Skip to main content

They are Watching

 




Menjelang keberangkatan ke Bali yang tinggal beberapa hari lagi, perasaan saya semakin campur aduk. Kadang senang, kadang sedih. Senang kalau ingat laut, sedih kalau ingat nanti di sana bakal jarang hujan sedangkan di sini tiap pagi mendung. Saya hanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bisa keluar dari grup whatsapp yang setiap percakapannya membuat hati saya nyeri, itu saja. Tapi saya juga takut jika di sana nanti saya tidak kenal siapa-siapa, dan segala ketidakpastiannya juga membuat saya sangat gugup. Namun sepertinya Tuhan dan ciptaan-Nya bisa merasakan getar takut itu, seolah bisa merasakan ada getar negatif berupa rasa takut yang saya pancarkan, maka Dia mengirim sesuatu untuk menenangkan saya.


Perasaan takut ini tidak bisa saya hilangkan, dia selalu ada setiap hari walau intensitasnya berubah-ubah. Seperti kurva grafik yang naik dan turun, begitulah rasa takut saya berubah setiap jamnya. Namun ketika grafik ini terus naik dan naik, selalu ada saja kawan yang bertanya kabar, dan berakhir dengan percakapan melalui telepon. Malam ini, dengan Ariya tentunya, gadis manis asal Salatiga teman sekelas saya dulu waktu di kampus. Kami menghabiskan dua jam bercerita tentang semuanya, we just pick up where we left off di saat kita terakhir bertemu atau bercakap. Dari situ saya kembali tenang.


Ini membuat saya semakin yakin bahwa kita selalu ada yang memantau. Tuhan tentu saja, tapi orang-orang di sekeliling kita, selalu memantau apa yang kita lakukan. Terutama jika kita memang mempublikasikannya di media sosial. 


Teman-teman saya tahu bagaimana pergumulan batin dan mental saya di pekerjaan akhir-akhir ini. Mereka tahu saya tersiksa, dan mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain memantau kabar saya. Untuk itu, kabar mengenai kepindahan saya ini membuat mereka bahagia. Saya yang memang bahagia karena akan memulai hidup baru, jadi lebih bahagia lagi karena melihat mereka genuinely happy for me. Begitulah adanya lingkaran pertemanan di usia dewasa. Tidak lagi merasa iri pada bahagia satu dan yang lain. Rata-rata teman saya memang sudah menikah dan punya anak, dan saya pun bahagia setiap kali kabar pernikahan atau kelahiran itu datang. Saya selalu berusaha untuk hadir di setiap acara mereka, dan benar-benar bahagia untuk mereka. Sekarang pun demikian. Demi mengetahui saya akhirnya bisa memulai sesuatu yang baru di tempat baru pula, tidak henti-hentinya mereka mengucap syukur dan mengembangkan senyum.


Begitulah cerita keseharian yang sepertinya tidak banyak orang peduli, tapi sebetulnya mereka peduli dan mengamati. Sedih kita mereka tampung, dan bahagia kita, bahagia mereka juga. Untuk itu berbahagialah kalian wahai para lelaki single. Jika suatu saat nanti kalian meminang seorang perempuan, maka yang kalian buat bahagia bukan hanya dia saja. Tapi seluruh keluarganya, keluarga ayahnya, keluarga ibunya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengamati si perempuan ini. Jika dalam Islam kita diajarkan bahwa memasukkan bahagia di hati sesama muslim adalah sumber rejeki, maka bayangkan rejeki seperti apa yang kamu akan dapat dengan membuat bahagia warga sebegitu banyak. 

***

Bogor, 16 September 2021

Tahu siapa yang paling lekat mengamatimu? Haters! Yep, mereka yang tidak menyukaimu selalu punya waktu untuk menonton semua yang kau tayangkan. So you better give them a show, babe!

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2