Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

#6 Light [Fiksi]

Jenny duduk menyandarkan punggunya ke sandaran kursi batu yang berhadapan dengan patung Laksmana Cheng Ho yang berdiri gagah di depan Klenteng Sam Poo Kong. Di sinilah dulu dia dan Aditya -lelaki yang merasuki pikirannya selama bertahun-tahun- kerap menghabiskan waktu saat sedang liputan di Semarang.

Meski matahari menyengat dengan amat terik, Jenny tidak keberatan duduk di situ karena letaknya yang dipayungi oleh pohon rindang yang menyajikan belaian angin sepoi-sepoi. Dia menenggak minuman dingin yang dibelinya di pedagang asongan sebelum memasuki klenteng. Lagi-lagi bergulat dengan pikirannya, sembil memandang lurus Laksmana Cheng Ho seolah menuntut jawaban.

'Am I crazy' ujarnya bertanya pada diri sendiri 'I quit my job, I spend days in this town, waiting for him to text me first.. which I know that never gonna happen..' 

Lamunan Jenny melambung jauh ke hari-hari yang dia habiskan dengan Aditya. Memang dia tidak pernah menjanjikan apapun pada Jenny, hubungan mereka b…

Advise of the Year

Life is a series of test that will never stop until we’re done. To test our response to all that The Universe has given, good or bad. One test to another, we will always filled with exhaustion. Many kinds of exhaustion. Financial, emotional, psychological,. Just to see how strongly we hold onto this religion. The stronger we claw, the harder the test, the greater the reward. And in the end, everything will be rewarded carefully. Every bit of it, because The Almighty won’t miss even for the smallest seed.
Don’t wish for an easier year, because you’ll be disappointed. Life will never be easier, unless we learn how to train our mind that these all just temporary. Every thing will end eventually. And so are we. So in an attempt to living life while waiting for death., let’s make every day count by doing some good deeds.
Bogor, December 28th 2019 And the deed is not for Him, its for you. He doesn’t need anything from us. We’re doing this for our self because we need it, to heal our heart and t…

#5 Jenny (2) [Fiksi]

Berita tentang resign nya Jenny tentu mengejutkan bagi tiga sahabatnya, termasuk Nadhira. Dia tidak berhenti mengecek keadaan Jenny setiap saat, bahkan sebelum tidur.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya, beb" tulisnya melalui pesan singkat
"Iya beb, :)"
"I love you,"
"Love you, too.."
"Jijik ya kita,"
"Bangett"
":D"

Meski demikian Nadhira sangat paham dengan cara berpikir Jenny. Walau kesannya impulsive, tapi tindakan itu biasanya diambil setelah proses pemikiran yang lumayan panjang, namun terpotong-potong. Misalnya, jika dia sudah bulat untuk resign, berarti pikiran tentang itu sudah lama terngiang di benaknya, namun belum pernah diseriusi. Biasanya, Jenny memang tidak pernah sempat menseriusi satu keputusan yang diambil untuk ditimbang masak-masak, karena keputusan itu hanya selintas melintas di benaknya, dan ketika momentnya tepat.. boom! Diambil keputusan itu. Kesannya sih memang setengah matang, tapi ya.. itu…

#4 Jenny [Fiksi]

Jenny mengemasi barang-barangnya, memasukkan alat tulis ke dalam tas --buku, pulpen, kertas binder-- menyambar ponsel dan berjalan cepat keluar gedung kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, artinya ia lagi-lagi terlambat untuk menonton serial kesayangannya setiba di apartemen nanti.

Ugh, bad Jenny! rutuknya dalam hati always like this, lose track of time when time is the only thing she has gerutunya pada diri sendiri. Secepat kilat ia memasuki mobil silver metalik kesayangannya dan bergegas keluar parkiran. Bagi seorang seperti Jenny, kesenangan menonton serial terletak pada ketepatan waktu dan originalitas tayangan. Bukan tayangan ulang, atau video hasil unduhan. Harus ditonton tepat pada saat tayang, sehingga dia menjadi bagian dari golongan orang-orang yang pertama kali mengetahui ceritanya.
Tentu saja bagi Rain atau Dee, hal seperti ini sudah terlalu sepele. Jenny pun tidak ingin membandingkan kehidupannya dengan mereka, apa yang penting baginya adalah remeh bagi mereka. Pun…

#3 Apa yang kamu cari, Rain? [Fiksi]

"Now, spill!" Jenny berkata dengan nada memerintah. Semua wajah yang sudah hadir dalam konferensi virtual itu terkikik geli, pasalnya mereka baru saja terhubung semua dengan lengkap, setelah beberapa menit saling tunggu.
"Mulai dari cara doi melamar, please" pinta seorang yang lain. Yang diminta malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, setengah malu setengah antusias.
"Jadii..." Dee berkata lamat-lamat "dia berlutut dengan satu kaki... and then.. he said the four magic words..." semua yang hadir di layar itu --termasuk Rain-- ikut menahan napas, memekik pelan, dengan ekspresi masing-masing yang ditahan.

Rutinitas video call ini merupakan agenda wajib bagi Rain dan keempat sahabatnya semenjak mereka lulus kuliah. Kebetulan Dee dan Rain selepas SMA, juga memasuki kampus yang sama di mana mereka bertemu Jenny dan Nadhira. Persahabatan mereka terbilang cukup unik, karena berasal dari fakultas berbeda. Dipertemukan secara tidak sengaja ole…

Baby Names

Four or five years ago, I started reading The Quran, after quiet a while drowned into some mundane-lame-activities. But my only intention was to find a baby name. Because I was about to get married and I want my kid to be named after some words in The Quran. Eventhough I was nothing of a religious person, I only have a few knowledge about Islam from highschool but not really absorbed it to my skin and bone.
I read the whole Quran and its translation, page by page, night after night and when I finished (or khatam), I found nothing. No names that I can use.. nothing. So I started to think of other way., (google included). Because of all the idea of marriages, the thought of having a baby and give him/her a name, is a lot more exciting.
I didn’t know then.. that the marriage didn’t happen. Nor that I would imagine that I would stay single for almost four years now. All I know is.. I have following a strange path.. which felt so familiar, that I cant help but to cry gracefully.
Hoping from o…

#2 Rain [Fiksi]

"Raaaiiinnn...." teriak seorang perempuan dengan antusias begitu wajah Rain muncul di layar ponselnya. Rain tersenyum lebar sambil berulang kali  membetulkan letak ponsel, menimbulkan goncangan-goncangan di video mereka.
"Dee..!" Rain balas menyapa setelah ponselnya berhasil tegak berdiri "kamu lagi di mana?"
Suara musik bising melatari suara di seberang sana. Dee, sahabat Rain sejak SMA, meneleponnya dengan bersemangat. Meminta Rain untuk video call, walau hanya lima menit. Dee tahu, sejak pindah ke kota kecil, Rain sudah tidak pernah lagi begadang. Lewat pukul sembilan, chat pun sudah tidak dibalas, jadi dia harus mewanti-wanti supaya Rain mau mengangkat telponnya.

"Raiinnn...!" teriak Dee lagi kini matanya mulai berkaca-kaca "Rommy.. proposed...." Dee menutup mulutnya dengan tangan yang kini dilingkari oleh cincin di jari manis. Rain ikut menutup mulutnya, terbelalak dan terharu. Dee terlihat sangat cantik malam itu, riasan minimali…

Dan

Dan Laut yang menemanimu menulis,Hujan yang menemanimu membaca. Pada tebing tinggi yang ingin kau gapai nanti, Kuatkan diri wahai hati.  Dunia ini hanya sebuah short visit, karna kau pasti mati.

#1 Biru [Fiksi]

“Rain, aku sudah memutuskan..” Biru memandangi wajah istrinya yang tengah asyik menyesap kopi sambil menekuni buku tebal bersampul hitam “bulan depan, kita pindah dari sini.. aku sudah membeli sebuah rumah di dekat laut, dan rumah ini akan dihuni oleh pemilik yang baru..”

Rain yang belum sepenuhnya mencerna kalimat sang suami, terdiam mematung. Jantungnya berdegup kencang, seperti hendak melonjak keluar saking senangnya. Setelah beberapa detik akhirnya ia bisa memandangi wajah suaminya. “Kamu serius?” Bisiknya pelan. Biru mengangguk. Rain menutup buku tebalnya, menghambur ke pelukan Biru. Tangisnya berderai. Ia bahagia.. sekaligus juga tidak percaya. “Terima kasih.. terima kasih..” ujarnya pelan, masih menangis sambil tertawa-tawa. Biru memeluk Rain lebih erat. Ada haru yang membuncah di dadanya, juga gelombang gugup yang tiba-tiba menyerang.
Rain sudah lama ingin pindah. Menjauh dari bising kota, menepi ke rumah mungil yang bertetangga dengan angkasa. Tapi karir Biru menuntutnya untu…

An Obedient Young Lady

If there’s one special thing 2019 has taught me, is to be an obedient young lady. Obedience has never been my strong suit, but now I realised that not every question is healthy. And Leaders are made for the followers to follow.
Because people always have critiques in their mind. But not everyone are CAPABLE or have some relevance to have criticism. In this free world that we’re livin in, they called it as human rights which shouldn’t be violated.
Sometimes its untrue. Sometimes leader must lead. Sometimes follower must keep not knowing. There must be reasons why Allah kept lots of thing from us, so that we learn.. as a slave, not everything we DESERVE to know. 
Human is unique in their own way, that the time they were created, God asked the Angels to make sajdah for them. Which is why some people behave like this way, and others are that way. Uniqueness also means differences. One thing that applied to us, doesn’t mean will apply to others and vice versa. So it leads to one thing and one…

Gara-gara lagu Laskar Pelangi

“Mimpii.. adalah kunciUntuk kitaa.. menaklukkan dunia Berlarilah tanpa lelah Sampai engkau meraihnya...”
Mungkin karena liriknya yang memotivasi, Atau juga karena nadanya yang memantik semangat., Atau simply karena lagu ini adalah satu-satunya lagu yang bisa dimainkan oleh pemain gitar kami.. Saya kurang begitu ingat. Yang saya ingat, malam itu sembilan tahun yang lalu., kami mencoba peruntungan dengan ngamen di warung-warung tenda, Saras namanya. Dulu masih di sekitar Jalan Pajajaran, sekarang saya baru tahu kalau warung-warung tenda di Sudirman tempat saya makan tadi, itulah Saras yang sekarang.
Saya tahu dari mana? Dari abang Go-car yang mengantar saya kesana. “Saras ya, Bu?” Begitu katanya setelah saya berusaha menjelaskan bahwa walaupun tujuan di aplikasi ini adalah Bogor Permai, tapi yang sebenarnya saya maksud adalah warung-warung tenda itu. “Oh itu Saras ya? Yang dulu di Pajajaran pindah ke situ?” Supir itu hanya menggeleng tidak tahu. Kami diam hingga di tujuan.
Ada banyak hal yang b…

The True Happiness

Selama dua pekan terakhir, saya menenggelamkan diri dalam kesibukan yang Insya Allah berfaedah: menggali ilmu. Commuting setiap sore, pulang jelang tengah malam, demi mendapat pelajaran baru yang saya pun tidak tahu akan seperti apa bentuknya.

Ada dua kelas yang saya ikuti; kelas Bahasa Arab (ancient Arabic) yang membantu kami memahami Al-Quran bersama makna-maknanya agar tidak lost in translation, dan kelas Bahasa Inggris khususnya untuk persiapan IELTS. Kedua kelas itu saya ambil tanpa berpikir. Saya tidak berpikir bahwa saya ingin benar-benar mendalami Al-Quran atau ingin mendaftar kuliah ke luar negeri dalam waktu dekat, sama sekali tidak. Dua kelas itu saya ambil simply hanya untuk mengikuti kata hati, follow your heart, they say.. jadi saya ikuti.

Sebagai orang yang tidak pernah mengecap rutinitas commuting Bogor-Jakarta di rush hour, sepuluh hari terbayang akan lama sekali. Apalagi setelahnya dilanjut dengan empat hari commuting yang pulangnya benar-benar jam pulang kantor seme…

Breakfast in Tiffany..

A wild young lady looking out for money, abandoning love, because she’s afraid of love. She refuses the idea to be belong to each other.. she wanted to marry for money, but ends up marry for love.
Four words.. Is all it takes.
Will You Marry Me,
Even if with a cracker jack ring. A worthless bent iron. Love.. is beyond. No diamond can measure the amount of love that two people have. Its beautiful.. really beautiful.
Breakfast in Tiffany, And you should watch this with your loved one