Skip to main content

Ratu Jahat

 



Ibu Peri datang membawa nasihat,

Setiap katanya adalah petuah.

"Jangan dekati Si Ratu Jahat,

Karna ia akan menusukmu dari belakang"


Perlahan ia beranjak dewasa. Ibu Peri menjadi satu-satunya sosok yang mengerti dirinya,

"Aku melihat diriku pada dirimu. Kau adalah aku saat masih seusiamu," 

Ia mempercayai semua ceritanya pada Ibu Peri. Yakin bahwa Ibu Peri adalah orang yang paling bisa memahami apa yang ia rasa.

Juga menjaga jarak dengan Ratu Jahat. Karena Ratu Jahat hanya inginkan harta dan kekuasaan.


Waktu kembali bergulir, ia telah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan akal yang sempurna terbentuk.

Ia mulai melihat garis batas, Ratu Jahat yang tidak banyak bicara dan cenderung menjauh dari kerumunan, dan Ibu Peri yang selalu di kelilingi para rakyat dan petani. 

Ibu Peri berjanji, bahwa dia akan selalu ada untuk semuanya. Membantu semua orang yang berada dalam kesulitan, walau itu berarti dia harus mengorbankan dirinya dan kebahagiaannya sendiri. 

Ratu Jahat kian menghilang dari radar. 

Namun ia kini mulai curiga. 

Apa sebenarnya yang ada di balik tembok istana?

Mengapa Ratu Jahat berbuat sedemikian jahat?


Kelak di suatu ketika, mulai terkuak apa yang sering Ibu Peri bisiki. Pada para pemimpin yang sudah kehilangan nurani. Menghujani mereka dengan puja serta puji. Membuat mereka mau menuruti kehendak sang Ibu Peri, sepakat untuk menggulingkan Ratu Jahat. Ratu Jahat tahu rencana itu namun dia tak bergeming. Ia tahu, dan kini ia pun tahu, bahwa Ratu Jahat hanya ingin yang terbaik untuk negeri. Diam dan dinginnya adalah untuk melindungi diri. Karena jika ia harus angkat suara, Ibu Peri akan menyihirnya menjadi kodok yang tak mampu bicara.


Waktu telah membuka matanya, bahwa selama ini ia telah dibutakan oleh kejahatan yang terbalut rapi dalam sayap putih malaikat. Senyum manis mengembang, sembari menusuk belati dari belakang. Bahkan dirinya pun menjadi korban, ketika Ibu Peri mulai sadar bahwa ia adalah ancaman, berbagai cara ia gunakan untuk merusak nama baik nya di depan khalayak. Tentu saja rakyat percaya, tidak ada perkataan Ibu Peri yang pernah salah. Ibu Peri selalu baik, memberi mereka uang yang banyak, hingga rakyat pun senang dan senantiasa patuh pada perkataan Ibu Peri. Termasuk ketika Ibu Peri memberi titah untuk membunuh.. ia. 


***

Dunia tidak terdiri dari hitam dan putih saja. Tapi saya bersyukur pernah belajar dari realita, tentang putih yang biasa menipu, dan hitam tidak melulu kriminal. 


Pagi tadi saya terbangun dan mendapati hujan.. Morning Rain.. begitu selalu yang saya sebut tiap kali mendapatinya,. I love morning rain.. Kalimat itu pula yang selalu saya ucapkan di jendela. Saya sudah berjanji untuk bertemu seseorang hari ini, Ibu Direktur Keuangan yang selama tiga tahun terakhir telah menjadi teman terdekat saya untuk berbagi. Kami akan makan siang bersama, seperti yang dulu biasa kami lakukan. Sambil bertukar cerita tentang apa saja. Walau mungkin makan siang kali ini akan menjadi yang terakhir, sebelum saya membuka lembar cerita yang baru.


Pukul sepuluh hujan baru reda, saya pun baru siap dengan sweater dan celana jeans. Menumpang ojek online seperti biasa, walau sebetulnya bisa saja saya bawa kendaraan sendiri tapi terlalu malas jika harus membayangkan kemungkinan macetnya nanti. Pikiran saya melayang pada bahagia, karena di pagi nan syahdu itu saya memutuskan untuk mengumumkan kabar gembira pada para peserta training yang telah dinyatakan lulus semua. Doa-doa dan syukur dipanjatkan bergantian melalui grup chat, yang bahagianya mengikuti saya sampai di.. Ciomas.


Baru sepuluh menit berkendara, tiba-tiba abang ojek online yang saya tumpangi berseru keras. Rupanya di depan, ada anak kucing tidak sengaja terlindas oleh mobil yang melaju terlalu kencang. Anak kucing berbulu putih itu tidak mati, namun masih menggelepar di tengah jalan. Sambil menahan tangis saya memohon pada abang ojek.. "Bang.. bisa tolongin gak? Tapi saya takut.. saya takut kucing.. tapi tolongin.." Motor kami berhenti di tengah jalan. Saya turun dari motor, memberi tanda pada pengendara lain untuk melewati kami melalui jalur sebelah sembari menunggu abang ojek mengangkat badan anak kucing yang masih menggelepar. Saya hanya bisa menangis melihat darah segar yang masih tertinggal di aspal. Kepalanya masih tersambung ke badan, ia belum mati, tapi entah apa mungkin masih bisa tertolong lagi. Bahkan menuliskan ini, saya masih menitikkan air mata dan horor mengingat pemandangan tadi. Sungguh mengerikan, sebuah noda merah di pagi syahdu sehabis hujan..


Saya hanya sedang terliputi oleh emosi yang teramat sangat. 

Sebelum pulang kantor, seseorang yang dulu pernah membuat saya menangis hingga jam empat pagi karena lisannya, masuk ke ruangan saya. Ia bilang, siapa tahu kita tidak bertemu lagi, maka ia hendak berpamitan. Kami bersalaman, lalu saya memeluknya. Ia balas memeluk saya erat dan kami menangis. Ia meminta maaf jika dulu pernah berbuat salah, dan saya pun berucap yang sama, saya juga meminta maaf jika sering membuat salah paham. 


Semakin dekat hari terakhir saya melayani kantor ini, semakin banyak emosi dan rupa-rupanya yang menghampiri.

Saya hanya senang dan merasa pintar, karena sehari setelah hari terakhir tersebut, saya langsung terbang ke Bali dan menjajaki hidup baru, hidup yang masih abu-abu. Saya belum tahu apa yang ada dibalik pintu, tapi yang saya tahu, terpenting adalah Tuhan saya Maha Tahu, dan itu sudah cukup.

***

Bogor, 14 September 2021


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk