Skip to main content

[Fiksi] 5 Minutes before Monday

 




Perempuan itu menghembuskan napasnya, kencang. Memekik tertahan mengeluarkan sesak yang sedari tadi tertahan. Akhirnya ia bisa mendapat ruang tuk menyendiri, mengeluarkan air mata yang sudah tidak sabar ingin mengalir. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, berlutut, menutup wajahnya dengan telapak tangan yang sudah basah. "God...." erangnya sesak. Ia ingin meminta ampun, ingin meminta tolong, tapi hanya kata itu yang sanggup ia ucapkan di tengah derai tangis yang tak sanggup ia bendung. God.. 

***


Orang dewasa hanyalah anak-anak kecil yang tengah bersembunyi. Mereka tidak pernah benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, apa yang sebenarnya sedang mereka cari. Mereka hanya mengikuti arus, beraksi, berpura-pura mampu mendeskripsikan dunia. 


Anak-anak yang sedang bersembunyi itu.. sebagian besar dari mereka justru tengah menanggung luka batin yang tidak sempat disembuhkan. Ah hanya begitu saja, untuk apa dibahas.. berpaling dari tanggung jawab untuk menuntaskan masalah, anak-anak itu dibungkam hingga diam. Bersembunyi dalam gelap, yang ia tahu hanyalah hantu-hantu yang mati-matian ia hindari. Menghindar, sebisa mungkin menciptakan jarak dari sumber luka. Orang dewasa, hanyalah anak-anak yang lupa caranya bahagia, caranya menyembuhkan diri sendiri, dan menutupi semuanya dengan lapis-lapis topeng saya baik-baik saja. 


***

Perempuan itu kini telah menyeka air matanya. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali sedikit gelembung merah di bawah mata. Dengan sigap ia membasuh wajah, mengeringkannya, serta menambahkan cairan-cairan kimia yang dianggap ampuh dalam memelihara kecantikan. Tuntas sudah rutinitas malam harinya, mengoleskan lapis demi lapis konsentrat kimia yang tidak akan ia rusak dengan air mata. Begitulah sejatinya ia melewatkan malam demi malam, berlindung dibalik lapis-lapis krim dan pelembab, untuk bisa melalui hari esok dengan baik.. setiap hari.

***


Bali, 5 Oktober 2021

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2