Skip to main content

Knowing the Unknown

 



Hari kedua di Bali,

There's some kind of comfort in knowing something. Tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, menyusun sebuah rencana dan tahu akan seperti apa jalannya nanti dan kenyataan pun sesuai dengan prediksi, adalah hal-hal yang membuat hidup jadi lebih nyaman. Itulah kenapa kita senang sekali pergi ke tempat yang familiar dan cenderung menghindari yang tidak familiar, dan hanya orang-orang yang berani sajalah yang mau berjibaku dengan ketidaktahuan akan hal baru tersebut dan menemukan kebebasannya. 


Ini saya kutip dari kalimat yang terpajang di sekretariat Lawalata IPB; 'Hanya orang-orang yang berani mengambil resiko yang dapat merasakan kebebasan. L-xxx' (saya lupa nomor anggota L-berapanya, tapi yang jelas itu ditulis oleh mantan atasan saya kemarin).


Oh.. menyebutkan kata mantan atasan saja bagi saya adalah hal baru yang menggelitik nan aneh. Ada sensasi rasa yang berbeda saat mengetahui bahwa hidup tidak akan sama lagi meskipun pandemi ini berakhir. Saya memutuskan resign dari kantor, benar-benar mengalami momen farewell yang mengharukan, ada derai tangis dan tawa, ada kenangan yang dibawa, lalu kabur ke Bali. Di sini nanti saya akan mengukir cerita baru, bersama orang-orang kantor yang baru.. yang entah akan seperti apa nantinya.


Tapi itulah bedanya. Saya yang dulu akan sangat gelisah dengan segala ketidaktahuan ini, maka saya akan mengerahkan segala kemampuan saya untuk mencari tahu apa yang saya tidak tahu, berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai dan mengetahui area tersebut hingga benar-benar merasa percaya diri. Sekarang?


Ada sesuatu tentang waktu yang tidak bisa kita jelaskan dengan nalar. Waktu bisa mengubah persepsi orang yang tadinya sangat yakin menjadi ragu-ragu. Waktu mampu membuat orang yang tadinya pengecut jadi pemberani, pun sebaliknya. Waktu pun bisa menjadikan orang yang tadinya nyaman hanya jika dia tahu menjadi orang yang tetap percaya diri bahkan saat memasuki area yang tidak familiar baginya.


Maybe that's just a part of growing up. As we get older, we unlearn things that we know. We become the person we would never thought before.. that's where confusion be a trend. Semua yang merasakan sedang bertumbuh, pasti mengalami ketidaknyamanan dalam kebingungan tersebut. Bingung mau melakukan apa, bingung dengan apa yang sedang dilakukan saat ini, but we go on anyway. That's just how life is.. we keep moving forward.. on and on until we can't. Until time says.. "ok, that's enough moving for you. Go to sleep now" so we're dead.

***


Saya sangat terbiasa dengan perencanaan. Saya sangat mahir dalam menyusun rencana secara masif dan terstruktur. Berapa banyak project yang bisa selesai dengan tenggat yang dipinta oleh klien, karena Allah memudahkan saya untuk membuat strateginya. Bahkan saat acara perpisahan kemarin, salah satu pujian paling banyak terlontar adalah tentang kemahiran saya mengatur waktu, menyusun rencana dan mengarahkan acara. I'm really proud of that, and I take that compliments as my award. 


Hingga semesta memutuskan untuk menampar saya dengan sebuah kejadian (yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup), yang membuat saya mempertanyakan semua hal yang sudah saya tahu hingga ke titik di mana saya tidak percaya lagi dengan pikiran saya sendiri. 


So I let the universe works it way to me. Berangkat ke Bali tanpa tahu nanti mau melakukan apa, dengan cara apa, atau bahkan berapa lama. Yang saya tahu hanyalah saya ingin ke Bali, ingin tahu apa yang nanti saya rasakan jika berangkat dengan mindset ini tidak sedang liburan, dan di sinilah kemungkinan kamu akan tinggal. Ini baru hari kedua, jadi jawabannya masih abu-abu. 


Ternyata saya justru menemukan kenyamanan dari ketidaktahuan tersebut. Membiarkan hati memilih apa yang dia senangi justru adalah suatu ketenangan tersendiri. Saya tidak lagi sibuk memikirkan apa pendapat orang lain, atau sibuk melayani ego dan kepentingan orang lain hingga harus memasukkan mereka ke dalam pertimbangan saya dalam membuat keputusan. Tidak ada. All I need to make a decision is if my heart likes it or not. And I find this attitude is beyond enjoyable. 


I really like this new me. >.<


Anyway,.. walking into the unknown is scary but it's exciting. You can always decide to stay the same or you can take the risk to change. Both have their own risks and joy, either to circle back and be comfortable, or move forward in a painful and dramatic change. I chose the second one.. (or maybe just for two weeks.. idk.. lol).. but all you need to know, is how to reconnect with yourself and find what you and your soul really want.


***

Bali, 24 September 2021

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2