Skip to main content

Conscious Decision

 



Kapan terakhir kali kamu membuat keputusan besar dalam hidup? Bagaimana perasaanmu saat mengambil keputusan itu? Pernahkah kamu melihat ke belakang telah mengambil atau tidak mengambil keputusan tersebut?


***

Sejak Eyang meninggal Bulan Mei lalu, hidup kami berubah drastis. Bukan karena kepergiannya, kepergian beliau hanyalah penanda. Karena pergi atau tidak pergi, perubahan ini pasti terjadi. Hanya saja Tuhan seperti menandai dengan bookmark khusus untuk halaman ini, membuka lembar baru setelah ia memulai kehidupannya yang baru.


Adik ku yang paling kecil kini masuk SMA. Dia masih bayi merah berusia dua bulan saat dulu kutinggalkan untuk masuk SMA. Adikku yang ketiga kini masuk kuliah, walau daring, tetap saja berubah status jadi mahasiswa. Dan aku?


Saat aku sudah benar-benar tidak tahan dengan segala pola yang terjadi di pekerjaan, Tuhan membukakan sebuah pintu untukku. Pintu yang mungkin dulu pernah kupinta, tapi lupa. Sebuah pekerjaan baru datang menyapa, kusambut dengan sigap. Menawarkan pilihan dan memberi kebebasan untuk tetap bekerja dari sini, tempat yang kusebut rumah, atau pindah ke kota mereka; Bali.


Ku memilih pindah. Bukan saja karena aku butuh fresh start, tapi juga aku trauma. Trauma dengan karyawan baru yang belum-belum sudah remote. Walau banyak tempat lain yang berhasil mempraktikannya, tapi jika ku ada pilihan yang lebih menjanjikan, pilihan itu akan kuambil.


Walau ternyata memutuskan untuk pindah pun masih ada sedikit berat.


Tapi itulah pilihan-pilihan yang harus kita buat dalam perjalanan ini. To leave or to stay, pada akhirnya kitalah yang menjadi pilot yang mengarahkan kemudi. Kita pikir hidup ini hanya untuk bekerja lalu mati. Padahal, yang akan dimintai pertanggungjawaban nanti adalah pilihan-pilihan yang kita ambil.


The idea of moving to Bali still scarry and yet exciting. Tidak ada yang lebih menegangkan ketimbang permulaan yang baru. Terlebih bagi orang-orang yang telah menjalani satu jenis kehidupan dengan begitu lama.


Orang memang cenderung tidak suka perubahan. Ras kita tidak di desain untuk itu, sehingga hanya yang kuat sajalah yang mampu bertahan. Dia kuat, karena dia berubah.


Sebuah perubahan adalah pilihan yang diambil dengan penuh kesadaran. Harus hati-hati walau jangan terlalu lambat. Jangan juga terlalu cepat. Sadar dan seimbang. Hanya dengan begitu kita bisa menjadi manusia yang berguna, minimal untuk diri sendiri.


***

Bogor, 2 September 2021

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk