Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2019

So this is the weird dream was all about

Pantas saja tadi malam tiba-tiba saya ingin menuliskan tulisan I remember. Alih-alih menuangkan pikiran tentang ketidak sinkronan perjuangan adik-adik mahasiswa, saya justru menye-menye mengenang sang mantan. Sebelum tertidur dan bermimpi aneh sekali. Mimpi yg tidak bisa saya katakan sebagai mimpi buruk, tapi tidak baik juga. Aneh saja.
Rupanya sore ini sebuah gambar melintas di halaman kenangan facebook. Sebuah penanda berakhirnya hubungan kami. Sebetulnya saya lupa tanggal berapa persisnya kami berpisah, padahal biasanya saya ingat semua tanggal. Yang saya ingat, saya sampaikan kalimat pisah itu di sana, di sebuah daerah di Kalimantan Tengah, malam-malam berdiri di depan rumah tempat kami menginap, dengan sinyal yang terbata-bata, meminta kami menyudahi hubungan ini.
Entah apa yang merasuki saya malam itu, yang jelas saya sudah tidak tahan lagi. Meski itu bukan kali pertama saya mengajukan pisah, tapi itu adalah satu-satunya ajuan yang tidak pernah saya tarik lagi. Saya tidak peduli b…

I remember..

I remember back in the days when I had a boyfriend. Last week was intense that some of my coworker started to remind me of him -unintentionally- (but I hate it) and I cant help but to hear.
Well, things are better now. And I’m truly grateful Allah has saved me from a wrong marriage.
Because now I remember.. How I used to like a man wears cap, but he never liked it. I bought him one, then he lost it. Even if he was truly apologizing, and I forgave, I was never again try to make him wear a cap. I tried to live with that., half-heartedly.
Then the political situation is getting hot. I was involved in some organisations that required me to read everything on the media. I got hooked by twitter, and started to fancy several things including smart guys out there. I really want my man to be a twitter savy, which.. he’s not. He’s in fact,. Doesn’t really care on what’s going on in the world. Nothing wrong with being realistic, but there’s a thin line between realistic and apathy, and I dont want t…

Azzam Perjuangan: Untuk Perempuan

September, 2019

Menjelang pergantian masa kepemimpinan, masyarakat dibuat resah oleh Rancangan Undang-Undang yang sepintas terlihat ngawur. Petaka bermunculan karena keresahan itu terbaca oleh pihak-pihak tukang gelitik, yang senang dengan kekacauan, didukung dengan budaya masyarakat minim baca tapi haus informasi, mengutip sumber dari media 280 karakter dan dijadikan referensi acuan untuk turun ke jalan.

Terus terang saya tidak suka dengan sikap pemerintah saat ini, yang terkesan tidak tegas, tidak memperlihatkan taring, dan seolah iya-iya saja pada semua pihak. Wajar publik menjadi gemas. Tapi yang tidak kalah menggemaskan adalah, aktivis-aktivis kampus yang sangat diharap-harapkan, ternyata tampil kurang yakin ketika dihadapkan dengan para pakar, profesor, dan perumus rancangan undang-undang yang mereka perdebatkan itu. Kenapa mereka kurang yakin? Sederhananya karena mereka kurang baca. Jadi kesan yang didapat oleh pikiran-pikiran tua yang sudah usang ini, adalah mereka turun ke ja…

Ini semua bermula dari sebuah jerawat

Satu bintik kecil di dahi, satu bintik kecil di lekukan hidung, dan beberapa bintik kecil bergerombol di garis rambut. Jerawat yang biasanya tidak ada, kini muncul tiba-tiba. Heran, pikirku geram. Sekali muncul kenapa banyak sekali.. kecil-kecil dan mengganggu. Memang tidak terlalu terlihat di bawah make up, tapi hadirnya yang bisa kurasakan cukup bisa membuat jariku sulit melepaskannya.
Memencet jerawat adalah favoritku. Dan aku tahu itu dilarang. Aku tahu semua yang menjadi kesukaanku selalu terlarang.
Hmm.. Aku mencoba berpikir muasal si jerawat-jerawat kecil ini. Muncul tiba-tiba dan langsung bergerombol.. boleh jadi karna faktor polusi. Terpapar udara Jakarta seharian penuh, apalagi di ruang terbuka, memang selalu membuatku sakit keesokan harinya. Belakangan baru kutahu, tingkat polusi di sana tinggi sekali.
Sepuluh tahun lalu saat kali pertama ku kembali ke pulau ini, dijemput oleh Om ku dari bandara, dalam hening mobil aku bergumam.. langitnya coklat. Karena aku sedang mencocokkan fa…

A Poetic Poem. (believe me)

I woke up..Another morning, another fresh start. I tried to smile, I tried to get up I sat I breathe To be fall again. Repeat
Its a good day, At least the wall say I took a shower The Sun hasn’t come up yet. I bathe I brush I humm
Beep beep A horn That’s my cue, I said I get up Grab my bag “Coming!” Said I to the driver
The city is busy Like it was yesterday And the day before And before And before (I can do it all day)
Two hours early We sat A bowl of soup with a weird taste Here’s to breakfast I cheer my self up Because.. Who else will
Meetings gone rough My phone couldn’t stop ringing I have to answer them all For they’re all as important as the climate change
Bad news One Bad news Two Bad news Three
Could it be stop, already? I was pissed Yet I cant pee
First meeting and its ugly But its okay, said the brain Its a good day, said the heart Well, yes yes! I cheer myself up Because.. Who will?
Under the heat And the clouded city How can a person live under a grey sky all day? Grey? That isn’t grey, said the brain It’s grey! Said the heart It…

Hi Mecca

Tulisan kali ini akan berisi hal yang sangat pribadi, lebih baik jangan baca kalau kamu hanya mencari fiksi.
*** Ada masa di mana manusia bertanya ‘untuk apa saya diciptakan?’ Lalu berkelana dalam jawaban yang mengawang-awang. Mencoba membayangkan entitas ketuhanan, sebagai segala mula dan muara segala akhir. Pada manusia yang menghendaki jawab, tanya itu akan mengambang. Sukar dicerna, apalagi di nalar.
Termasuk saya, seorang anak perempuan yang terlahir keras kepala. Berjiwa pemimpin, tapi tak punya pasukan. Selalu merasa ingin menang, tapi lemah terhadap bentakan. Saya bertumbuh besar dalam kubangan tanya. Kenapa Kami harus ada? 
Tanya yang membawa saya pada sebuah perjalanan. Perjalanan menemukan Tuhan, untuk kembali pulang dengan setangkup pelajaran. Saat itu saya pikir saya sudah punya cukup. Hingga ternyata, Tuhan saya kembali menghantamkan saya pada kenyataan demi kenyataan yang sulit sekali saya telan.
Proposal penelitian saya ditolak mentah-mentah. Sekali, dua kali, tidak berhent…

Ini alasan kenapa sendiri lebih baik

Jadi perempuan itu susah ya. Apalagi kalau sudah semakin berumur, dan kawan dekat sudah berkeluarga sedangkan dirinya belum.
Apalagi nih, kalau dia punya perasaan terhadap seseorang. Apalagii, kalau seseorang itu juga jadi satu-satunya orang yang paling mengisi hari-harinya, selalu ada jika dibutuhkan, dan seolah-olah memberi perhatian lebih.
Mau abai, takut dianggap tidak punya hati. Mau peduli, takut salah sangka sehingga jadi terlanjur berharap.. padahal si laki-laki merasa tidak pernah memberi harapan.
Susah memang, apalagi jika berhadapan dengan laki-laki yang ramah.. ramah dalam artian sering ajak bercanda, sering nge chat, sering nelpon tiba-tiba, tapi ternyata dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Kan si perempuan yg tadinya biasa saja, begitu sering ditanya-tanya tentang kesehariannya, begitu si laki-laki itu mengirimi kalimat sederhana tapi manis semisal hati-hati ya pulangnya, atau jangan kerja terus nanti cepet tua, atau istirahat dong, yang semacam-macam itu, …

Parable(s) [Fiksi]

Aku sudah mati. Aku tahu aku sudah mati, karena aku bisa melihat tubuhku sendiri. Terbujur kaku di sana, diratapi oleh.. tunggu.. di mana Anita? Maria? Jason? Mana mereka? Kenapa malah hanya ada Diana? Kenapa malah si Andi yang ada di situ? Di mana sahabat-sahabatku?
‘Hei’ seseorang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh. Tania! Aku ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Tania, sahabat kecil ku yang meninggal saat kami baru berusia lima tahun. Aku memeluknya erat. Wajahnya berbeda sekali sekarang, sangat cantik, putih berseri. Semestinya aku tidak mengenali dia lagi, tapi entah mengapa aku tahu dialah Tania.
Tania tersenyum lembut, memelukku erat. Dia menggamit lenganku tak lama setelah melepas pelukan.
‘Tunggu’ aku ingin memberi isyarat, karena tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku. Aku ingin melihat orang-orang itu sekali lagi. Ingin tahu siapa saja yang sedih karena aku tinggalkan.
Tania menggeleng pelan, sorot matanya seolah berkata, tiada guna aku mematung…

Friday, 13th. waktu yang tepat untuk bertanya

Bahkan untuk mengakui kesepian saja aku tidak mampu.Perlu waktu, dan orang yang benar-benar bisa hadir di depan mata. Cukup dua hari ditemani Amani, di rumah ini. Ketika aku hampir menyerah dan sudah tidak mengerti lagi. Apa yang sudah aku lakukan terhadap hidupku sendiri? Benarkah keputusan-keputusan yang aku ambil? Ada di mana aku sekarang? Ridhokah Tuhan pada ku?
Aku takut salah.

Nada [Fiksi]

"Aku merindu kamu. Di sudut kafe, di pojok kamar, di jalanan, dan di ruang-ruang kantor. Tidak sedetik pun pikiran tentangmu lepas dari sini. Isi kepala yang dipenuhi bebayangmu sudah menjadi santapan sehari-hari. Semula aku pikir itu bahagia, lambat laun itu membuat sesak. Terlebih jika kubayangkan kau tengah bermesraan dengan orang lain kini. Atau lebih parah, dan ini yang ku amit-amitkan selalu di dalam hati; melihatmu berdiri di pelaminan bersama orang lain. Aku tidak mau. Sungguh aku memohon pada Tuhan, aku tidak mau. Pun kalau itu terjadi, aku ingin diberi kekuatan yang berlipat ganda dibanding dengan yang kumiliki saat ini. Aku tidak mau. Aku takut.
Tapi nampaknya Tuhan pun masih belum ingin memberikanmu untukku, masih ingin memberikan ruang sendiri bagiku dan bagimu, agar kita bisa saling memenuhi diri masing-masing, agar menjadi utuh sebelum bersatu. Padahal aku ingin.. ingin sekali.
Ingin selalu duduk di sampingmu, melihatmu mengguratkan garis demi garis dalam layar yang …

Dark Humour

My procrastination skill never ceases to amaze me. Especially when PMS meets the job that is too stupid (like reading wrong grammar, misspelling, ugly translation). I could procrastinate a work for three days which can be done for two hours (or three). Being a real dagger dodger also means I could give reasonable excuses when the employer asks for my work. Oh that's this data, its missing. I need to recheck with this guy, but he's out of office. Or.. this paper, it still needs further analysis that I will ask that guy over there sitting in the corner wearing a stupid scarf to answer it for us. And so on, and so forth.

I'm a dodger, who procrastinate, and I'm good at dramatically act when it comes to deadline.

My head! its exploding! Nooo... 

Lalu kepalanya meledak berceceran, karna dipasangi bom bunuh diri.

***
Sekian

Bye Bye Bye, Shoe!

Sejak mengenal, memahami, dan mencoba mendalami minimalism, saya sudah lebih mampu mengatasi rasa kehilangan. Kalau dulu sedikit-sedikit takut ditinggal, takut berubah, terlalu lengket sama situasi yang ada sekarang, kalau punya barang tidak boleh ada yang hilang, maka sekarang sudah berkurang drastis.

Mengurangi rasa keterikatan dengan benda ataupun manusia, (atau apapun yang bersifat keduniawian), membuat saya lebih santai jika ada sesuatu yang rusak atau hilang. Ah, sudah waktunya rusak. Ya sudah, nanti kalau sudah butuh baru beli lagi. Begitu pikir saya ketika smoothies blender saya rusak. Nyatanya sampai sekarang belum beli baru lagi, karena memang belum butuh. Begitu seterusnya, sampai hari ini, saya disentil oleh Allah dengan satu pengingat halus. Allah Maha Halus.

Sepatu kesayangan saya rusak dalam perjalanan pulang dari mall. Rusaknya karena tergesek dudukan kaki yang kurang proporsional pada motor ojek online yang saya tumpangi. Pengendara motornya sempat nyaris menabrak mob…

Alone, not Lonely, Rose!

Some people like to be alone because they’re easily absorping other people’s energy. It makes them get tired after spending too many time with people. Being alone is for them to recharge, emotionally and spiritually. There’s a huge difference between being alone and being lonely.
A woman who’s not afraid to be alone, is a woman who hold her future. Because no matter what, people will leave anyway. Those who love being with them self, is dangerously beautiful. Be one!

Penurut

Sejak dulu, kriteria yg saya dambakan hanya satu: orang yang bisa saya turuti.
Saya tidak pernah menjadi anak yang penurut. Menjadi anak sulung perempuan juga berarti menjadi tuan putri dalam keluarga. Semua yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tumbuhlah saya dengan menyandang stubborn sebagai nama tengah. Tidak sahabat, tidak teman, bahkan tidak orang tua bisa membuat saya benar-benar menuruti sebuah perintah tanpa banyak bertanya.
Sebagai seorang remaja SMA karakter saya kacau sekali. Ditekan dengan beragam peraturan justru membuat jiwa liar saya berontak. Peraturan sana sini saya langgar. Menjalani hukuman setiap minggu menjadi wajar. Terkenal di kalangan para pengajar. Saya tahu sekarang betapa bodohnya tindakan saya dulu.
Tapi itu semua saya lakukan karena satu hal: saya merindukan sosok seorang pemimpin. Sosok yang mestinya saya dapatkan dari ayah saya, tapi gagal karena saya kelewat keras kepala sehingga ayah saya cenderung menuruti semua kemauan saya. Saya rindu dipimpin. Saya r…

Reset Button [Fiksi]

"You never loved me," dia berkata dengan dingin. Suaranya tenang, seolah tidak ada emosi di sana.
"Kenapa kamu bilang begitu?" nadanya tidak terima.
"Because you never loved me. I'm only good for your ego. Aku cukup membanggakan untuk kamu tunjukkan ke teman-teman dan keluargamu. Prestasiku, bisnisku, kreasiku, semua membuatmu bangga bisa menaklukkan perempuan seperti aku."
"Dengan cara apa aku harus meyakinkan kamu? Sudah lima tahun kita menikah dan.."
"And all you talk about is to make money!!" suaranya meninggi, nyaris menggebrak meja.

Pasangan itu duduk di sudut cafe, dengan musik mengalun merdu. Mestinya menjadi latar romantis sebuah adegan percintaan, ketika sepasang suami istri dengan fisik yang nyaris sempurna dan saling melengkapi satu sama lain, duduk berseberangan menikmati cokelat hangat dan caramel latte.

Pelayan datang membawakan sepiring penuh bola-bola ubi, meletakkan piring dengan canggung, lalu berlalu tanpa mengu…