Skip to main content

Istirahat yang tenang,.

 



Baru saja saya meenelusuri berita tentang kecelakaan Vanessa Angel dan Bibi Adriansyah seminggu yang lalu. Setelah satu minggu saya baru mau menonton berita-berita mereka, karena kalau baru kejadian suka ada berita aneh-aneh semacam 'firasat' atau yang instan-instan mengandalkan 'ramalan'. 

Semakin lama, analisa dari berita kecelakaan biasanya semakin mendalam, dan malam inilah, selepas enam jam ngulik satu hal yang sama sehari ini, saya memilih rehat dan menonton video wawancara mereka bersama pasangan favorit saya saat ini; Ussy-Andhika.


Saya membayangkan kelak si anak laki-laki yang menjadi legacy mereka ini, dirawat oleh kakeknya yang bijaksana, tumbuh besar jadi laki-laki hebat sesuai namanya, yang doa-doanya mengalir terus untuk Vanessa dan suami. Saat jenazah mereka dimasukkan ke dalam liang yang sama, pikiran saya mengingat ceritanya tentang hidup, tentang hujatan dan masalah, tentang penjara dan penipu,. hidup itu capek ya. Hanya itu yang bisa saya simpulkan saat orang yang mengangkat jenazah beliau harus berteriak marah kepada kerumunan cameraman. Mau masuk ke kubur saja susah mbaknya.. masih dikerumunin aja :(


Cara Tuhan menyayangi mereka adalah dengan ujian bertubi-tubi yang ditutup dengan akhir yang mengejutkan. Akhir yang mudah-mudahan membuka mata banyak orang, dan jika ada orang yang berhijrah karena kejadian ini, bisa terhitung pahala jariah untuk mereka. Belum lagi jika Gala nanti tahu bagaimana cerita hidup dan mati orang tuanya, rindunya akan membawa ia tuk ke surga biar bisa kumpul dengan mereka lagi. Tuhan tidak mau Vanessa dan Bibi terlalu lama di dunia, apalagi setelah satu persatu keinginan mereka terwujud, when finally the world works out for them, karena Dia tahu, mereka nanti akan kepeleset lebih jauh lagi. Maka sebelum terlambat, Dia menjemput mereka duluan, menyisakan seorang anak yang amal solehnya tidak akan terputus untuk orang tua.


Memang kalau mengejar dunia, tidak akan ada habisnya. Karena Bumi itu bulat, kita akan selalu berlari dalam lingkaran tanpa tepi. Legacy adalah yang paling penting. Apa yang akan kita tinggalkan selepas pergi nanti? Kalau cuma harta.. pasti akan habis.

***

Sanur, 11 November 2021

Hujan dua malam.

Comments

Popular posts from this blog

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam