Skip to main content

Melepaskan Keterikatan

 



Setahun yang lalu, Idul Adha menjadi pembuka jalan bagi saya berlepas diri dari kegalauan soal hati. Perasaan yg saya bawa selama empat tahun lamanya, yang membuat saya lari jauh ke Raijua hanya agar bisa mengakuinya, mulai menemukan titik akhir di Idul Adha 2020. Bukan tanpa usaha, selepas hari yang penuh bahagia itu, saya memutuskan untuk pergi ke pantai. Selama empat bulan lamanya berdiam diri di rumah, akhirnya dua perjalanan itulah yang melepaskan saya dari angan perasaan yang tidak pernah menjanjikan nyata.


***

Langit sore masih memanjakan mata, unjuk kebolehan dengan sempurnanya matahari yang hendak tenggelam. Saya kembali membelah jalanan Pantura sendirian. Ditemani musik pun tidak. Saya hanya ingin hening, berdua dengan Sang Surya, setelah merasakan sendiri betapa sementaranya hidup ini.


Pemakaman yang biasa saya lalui begitu saja, kini sudah dihuni dengan seseorang yang saya kenal-dan saya cintai. Kini, setiap kali melalui area itu, saya memelankan laju mobil dan berbisik.. “Assalamualaikum yaa ahli kubur.. Assalamualaikum Eyang..”


***

Seorang rekan kerja baru saja dipanggil ‘pulang’. Sang Pemilik Semesta menginginkannya kembali di hari yang begitu indah. Lagi-lagi ada orang baik yang berhasil membuat iri. Beliau berpulang di Hari Jumat dalam sepuluh hari pertama Bulan Dzulhijah. Sepuluh hari yang utama untuk berbuat kebaikan, dan di hari yang paling utama pula. Ia pergi meninggalkan seorang istri yang begitu mencintainya. Saya kenal mereka berdua. Kami pernah melakukan perjalanan darat bersama, untuk meeting beberapa hari di Bandung. Dari situ saya tahu, suami istri ini sangatlah romantis.


Bayangkan.. di usia yang sudah separuh abad, mereka masih bisa kerja dalam satu projek yang sama. Masih saling menggoda, dan memanggil dengan panggilan sayang. “Anak-anak sudah besar,” begitu ujarnya, “yang ada hanya tinggal kami berdua” lanjutnya lagi. Karena memang begitulah hidup. Hanya pasangan yang kita pilih saja lah yang paling mungkin untuk menjalani hari tua bersama kita. Anak akan punya kehidupannya sendiri, apalagi sanak saudara.


Aku cemburu pada mereka yang bisa menemukan cinta sejati mereka di sini. Di dunia yang berisi milyaran jiwa, mereka berhasil menemukan satu sama lain. Aku cemburu pada mereka yang berhasil menang melawan jahatnya bisikan dunia, dan pulang dengan nilai yang bagus. Apalagi.. aku makin cemburu jika tahu dia pun meninggalkan pasangan yang teramat mencintainya. Untaian doa kian tak putus sepanjang mereka terus mengenang jasa serta cinta dari nya.


***

Hari ini seisi dunia merayakan kegembiraan berkurban. Perut-perut terisi dengan daging yang dibagi secara gratis. 


Hari ini, hari di mana kita merayakan berlepasnya rasa kepemilikan seorang bapak pada anak yang sangat ia cintai. Bapak tersebut memberi contoh pada unat manusia, bahwa demi Sang Tuhan, anak pun rela ia korbankan. Padahal kita semua tahu, mencintai anak lebih mudah ketimbang mencintai Tuhan yang hanya bisa dirasakan hadirnya oleh hati. Melalui cerita itu, Pemilik Semesta ini ingin kita memaknai, bahwa tidak ada yang benar-benar sejati di dunia ini. Semua akan fana pada saatnya, hilang, redup, tenggelam, lenyap.


Cinta.. sangat erat kaitannya dengan keterikatan. Rasa memiliki yang tinggi hingga selalu ingin bersama. Padahal bukan di sini tempat untuk berselamanya.


Maka hari ini, sejatinya kita belajar untuk mencintai dengan sekadarnya. Patuh pada garis batas yang telah Ia ciptakan. Meletakkan tangan pada genggaman, dan bukan di hati. Letak cinta di dalam hati, hanya pantas diberi untuk Dia yang menciptakannya. Sang pencipta cinta, lebih tahu apa yang makhluknya harus lakukan jika berhadapan dengan perasaan paling indah sekaligus mematikan ini.


***

Bogor, 20 Juli 2021

Selamat Idul Adha

Comments

Popular posts from this blog

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam