Skip to main content

Walls up!

 



I'm in the middle of watching Modern Family S7 E7 when it hits me. I realise something about the walls we build as an adult. 


Orang dewasa cenderung sulit dipahami, kadang mereka mengambil keputusan yang membuat kening masyarakat berkerut. Seperti level pembatasan sosial alias ppkm alias lockdown. Karena semakin dewasa seseorang, semakin banyak hal yang dia kubur rapat-rapat. Hal-hal tersebut membawa dia ke arah yang aman bagi dirinya, dan dia ingin melindungi diri dari apa yang sudah dikuburnya itu.


Banyak hal yang orang dewasa kubur; trauma masa kecil, rasa pengabaian, terasing, yang semua mengarah pada insecurity. Orang dewasa takut menghadapi sisi gelap mereka, sehingga mereka tutupi itu semua dengan dinding yang tinggi dan tebal sekali. Akibatnya, jika mereka mengambil keputusan, dan keputusan itu aneh, mereka tidak mampu untuk membubuhkan alasan dan menutupinya dengan diam.


Komunikasi memang kunci dari semua masalah. Komunikasi adalah sumber masalah sekaligus juga obatnya. Komunikasi adalah hal paling sulit untuk dilakukan setelah seseorang menjadi dewasa.


Anak kecil bisa dengan mudah mengungkapkan rasa tidak sukanya pada satu makanan. Orang dewasa akan takut menyinggung perasaan orang jika ia mengungkapkan rasa tidak suka itu, dan memilih tetap memakannya. Walau makanan itu akan menyakitinya.


Kita semua sedang berlindung di balik dinding yang kita bangun. Dinding itu bisa berupa rasa tidak peduli, cuek, dingin, angkuh, atau ramah, ceria, super baik, dan supel. Dinding itu bisa juga disebut dengan topeng. Ada yang memakainya satu lapis, ada juga yang ratusan bahkan lebih. 


Saya paham sekarang kenapa semakin dewasa seseorang semakin sulit mencari pasangan. Selain dindingnya semakin tebal, topengnya semakin berlapis, kita juga lelah. Lelah berekspektasi dan lelah berbasa basi. Kita pun takut dengan hal buruk yang dulu pernah terjadi akan terulang lagi, jadi kita memilih sembunyi.


Untuk itu.. wahai teman-temanku tersayang,

Jika sampai sekarang kalian masih menikmati kesendirian tapi kadang kesepian, dan kalian sadar bahwa kalian hanya sejengkal lagi untuk memulai hidup baru yang penuh petualangan.. maka belajarlah untuk keluar dari tembok itu. Menjadi diri sendiri bukan selalu berarti menjadi orang gila yang seenaknya sendiri. Menjadi diri sendiri adalah tentang penerimaan dan melakukan segala sesuatu dengan ritmemu sendiri.


Relax, you're doing great. You'll get there. Now if you'll excuse me, I have a show to watch.

***

Bogor, 23 Juli 2021

Modern Family is the darkest comedy ever. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk