Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2018

Sedikit Lagi

Dia akhirnya beranjak
“Aku pamit,” ujarnya sembari meletakkan sehelai undangan Dia diam tak bergerak Matanya nanar menatap lembaran yang tergeletak.
*** Dia.. dia.. juga dia Satu persatu mereka pergi Dengan atau tanpa pamit pun tetap pergi Mengulurkan tangan pada jemari yang lain Uluran yang dulu pernah tertuju untuknya, Namun ragu tuk ia remas
*** Pada jumawa ia bertanya Adakah ini hukuman karna tak mau membuka ruang Padahal bukan enggan yang ia pegang, Ketakutan masa silam yang tak ingin lagi dia kenang Lalu semua pergi Uluran demi uluran pun ditarik kembali Tak menyisakan seutaspun untuknya berdiri Dia hanya bisa duduk dalam diam dan sendiri Bertanya pada sang semilir yang membisik
*** Wahai jiwa yang tengah menengadah Salahmu terlalu kecil jika dibandingkan ampunan-Nya Tidak ada yang mustahil bahwa semua kan indah Bukan karenamu mereka berpindah Tapi Dia yang mengaturnya untukmu mengularkan kisah
*** Wahai cahaya yang tengah redup Jika mereka tak memilihmu tuk menjadi pendamping h…

Pada Sebuah Bukit

Pada sebuah bukit dia bertanya Bukankah sudah begitu awalnya?
Ia dipisahkan jauh dari rumah, Oleh karena tabiatnya yang kerap membuat terluka Alih-alih diberi pengertian yang lumrah, Ia justru dijauhkan. Bagai penyakit menular, begitu batinnya
Bumi berputar Waktu bergulir
Si anak kecil kini mengerti, Semua orang ingin hidup dengannya Seorang cerdas, baik, dan juga kaya raya
Alangkah sayang seribu sayang, Ia tidak mengerti caranya membagi ruang
Ia menikmati kesendirian Sebab hatinya masih mengingat pahit Kala ia harus melangkah menjauh dari rumah Keluarga Sahabat Pada usia yang masih terlalu dini untuk mengenal sepi
Kini, Pada sebuah bukit ia menangis Takut jika kelak kan ditinggal lagi Takut tuk menjatuhkan hati Jika pada akhirnya mereka juga akan pergi
—- Nunukan, 060918 Genap sudah arah angin di pulau ini

Diam!

Diam!
Sahutku pada waktu yang terus berputar Pada bumi yang terus bergetar Pada roda yang enggan bergerak ke belakang
Pergikah sepi jika lelah menghampiri? Jika jangkar mulai berlabuh Adakah sandar ku pada-Mu
Ah aku tak peduli! Bukankah tidak pernah ada yang benar-benar peduli? Berhenti! Kataku pada satu hentak kaki
Jika ingin kamu mati, Sambutlah dia yang paling pasti menanti