam. Bagi orang yang tidak bisa bersikap biasa saja terhadap situasi penuh emosi, field assessment rasanya seperti neraka. Saya hanya bertahan kurang lebih tiga tahun sebelum memutuskan untuk berhenti selama setahun. Dan hari ini, kali pertama saya mulai turun lapangan lagi setelah setahun menata diri memperbaiki emosi.
Pagi tadi sekitar pukul tiga saya terbangun oleh pesan text di layar ponsel yang cukup membuat kening berkerut. Singkat cerita, teman sekamar memutuskan untuk pindah kamar dan karena saya sudah tidur saat dia kembali, jadi dia pergi dengan membawa seluruh barang-barangnya dan mengunci pintu dari luar. Demi keamanan saya tentu saja.
Ditinggal pergi seperti itu nampaknya biasa saja ya. Tapi lain cerita kalau pagi itu saya bangun dengan badan tidak karuan, efek kabut asap membuat tenggorokan dan hidung sa…

[Fiksi] Libur

Tira, ibu rumah tangga dari keluarga kelas menengah ke bawah biasa, sedang sibuk menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan berangkat ke luar kota demi mengemban tugas sebagai seorang abdi negara. Baju-baju pilihan ditumpuk di sisi kanan, celana di sisi kiri, pakaian dalam, dasi, baju santai, semua disusun rapi sebelum dilipat kecil-kecil agar muat di dalam koper.
Sepanjang malam Tira sudah menyusun dalam pikirannya baju mana saja yang akan dia kemas. Warnanya, pasangan celananya, dan printilan lain semacam sabun, pasta gigi, shaving cream, obat-obatan. Pikirannya sibuk mengemasi barang-barang agar semua bisa langsung dia lakukan di pagi hari. Tentu setelah memasak sarapan, menyiapkan bekal untuk si bungsu, membersihkan rumah, dan menyiapkan kebutuhan suaminya pagi itu.
Tira sudah biasa melakoni perannya sebagai ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja. Sebelas tahun menikah, dan kota terjauh yang pernah dia sambangi hanyalah Yogyakarta. Itupun hanya tiga hari, karena budget mereka…

[Fiksi] Hello, Stranger!

Tugas kuliah makin lama makin menumpuk. Aku sudah kehabisan keluh kesah untuk menggambarkan betapa aku benci rutinitas ini. Kalau bukan demi orang tua yang sudah rela-rela membayarkan uang kuliah, dari kemarin aku pasti sudah hengkang dan melamar jadi pramusaji restoran pizza. Huh! Kenapa juga harus ada perkuliahan sebagai standar kecerdasan seseorang. Aku sebal.
Aku menyusuri tumpukan buku di perpustakaan yang berdebu. Layar monitor pencarian mengarahkanku ke rak ini, rak yang asing untuk aku kunjungi. Sulit sekali membaca kode-kode yang ditulis kecil-kecil itu. Aku harus memicingkan mata, memiring-miringkan kepala, seperti detektif yang sedang meniti barang bukti.
Brukk! Setumpuk buku berjatuhan tepat di belakangku. Seorang mahasiswa terlonjak kaget, kami beradu tatap. Detik itu juga, jantungku seperti berhenti. Ya Tuhan.. he’s the one. Keyakinan konyol itu datang seketika, seperti adegan soap opera, aku sudah memutuskan untuk jatuh cinta.
Seorang pemuda berkulit gelap, bertubuh tinggi …

Little Girl and The Wind

“I wanna leave..” said a little girl with a tiny voice. Her eyes wide open filled with fears.“But.. where to?” The Wind swirled by when he says “you have nowhere to go” “Somewhere far.. somewhere new..” the little girl is almost cried, “somewhere with stars, where I dont have to be alone” “You’re not alone here. You have me” The Wind swirls and twirls. “Yes, but you barely here. You go places and come back after a very long time” The Wind silence, for he has no answer to that. He knew that he could stay, if he would. “The world is unsafe out there” The Wind finally says.. But the little girl doesn’t hear what he says. She packed her stuff and tried to stand up. She wanna leave She wanna find a friend, or a family. One that will never leave her ever. She wanna meet the stars, She wanna see the sea She’s leaving The little girl is leaving

Ekonomi sedang lesu

Itu benar. Ternyata yang terjadi di film Default itu bisa saja sedang terjadi di kita sekarang. Mana kan Indonesia sudah bebas dari IMF. Capek juga kalau begini terus. Tapi kalau ekonomi sedang lesu, respon kita jangan ikut lesu. Tetap putar otak sekreatif mungkin untuk bisa bertahan hidup. Ayo ayo ayo chop chop!

Kelindan Pikiran

Aku takut.Jari yang kemarin teriris, hari ini berdarah lagi karena aku memaksa mengganti sprei demi mengusir mimpi-mimpi buruk. Sudah lama aku tidak mempraktikkan decluttering sebagai cara menghilangkan energi negatif di rumah ini, makanya aku belakangan sering mimpi buruk.
Tapi aku takut. Aku tahu Tuhanku tahu sampai kapan aku bisa kuat menahan ketakutan-ketakutan ini sendirian. Makanya aku berusaha untuk kuat dan tidak malah semakin menakut-nakuti diri sendiri. Walau suara-suara di dalam kepala berkata sebaliknya.
Sepi itu menyenangkan, Sendirian itu istimewa. Tapi aku tidak ingin keasikan Hingga lupa dengan tujuan
Aku perempuan Tugasku adalah menjadi teman, pendamping, sekaligus pelayan Bantah aku jika memang kau benar, tapi ini pendapat yang tidak bisa ditawar. *** Bogor, besok Senin

Tempatnya Masa Lalu itu, dibelakang!

Bahayanya gak ngapa-ngapain seharian itu sangat fatal. Akibatnya bisa melipir kemana-mana, termasuk stalkingin akun instagram istrinya mantan. Bukan bermaksud untuk membandingkan, apalagi untuk iri dengki mereka sudah menikah, No No Big No. Sungguh hanya sebuah keisengan semata saking udah bingungnya mau membunuh waktu dengan cara apalagi. Udah capek ketawa gara2 Vincent-Desta dari pagi.
Kesimpulan dari hasil stalk akun instagram istrinya mantan adalah; ternyata mantan saya menikahi seorang perempuan yang kelakuannya PERSIS dengan saya waktu dulu, semasa kita pertama kali pacaran. Berarti polanya dia berulang. Ya Allah amit2 jangan sampai pola saya berulang.
Tapi saya yakin pasti tidak. Karena selain sudah 100% move on dari dia, saya juga sudah 100% move on dari karakter saya yang itu. Makanya frase I’m not that person anymore, ngena banget di hati saya. Makanya (juga) saya berusaha berjarak dari kehidupan masa lalu saya, karena tidak ingin bersapa dengan orang-orang yang masih mengangg…

Kaum Rebahan

Keluar kamar duduk di ruang tengah, rebahan.Keluar dari ruang tengah masuk kamar, rebahan. Youtube gak berhenti kecuali kalau Netflix yang lagi dimainkan.
Seharian begini cukup mungkin ya. Kalau tiga hari begini bisa mati otak saya.
Lyfe at Saturday

[Fiksi] Bunga

“Kita lihat bulan, yuk? Langitnya cerah sekali malam ini” ujarmu malam itu. Aku hanya termangu, terlalu malas untuk bergerak keluar rumah.“Untuk apa?” Sahutku tanpa melepaskan pandangan dari layar ponsel. Kamu bangkit berdiri, membuka pintu kamar dan mengenakan jaket pink kesukaanmu. “Ayo. Pokoknya ayo!” Setengah hati kupaksakan duduk, berdiri dan mengikuti langkahmu.
Ada sebuah taman di dekat rumah tempat kita tinggal. Taman itu sengaja dibuat menghadap ke langit lepas, dengan hamparan kerlip lampu rumah-rumah kecil yang berdesakan. Kalau malam tampak rupawan, karena atap kusam dan genteng serampangan itu tertutupi dengan sempurna.
Kamu memang perempuan yang jarang meminta sesuatu, karena hanya hal-hal seperti ini yang kamu inginkan. Duduk memandangi bintang, bulan, dan laut. Ya.. aku tidak akan pernah lupa betapa kamu sangat mencintai laut.
Tapi pekerjaan membuatku begitu malas. Begitu lelah sampai-sampai rasanya pulang ke rumah hanyalah untuk tidur dan beristirahat. Lupa bahwa kamu sepan…

A life lesson from a wrecked love life

BismillahirrahmanirrohimAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
I whisper to my self as I stepped into the house, one that I just learned from countless series of youtube videos I’ve been watching lately.
Say basmalah and salam when you stepped into the house, because then syaithan will all escape from the house and have nowhere to rest nor nothing to eat.”
I took a deep breathe while switching on the lamps. It was almost dark, and I just got home. As always. Another day, another same old story. The weekend is getting closer, and I have nothing on my to do list (for the weekend).
I put my bag on the floor, walk straight into the kitchen because I forgot to take out the trash this morning. Hmm, I thought these will be like my ex(s). Take himself out. I can imagine my face while doing all the routine: poker-squidward-kind of face with two dashes as eyes.
I lock the gate, lock the doors, and I have like.. three layers of door, before I am completely alone. Surrounded by four walls I’ve bu…

My mystery guy, where art thou?

Someone who would speak song lyric to me,One who will understand the meaning of a song when I ask him to listen to it Not one who put his confused face when I play him my playlist And never get any feeling of it
Someone who will understand, not just the lyric or the music, but the feeling I try to bring
Someone who understand my silence Or my disappointment face even without telling
Someone who need my arms when weather is bad And need my shoulders when the crisis striked up
Someone who will make me feel needed And wanted And loved And needed
That someone is so special So Allah makes me wait until I am worth his time
That someone is a diamond That Allah still keep him a secret
Until he found me Or I found him Or we found each other And decided to be together
Let me pass this silent nights alone with my thought Contemplating on the purposes of life Because I know The time we decide to be together, We will only have busy nights
Lol
*** Bogor, October 1st Dear head, Rest!