Skip to main content

What if I die in Bali?

 



Waktu kecil saya sering melihat mama duduk sendirian di kursi. Tidak membaca, tidak menonton. Hanya duduk menatap lantai. Keluarga kami memang bukan keluarga yang mewah, tapi kami punya semua yang kami butuhkan dalam kategori ‘cukup’. Maka saya pikir, apa yang ada di pikiran Mama? Apakah ia sedang khawatir akan sesuatu? Tapi apa yang beliau khawatirkan? Keluarga kami baik-baik saja. Aku baik-baik saja.


Belakangan sejak pandemi saya jadi mengerti kebiasaan duduk sendirian tersebut. Duduk diam hanya menatap lantai atau dinding. Bukan berarti sedang khawatir atau memikirkan sesuatu yang berat. Hanya duduk dan “mendengarkan diri sendiri”. Larut dalam pikiran, tentang rencana maupun masa lalu, tentang mimpi maupun menu makan malam.


Sore ini setelah langit mulai menyuarakan suara guntur, saya menyudahi pekerjaan. Duduk di area kerja seperti biasa, sudut rumah yang mestinya berisikan sofa ruang tamu. Masa bodoh denga tamu, area tersebut saya pakai untuk ruang kerja karena dekat jendela. Toh saya pun jarang kedatangan tamu. Kalau ada tamu pun hanya teman-teman dekat yang selalu lebih memilih duduk di lantai walau saya sudah sediakan kursi-kursi.


Duduk di situ menatap meja yang sudah kosong. Pikiran saya melayang ke setahun lalu saat keinginan untuk pindah ke Bali mulai timbul. Juni 2020 dan saya masih ingat hujan dan dinginnya malam setelah tiga bulan mengurung diri sendirian. Saya menangis tanpa sebab, membatin jika saja saya bisa jual rumah ini dan pergi ke Bali tuk memulai kembali. Tapi.. sore ini barulah saya terpikir.. ‘kenapa Bali?’


Seorang teman SMA awal Agustus kemarin pergi tanpa pamit. Meninggalkan kami yang ternganga kaget hanya bisa menangis. Ia meninggal karena Covid, jauh di Papua. Jauh dari rumahnya di Sulawesi Tenggara. Ia pergi secara tiba-tiba, di tanah yang sudah lama sekali ingin ia kunjungi. Kami tahu ia sudah lama ingin ke Papua. Kami hanya tidak pernah tahu kenapa. 2 Agustus itu barulah kami sadar, ia sedang menjemput takdirnya.


Maka sore ini sebuah pikiran gelap nyangkut di kepala saya. Bagaimana jika ternyata.. saya pun demikian? Bagaimana jika saya memang ditakdirkan untuk berpulang di sana?


Inilah skenario yang dapat saya pikirkan:


Jika saya mati, maka tentu saja rumah ini akan dinyatakan lunas. Uang asuransi jiwa saya bisa cair dan diwariskan untuk Mama. Orang yang membaca tulisan ini, akan mengontak adik saya entah lewat instagram atau memang mereka saling kenal untuk memberi tahu bahwa saya menulis tulisan ini. Ia pun akan memberi tahu adik saya untuk mengecek isi notes di ponsel saya. Tentu saja ia tahu semua passwordnya. Tertempel di dinding kamar. Dengan demikian semua yang bisa saya wariskan sudah saya sampaikan, jadi mungkin sudah aman. Untuk urusan akhirat.. well.. kesadaran ini saja sudah mulai bikin deg-degan. Kita memang tidak pernah benar-benar siap ya walau tahu kematian adalah yang paling pasti terjadi.


Setidaknya dengan menulis ini saya jad sedikit lebih tenang. Karena nyatanya, walau saya selalu ingin pindah dan memulai hidup baru di Bali, saya tetap tidak mengerti kenapa harus Bali. Kalau dari segi beach vibe saya jauh lebih suka Belitung. Kalau suasana pedesaan saya lebih suka Yogya, dan untuk suasana perkotaan yang tenang saya lebih suka Semarang. Saya bahkan tidak punya kenangan terbaik selama berada di Bali, kecuali bagian belanja souvenirnya yang murah-murah (belakangan baru tahu juga kalau ternyata itu semua import dari China).


Terus terang sekarang ketika bisikan dalam hati itu sudah menjadi nyata, saya malah takut. Should I take the risk, move, start over dan jadi anak kost lagi, or should I stay and work remotely like usual? Apakah saya siap jadi anak kost lagi? Apakah saya bisa tinggal di sepetak kamar tanpa dapur pribadi? Apakah… 


Di saat-saat genting seperti ini, bersyukur saya terlahir sebagai muslim. Karena kami dibekali senjata paling ampuh saat menghadapi kebimbangan: solat istikharah.


***

Bogor, 3 September 2021

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk