Skip to main content

Sapu Lidi

 



Kalau aku bilang “benda berkomunikasi dengan kita,” kamu percaya gak?


Tadi sore selepas mengajak Papa dan adik saya makan siang di luar, kami pulang melewati pertigaan lampu merah Baranangsiang. Seperti biasa, pertigaan itu diramaikan oleh penjual yang menjajakan bermacam dagangan. Kadang tahu, kacang, bantal sandaran kursi,.. kali ini yang dijajakan adalah sapu lidi dan tongkat e-toll. Tapi yang lebih banyak disodorkan adalah sapu lidi. Salah satu penjaja tersebut menyodorkan sapu lidi dekat sekali dengan jendela saya, seperti mode zoom in. Selintas saya langsung teringat sapu lidi di rumah.. satu-satunya dan dibeli sudah lama sekali, sekitar hampir sembilan tahun lalu waktu masih nge-kost di Cibanteng.


Saat itu saya hanya tersenyum. Sudah lama juga tidak beli sapu lidi.


Malamnya, setelah makan malam yang singkat, kami tenggelam dalam rutinitas masing-masing. Saya memulai rutinitas sebelum tidur dengan membersihkan badan, cuci muka, sikat gigi dan ganti baju tidur. Tapi baru saja beberapa menit di kamar mandi, seekor hewan mengerikan berjalan mendekat. Sontak saya kaget dan mengundang tanya Papa dan adik saya. “Kenapa, Kak?” Teriak mereka dari luar. Saya masih belum menjawab, berusaha tenang memakai piyama, lalu keluar. “Ada kelabang”. Papa bergegas mengambil sapu lidi, memukul hewan itu sampai tewas. “Well..” gumam saya selepas drama itu berakhir “bye sapu lidi.. setelah ini kamu gak bisa dipakai untuk gebuk kasur lagi. Aku harus beli yang baru besok pagi. Ternyata siang tadi itu kamu sedang pamit ya..”


***

Benda berkomunikasi dengan kita, itu benar. Melalui apa? Melalui getaran. Vibrasi yang menghubungkan satu atom dengan atom lain. Tubuh kita disusun oleh molekul yang sama dengan benda mati, itulah sebabnya, kita sebetulnya merasakan mereka dan sebaliknya. Hanya saja mungkin dunia terlalu berisik sehingga kita tak lagi sensitif.


Diam dan dengarkan.

Diam dan dengarkan.

The world has so much to tell if you would shut up and listen.

***

Bogor, 4 September 2021

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk