Skip to main content

Kesalahan Paling Fatal dalam Hidup

 



Aku tidak bisa membayangkan jika kesalahan semacam ini terjadi di dalam pilihan yang diambil sekali seumur hidup. Bahkan menuliskannya saja, tanganku tidak berhenti bergetar. Menahan marah selama satu jam lebih mendengarkan sesuatu yang membuat kepala mendidih sambil menahan suara setengah mati agar tidak meledak. Bersyukur, aku tidak meledak. Berusaha untuk tidak melontarkan sedikitpun kalimat yang membuat sakit hati orang lain. Walaupun hatiku sendiri sudah hancur lebur mendengar serpihan kalimatnya.


Adalah sebuah cerita, tentang seseorang yang mulai berfikir untuk menambah rekan di dalam hidup. Untuk menuntaskan misi yang tengah ia emban, ia pikir ada baiknya jika ini dikerjakan bersama orang lain. Orang lain yang dia hadirkan untuk meringankan separuh bebannya. Singkat cerita, kenyataannya justru jauh berbeda. Bukannya meringankan beban, dia justru datang membawa setumpuk masalah. Jauh lebih berat ketimbang saat ia masih sendiri dulu. Hari pun jadi terasa lebih lama dan melelahkan, karena bukan hanya harus menguras pikiran untuk tetap bisa bekerja dengan produktif, tetapi kini ia juga harus terus menerus menetralisir hati yang kian tercabik.


Lisan manusia, tidak ada hubungannya dengan cara ia berpakaian. Intensitasnya berkomunikasi dengan entitas spiritual yang ia yakini, tidak menjamin karakternya akan baik dalam memperlakukan orang lain. Setidaknya, itu yang kini tengah saya alami. Sedikit saya sesalkan, namun menyesal adalah hal terakhir yang saya inginkan dalam hidup. Saya hanya mengambil buah pelajaran dari sini, buahnya besar sekali, sambil melalui ini dengan penuh helaan napas, penuh harap, semoga setiap nyeri yang ia timbulkan, merupakan bayaran atas apa yang pernah saya lakukan.


Sebuah pelajaran tentang salah menilai orang hanya dari penampilan, tentang menghadapi keras kepala dan mudahnya kalimat kasar keluar tanpa perasaan.. ini masih saya syukuri. Karena setidaknya.. setidaknya saya hanya mengalami ini dalam ranah yang masih ada pilihan. Saya masih bisa memilih untuk keluar dari relasi beracun semacam ini, dengan berbagai cara. Ya, pilihan. Saat masih ada pilihan, saat itulah hati menjadi tenang. 


Makanya, sekali lagi saya ingatkan, bagi teman-teman yang hendak akan memilih satu pilihan untuk jangka waktu teramat panjang.. usahakan libatkan Tuhanmu di dalamnya. Selalu libatkan Dia, seyakin apapun hatimu terpaku. Karena hati, selalu salah. Logika pun tidak selamanya benar. Beruntung kali ini saya hanya mengambil pilihan ini sebatas logika, yang jika salahpun masih dapat saya ampuni. 


***


Bogor, Jumat, 13 Agustus 2021

Ternyata memang ada jenis orang, yang karakternya terlalu beracun mematikan hingga tidak ada lagi ruang pengampunan. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk