Skip to main content

How long is forever?

 



Sometimes we got too caught up in a situation and act like there's no tomorrow. As if this condition we live in, will last forever and nothing will ever change. While in reality, life is a series of changes and bad moments. One to another, we cling onto those moments and create a thread we hold tight.


***

Ada satu ayat di dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa setiap manusia akan mengalami hidup yang bertahap. Tahap demi tahap perubahan itu nyata adanya. Hanya saja kadang kita terlalu takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Takut tidak siap atau bahkan takut hari itu tidak akan pernah datang. Sampai lupa bahwa, kita pun perlu bersiap.


Karena jika perubahan itu sudah terjadi dalam satu jentik jari, semuanya berubah. Siap atau tidak siap, terlatih atau belum, kita dituntut untuk lekas beradaptasi. Banyak jiwa yang tersiksa karenanya. Perubahan yang demikian drastis bagi jiwa yang lemah akan menimbulkan depresi, gantung diri, bukan karena koneksinya pada entitas spiritual yang lemah, tetapi ketidaksiapan dirinya dalam memberi ruang untuk perubahan.


Sebuah nasihat terbaik yang saya dengar di minggu lalu yaitu 'don't be too full of yourself' karena kita pun bisa salah. Haha, saya tahu mungkin tidak banyak yang percaya ini. Tapi itu benar. Kamu.. pun bisa salah. Jadi jangan terlalu penuh keyakinan terhadap apapun yang kamu yakini. Karena boleh jadi itu.. salah.


***

Sebuah rumah tangga yang telah dibina belasan tahun lamanya. Dalam beberapa ratus jam lagi akan genap menjadi dua puluh tahun mereka hidup bersama. 19 tahun tentu bukan waktu yang sebentar, apalagi jika harus dijalani oleh orang yang sama. Namun apa yang kita pikirkan tentang dua anak manusia yang telah mengarungi arus waktu bersama? Keterbukaan? Ketiadaan rahasia? Haha. 


Satu rahasia amat besar.. terlalu besar justru diketahui oleh seluruh keluarga besar. Semua, kecuali satu. Satu-satunya orang yang tidak mengetahui rahasia itu, adalah pasangannya sendiri. Ironis, tapi begitulah realita. Saat hidup bersama dalam satu naungan rumah tangga, didoakan untuk bersama hingga surga, tapi baru berbilang puluhan tahun sudah terasa sangat lama.


***

Berapa lama kah selamanya? 

Aku mencintaimu selamanya. Aku ingin hidup denganmu selamanya. Aku ingin bersama denganmu selamanya. Tapi sampai kapankah selamanya yang dimaksud?


Sampai kadar cinta ini habis terpakai?

Sampai ajal menjemput?

Bukankah itu hanya sebentar saja jika dibandingkan dengan seluruh waktu yang ada di semesta?

Bagaimana cara waktu untuk semesta bekerja? Jika waktu di Bumi tercipta dari revolusi kita mengelilingi matahari, lantas bagaimana dengan di luar sana? Bukankah galaksi ini bukan satu-satunya di alam dunia?


Fakta menarik dari akun media sosial berisi jiwa-jiwa kreatif menunjukkan sebuah fakta unik yang dibalut dengan amat apik. Sangat sulit untuk saya lupakan, sehingga saya harus menulisnya di sini. Ada adegan di mana dua astronot mendarat di planet lain, di dalam nya ada bunyi berdenting khusus setiap 1,25 detik. Ternyata bunyi itu menandakan waktu 24 jam yang makhluk Bumi telah habiskan dan di planet itu, yang satu harinya setara 7 tahun di Bumi, 24 jam waktu Bumi setara dengan 1,25 detik.


Itu baru planet yang masih bisa digapai oleh manusia.

Bagaimana. Dengan. Di luar. Sana?

***


Misteri hidup ada banyak sekali.

Tapi kenapa kita masih bergulat dengan ketidakpastian, dan ketakutan akan masa depan padahal semua sudah ada yang mengatur? Justru Yang Maha Mengatur ini lah yang juga mengatur keteraturan ritme waktu yang tidak akan pernah bisa kita pahami semua.

***

Bogor, 17 Agustus 2021

I lost something of mine today, again. Saat saya menyimpan benda itu sembarangan, ada sedikit bisikan bahwa benda itu nanti akan hilang sehingga saya harus menyimpannya di tempat yang lebih baik, tapi saya abai pada bisikan itu. Maka sekarang, sekali lagi saya harus merelakan sesuatu yang sudah saya miliki itu pergi. Walaupun saya tahu, nanti jika situasi sudah kembali normal, outlet ponsel resmi sudah kembali buka, saya bisa membelinya kembali. Namun saya juga tahu, perasaan terhadap benda yang baru itu akan berbeda. Dan rasa yang berbeda itu akan terus ada hingga saya berhasil merelakan benda lama ini benar-benar pergi dan hilang. Bye-bye kepala charger original ku. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk