Skip to main content

M for Mother

 



Kalau ada yang bilang "ih jadi orang jangan terlalu pemilih.. udah jalanin aja" kamu harus bisa berpikir kritis terhadap pernyataan semacam ini. Saya tidak akan bilang pernyataan ini salah, tapi juga tidak akan membenarkan orang yang ngomong gini di depan muka saya.


Tapi memang betul, hidup harus dijalanin saja, asal pilihan itu memang sudah kita ambil dengan penuh kesadaran. Bahkan pilihan yang diambil secara hati-hati pun di tengah jalan pasti ada saja konfliknya. Saya tidak mau kalian menderita karena salah pilih dan menyesali setiap detiknya dengan bilang "Kalau saja waktu itu saya tidak berpikir begini.. pasti saya akan pilih yang itu.." karena itu adalah kalimat favoritnya setan.


Seorang ibu adalah orang yang terus menerus harus menentukan pilihan. Dari yang sifatnya keseharian seperti sandang dan pangan, sampai hal-hal berat lain untuk keluarganya. Untuk itu, penting bagi perempuan agar bisa mengenal dirinya sendiri dan memahami cara mengambil keputusan sebelum dia menjadi ibu. 


Karena rasanya menyesal akibat salah pilih itu benar-benar.. menyiksa. Saya baru rasakan itu sekarang, dan dari sini saya belajar bahwa kita tidak boleh menjadikan the bare minimum sebagai standar. Hanya karena dia solat lima waktu, tidak berarti dia adalah manusia dengan good attitude. (Terima kasih video tiktok, sudah menyadarkan saya tentang ini). Waktu itu saya memang terlalu terbutakan oleh wah orang beragama, rajin solat, memenuhi syariah Islamiyah pasti akhlaknya baik. Padahal, apa yang tampak di depan mata semata-mata adalah ibadah ritualnya dengan Yang Maha Kuasa. Urusan karakter dan akhlak, beda lagi. 


***

Perut saya perih seharian ini, jangankan masak, bergerak pun sulit. Saya kaget karena bangun dengan kondisi yang sangat asing seperti ini. Terakhir kali saya merasakan sakit perut sebegini dahsyat, yaitu sewaktu saya mau berangkat ke Gorontalo untuk daftar sekolah. Selama tiga hari saya mengurung diri di kamar sambil ketakutan, kalau-kalau sakit seperti ini saya rasakan saat sendirian di asrama nanti.. Ternyata tidak pernah terjadi, hingga enam belas tahun kemudian. 


Makaroni ngehe, junk food dimakan pake saos empat bungkus, cola, yah.. saya melanggar semua aturan saya sendiri hanya demi kesenangan sesaat dan sekarang saya terima akibatnya. (Walau sambil memohon-mohon untuk dijemput mereka dan dibawa ke Pamanukan saja).


Kalau mau jadi ibu, harus tahu bagaimana mengatasi diri sendiri di saat seperti ini. Supaya jelas apa yang mereka bisa lakukan untuk membantu. Kan gimana mau dibantu kalau situnya aja ga ngomong.

**

Bogor, 7 Juli 2021

I got another job offer, kali ini mereka benar-benar menginginkan saya di sana. Entah apa ini karena subconscious saya meronta saking galaunya. Di saat yang sama, orang yang saya rekrut untuk membantu meringankan pekerjaan saya, justru malah sebaliknya. Setiap kali pikiran saya bergejolak menahan kesal, perut saya bergejolak mengirimkan rasa sakit yang teramat.. perih. Tuhan.. segini belum melahirkan ya..


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk