Skip to main content

Best Days Ever

 




Seminggu setelah pindah ke Sanur, saya memutuskan bahwa ini adalah satu minggu terbaik yang pernah terjadi selama kurun waktu pandemi ini. Sanur dan airnya yang tenang, ombaknya yang halus, lautnya yang biru.. menjadi tempat yang paling direkomendasikan oleh orang-orang di kantor. Mungkin karena kami memang lebih banyak bekerja dengan laptop sehingga butuh tempat yang tenang ketimbang tempat dengan musik hingar bingar seperti di area terbenamnya matahari sana. Atau mungkin juga karena kami orang-orang yang cukup berumur, sehingga tidak lagi berminat untuk jejingkrakan menghabiskan waktu menikmati curah keringat dari orang asing. Apapun alasannya, tapi memilih Sanur sebagai tempat untuk tinggal, berdekatan dengan pantai, adalah pilihan terbaik yang saya ambil saat ini.


Sedikit banyak tentu saya membandingkan.. membandingkan dua hal adalah hal yang sangat natural pada otak manusia. Saya membandingkan hidup saya jika terus meniti karir di kantor lama, bersabar dengan segala polah, mungkin saya bisa ke sini dan ke sana. Tentu saja saya tidak ingin menyesal, karena sesal adalah hal paling sia-sia, tapi kadang setan suka menggoda, membisikkan sesal itu yang selalu buru-buru saya tepis dengan kalimat jitu; aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk. Kantor lama memang baik, kantor sekarang memang berbeda, tapi jalan yang menuntun saya untuk memilih pilihan ini hingga akhirnya diterima dengan mudahnya, adalah jalan yang Tuhan saya bukakan untuk saya. Jika Dia yang membukakan pintu ini, maka pasti ada hal baik di dalamnya. Saya hanya harus sabar menunggu, apa hal baik itu sebenarnya.


Tempat tinggal yang saya pilih adalah yang paling mendekati rumah. Kita semua butuh rasa familiar itu, merasa dekat dengan rumah padahal sedang jauh. Dindingnya yang tanpa cela, bangunannya yang masih baru, belum tersentuh banyak manusia. Saya bisa tinggal dengan nyaman di sini, walau harus merogoh kocek agak sedikit lebih dalam. Tapi saya rela, karena hanya dengan jalan kaki selama dua menit saja saya bisa sampai ke toko buku favorit saya. Jalan kaki selama tujuh menit, saya sudah bisa menyaksikan birunya laut dan langit yang beradu dalam horizon luas tanpa batas. Ibu pemilik penginapan yang ramah, anaknya yang juga baik (juga cakep), selalu menjadi tempat saya bertanya tentang apa saja dan mereka akan menjawab semuanya. 


Memilih Sanur setelah satu bulan tinggal di Pemogan yang jauh dari mana-mana.. adalah pilihan melegakan. Saya bangga dengan pilihan ini.. dan jika ada kontes decision making terbaik untuk musim gugur ini.. saya yakin saya lah juaranya.


Berdekatan dengan pantai adalah keinginan saya sejak lama.. kini bukan hanya pantai.. sumber buku pun bisa saya jangkau dengan mudah. Kafe-kafe yang menjajakan makanan sehat, danish pastry juga dijajakan begitu saja di supermarket tanpa kemasan berlebihan yang membuatnya overprice, semua tersedia dalam jangkauan langkah kaki. Saya bisa sarapan dengan menu yang biasa saya makan di rumah tanpa harus repot-repot scrolling handphone dan menunggu abang delivery. Oh ya, saya bahagia sekali, walau lelah bukan main karena tiga hari ini harus terus ke kantor berturut-turut. Jika sebelum pandemi, ke kantor lima hari seminggu adalah wajar. Tapi sekarang, tiga hari ke kantor rasanya luar biasa sekali.. jadilah tadi sepulang kantor saya memilih melakukan kebiasaan lama; mengelilingi isi mall. Melihat-lihat apa yang dijajakan, tanpa membeli kecuali yang saya butuh.


Tulisan ini saya buat untuk menjadi tanda. Bahwa setahun lalu, saya pernah menulis di sini, dengan doa-doa dan harapan, dengan rasa miris merindukan ombak, laut dan matahari, merindukan pemandangan yang hanya bisa saya lihat di layar laptop, dan semua.. kini terwujud nyata. Saya bahkan tinggal dekat sekali dengannya. Setahun yang lalu saya hanya bisa berangan-angan ingin pindah ke Bali tanpa tujuan, hanya ingin saja, dan Tuhan saya Yang Maha Pemurah, mengabulkan semuanya. 

***

Sanur, 29 Oktober 2021

Autumn is the Season of new beginning..

Comments

Popular posts from this blog

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam