Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2019

Parable(s) [Fiksi]

Aku sudah mati. Aku tahu aku sudah mati, karena aku bisa melihat tubuhku sendiri. Terbujur kaku di sana, diratapi oleh.. tunggu.. di mana Anita? Maria? Jason? Mana mereka? Kenapa malah hanya ada Diana? Kenapa malah si Andi yang ada di situ? Di mana sahabat-sahabatku?
‘Hei’ seseorang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh. Tania! Aku ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Tania, sahabat kecil ku yang meninggal saat kami baru berusia lima tahun. Aku memeluknya erat. Wajahnya berbeda sekali sekarang, sangat cantik, putih berseri. Semestinya aku tidak mengenali dia lagi, tapi entah mengapa aku tahu dialah Tania.
Tania tersenyum lembut, memelukku erat. Dia menggamit lenganku tak lama setelah melepas pelukan.
‘Tunggu’ aku ingin memberi isyarat, karena tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku. Aku ingin melihat orang-orang itu sekali lagi. Ingin tahu siapa saja yang sedih karena aku tinggalkan.
Tania menggeleng pelan, sorot matanya seolah berkata, tiada guna aku mematung…

Nada [Fiksi]

"Aku merindu kamu. Di sudut kafe, di pojok kamar, di jalanan, dan di ruang-ruang kantor. Tidak sedetik pun pikiran tentangmu lepas dari sini. Isi kepala yang dipenuhi bebayangmu sudah menjadi santapan sehari-hari. Semula aku pikir itu bahagia, lambat laun itu membuat sesak. Terlebih jika kubayangkan kau tengah bermesraan dengan orang lain kini. Atau lebih parah, dan ini yang ku amit-amitkan selalu di dalam hati; melihatmu berdiri di pelaminan bersama orang lain. Aku tidak mau. Sungguh aku memohon pada Tuhan, aku tidak mau. Pun kalau itu terjadi, aku ingin diberi kekuatan yang berlipat ganda dibanding dengan yang kumiliki saat ini. Aku tidak mau. Aku takut.
Tapi nampaknya Tuhan pun masih belum ingin memberikanmu untukku, masih ingin memberikan ruang sendiri bagiku dan bagimu, agar kita bisa saling memenuhi diri masing-masing, agar menjadi utuh sebelum bersatu. Padahal aku ingin.. ingin sekali.
Ingin selalu duduk di sampingmu, melihatmu mengguratkan garis demi garis dalam layar yang …

Dark Humour

My procrastination skill never ceases to amaze me. Especially when PMS meets the job that is too stupid (like reading wrong grammar, misspelling, ugly translation). I could procrastinate a work for three days which can be done for two hours (or three). Being a real dagger dodger also means I could give reasonable excuses when the employer asks for my work. Oh that's this data, its missing. I need to recheck with this guy, but he's out of office. Or.. this paper, it still needs further analysis that I will ask that guy over there sitting in the corner wearing a stupid scarf to answer it for us. And so on, and so forth.

I'm a dodger, who procrastinate, and I'm good at dramatically act when it comes to deadline.

My head! its exploding! Nooo... 

Lalu kepalanya meledak berceceran, karna dipasangi bom bunuh diri.

***
Sekian

Reset Button [Fiksi]

"You never loved me," dia berkata dengan dingin. Suaranya tenang, seolah tidak ada emosi di sana.
"Kenapa kamu bilang begitu?" nadanya tidak terima.
"Because you never loved me. I'm only good for your ego. Aku cukup membanggakan untuk kamu tunjukkan ke teman-teman dan keluargamu. Prestasiku, bisnisku, kreasiku, semua membuatmu bangga bisa menaklukkan perempuan seperti aku."
"Dengan cara apa aku harus meyakinkan kamu? Sudah lima tahun kita menikah dan.."
"And all you talk about is to make money!!" suaranya meninggi, nyaris menggebrak meja.

Pasangan itu duduk di sudut cafe, dengan musik mengalun merdu. Mestinya menjadi latar romantis sebuah adegan percintaan, ketika sepasang suami istri dengan fisik yang nyaris sempurna dan saling melengkapi satu sama lain, duduk berseberangan menikmati cokelat hangat dan caramel latte.

Pelayan datang membawakan sepiring penuh bola-bola ubi, meletakkan piring dengan canggung, lalu berlalu tanpa mengu…