Skip to main content

First Monday in October

 




Pukul sembilan lima belas malam, suara guntur mulai menggelegar. Dua belas tahun sudah saya menetap di kota ini, dan hujan sudah menjadi bagian dari diri saya. Selama pandemi, setelah menekuni rutinitas yang begitu rutin dan adil; bangun pagi, baca buku, memberesi tempat tidur, mulai bekerja dan tidak menyentuh kasur seharian,. saya akan menutup laptop dan menyudahi pekerjaan jika pukul empat sore hujan mulai turun. Hanya untuk duduk di teras, menatap langit, menatap keberkahan yang tercurah melimpah ruah untuk kota ini.


Pernah satu ketika di Bulan Juni, saat hujan sedang mengguyur malam dengan derasnya, saya menangis sendirian di dalam kamar. Bukan karena saya takut sendirian, tapi karena perkataan menyinggung yang seorang rekan lontarkan dengan sengaja. Pandemi membuat saya begitu sensitif, mudah sekali menangis bahkan oleh omongan yang tidak penting. Malam itu saya berbisik.. Tuhan, ingin sekali saya kabur dari sini. Pergi ke Bali, dan memulai hidup dari awal lagi. Mungkin saya bisa jual rumah ini, dan tinggal di pondok sederhana? Namun saat itu, pikiran saya sedang tidak jernih. Saya tidak sedang memikirkan meninggalkan rumah yang sudah saya bangun dan saya tata sendiri, saya hanya sedang memikirkan meninggalkan orang-orang yang tidak memikirkan dengan matang setiap kalimat yang terucap dari bibirnya.


(Hujan turun sekarang.. jadi saya menulis ini, lagi-lagi dengan latar suara favorit sedunia; suara hujan).


Setahun berlalu, tanpa diduga jalur yang saya ambil justru mengarah pada apa yang pernah saya pinta. Dia mengabulkan bisikan saya itu, menjadi sesuatu yang akan jadi nyata dalam hitungan hari. Tentu saja saya takut bukan main, karena saya tidak memperhitungkan akan berpisah lama dengan hujan dan rutinitas yang sudah melekat di keseharian saya.


Beruntung saya memiliki teman-teman yang super baik, super perhatian, dan di antara kesibukan mereka, selalu menyempatkan untuk bertanya bagaimana progres yang sudah saya buat terhadap keputusan akan pindah. Sambil mengurus anak dan suami, mereka menyempatkan untuk berkirim pesan, sekedar bertanya apakah saya sudah dapat tempat tinggal di sana, sudah beli tiket, atau sekedar merekomendasikan saya kepada teman-teman mereka di Bali agar saya tidak sendirian. Karena untuk pertama kali seumur hidup, saya secara terbuka mengakui pada mereka, bahwa saya takut. Kali ini, saya takut sendirian. Meskipun kota itu familiar, tapi setiap kunjungan yang saya lakukan hanya untuk liburan dan bersifat sangat sementara. Saya belum tahu bagaimana rasanya nanti jika dalam enam bulan hanya bertemu dengan hujan sebanyak dua kali.. dua kali.. Atau setidaknya begitulah yang seorang teman ceritakan melalui telepon tempo hari.


Perasaan yang berkecamuk ini memang tidak karuan, antara ingin segera terbang ke sana, tapi tidak ingin meninggalkan sanctuary tempat ter-aman saya untuk menyendiri, tapi juga tidak ingin terlalu terlarut seperti ini.. tapi ingin lihat laut juga.. tapi tidak mau ninggalin hujan juga... >.<


Meski begitu saya bahagia, Tuhan mendengar pinta saya, dan mengabulkannya tepat ketika saya sudah teramat sangat membutuhkannya. Saya sangat butuh kebaruan ini. Tuhan tahu waktu yang tepat untuk mengabulkan pinta hamba-Nya. Saya ingat waktu itu Ka Puji, housemate kontrakan di Ciherang dulu, pernah cerita bahwa dia sudah dalam posisi sudah tidak tahan lagi, menangis meminta setiap malam untuk dihadirkan seorang teman. Lalu datanglah saya bergabung mengontrak di rumah itu, selang tiga bulan kemudian, seseorang lain mengetuk pintunya. Menyatakan minat untuk menikahinya, dan sekarang, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki cerdas nan gemas.. 


Ya.. Tuhan Maha Mengetahui waktu yang tepat untuk memberikan apa yang hamba-Nya butuhkan. Untuk itu saya semakin yakin untuk percaya pada timing-Nya, tidak mau memburu-burui walau pinta saya masih sama.. "kalau bisa jangan lama lagi ya.." (hahah). Karena kalau urusan pasangan hidup, saya trauma jika diburu-buru. Semua saya serahkan saja pada-Nya walau jadinya saya sering disangka punya pacar. Biarlah.. rata-rata mereka yang kemudian akhirnya tahu saya tidak punya pacar pun tetap mundur setelah tahu kalau saya punya rumah.. (itulah kenapa saya ingin jual rumah ini tahun lalu, supaya bisa lebih reachable.. tapi sekarang berpikir untuk kembali hidup di kos-kosan.. rasanya...............)


***

Setahun lalu saya menulis tentang Oktober, sebagai awal dari segala yang baru di hidup saya; dilantik MPCA, wisuda, berkenalan dengan Remark Asia, hingga tahun lalu mendapat secercah harapan dari hal yang baru pertama kali kita lakukan di kantor (audit marketing), dan berujung pada apa yang saya dapat hari ini. Tahun ini, saya akan memulai Oktober di kantor yang baru. I'll start at the first Monday of October.


I'm scared, but I'm excited.

***

Bogor, 12 September 2021

2021 bagi orang yang lahir tahun 1992 adalah berusia 29. 29 vs 92. 29:92

2+9 : 9+2

11:11

May this is be your year, wahai para 1992, whatever it is that you've wished for, may it come true.


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk