Skip to main content

F for Father

 



Saya tidak percaya adanya kebetulan, karena apapun yang terjadi dalam hidup kita di dunia ini memang sudah dirancang. Jika rasanya seperti kebetulan, ya karena Sang Perancangnya Maha Teliti, tahu kapan waktu yang tepat untuk membuat kita merasa sesuatu dan menghadirkan jawabannya dari arah tak terduga.


Sering sekali saya mengalami kejadian seperti ini: terlibat dalam pertanyaan yang dalam dan rumit, sampai tidak tahu bagaimana harus mencari jawabannya. Lalu saya buka sosial media, youtube atau apalah, dan melintaslah jawaban itu dalam bentuk video atau kalimat sederhana. Hal ini terlalu sering terjadi, sampai saya menyangka AI tidak lagi dirancang untuk mendengarkan manusia tapi juga memahami jalan pikirannya. Mungkin ada frekuensi tertentu yang terbentuk saat otak sedang memikirkan sesuatu yang bisa ditangkap oleh vibrasi magnetik dari alat elektronik dan menerjemahkannya ke dalam algoritma yang menghadirkan topik relevan untuk kita nikmati.


Malam ini sebuah film muncul di laman streaming saya. Setelah berbicara dengan psikolog beberapa hari lalu dan mencoba mempraktekkan 're-parenting my inner child', saya jadi membayangkan akan menulis sebuah cerita tentang perempuan yang bertemu dengan sosok dirinya sendiri saat masih kecil. Dialog mereka adalah dialog yang ditujukan untuk saling memperbaiki satu sama lain. Ternyata, cerita seperti itu sudah pernah dijadikan film dua puluh empat tahun lalu dan sama persis dengan apa yang saya alami; berprofesi sebagai konsultan, sukses dan punya semuanya, tapi menghindar dari komitmen hubungan romantis. Tulisan ini saya tulis setelah menyelesaikan film ajaib itu, yang entah kenapa baru menarik minat saya (padahal sering lihat covernya lalu lalang di laman utama).


Satu hal yang saya soroti adalah hubungan ayah dan anak dalam cerita tersebut. Hubungan mereka rusak total saat si anak sudah dewasa, dan bentuk tanggung jawabnya sebagai anak kepada sang ayah hanya melalui uang-uang yang dia kirim. Sikap sang ayah yang sangat keras padanya saat ia masih kecil menyisakan luka mendalam yang ia jadikan bahan bakar untuk jadi yang terbaik di sekolah, lulus dengan pencapaian luar biasa, dan mendapat pekerjaan dengan bayaran tinggi.


Seringkali memang kita terlalu terfokus dengan peran ibu dalam pendidikan anak sebagai madrasah pertama, sebagai guru dan segalanya. Padahal figur bapak dalam tumbuh kembang anak juga sama penting, dan justru krusial jika sampai tidak ada. Sehebat apapun didikan seorang ibu tetap tidak akan sempurna jika tanpa diimbangi dengan logika dan kebijaksanaan seorang bapak. Mother sets the tone for the education, discipline and basic life survival. Father sets the tone for the meaning and wisdom of life. Itu juga yang saya simpulkan dari buku Little Prince.


Saya juga masih ingat betapa saya sangat mengidolakan papa saya. Jika beliau pergi terlalu lama, saya akan sakit demam berhari-hari dan langsung sembuh sesaat setelah dia pulang. Jika dia mau keluar rumah, saya akan menangis meraung-raung memintanya untuk tetap tinggal. 


Sayangnya, laki-laki sering menyangka, anak hanya butuh pendidikan seadanya. Uang yang dia hasilkan untuk membayar sekolah mahal dan ibu yang setia mendampingi anak-anak belajar, dikira sudah memadai dan tidak butuh campur tangannya lagi. Dia sudah capek bekerja, pulang ke rumah inginnya tidur dan mengistirahatkan pikiran. Lupa kalau ketidakhadirannya mempengaruhi kestabilan emosi sang anak.


Saat ini saya sedang baca buku Psychology of Money. Di dalamnya banyak sekali petuah lama yang sering kita dengar tentang uang dan harta, tapi saat membacanya masih saja bisa bikin ber 'ooh' pelan. Betapa beruntung anak-anak yang dibesarkan oleh ayah yang membaca buku ini, juga Rich Dad Poor Dad, atau scarcity. Atau minimal ibunya deh yang baca.


Tulisan ini juga sekaligus sebagai pengingat, bagi siapapun yang kelak akan menjadi seorang ayah, seorang bapak bagi anak-anaknya, bahwa jangan pernah menggadaikan waktu bersama anak-anak hanya demi ekstra lembur yang tidak seberapa itu. Jangan pernah menukar kesempatan untuk bisa bersama anak-anakmu demi kesenangan sesaat. Saat kalian setuju untuk menikahi ibu mereka, saat itu juga kalian setuju untuk merelakan sedikit dari waktu istirahat demi membesarkan seorang manusia. Manusia ini kelak akan punya masa depan, dan masa lalu. Jangan sampai masa lalunya menjadi bagian dari memori yang mati-matian ingin dia hapus, karena dia teramat membencimu.


***

Bogor, 6 Juli 2021

I love you, Mima. And I'll keep telling you this until you believe me. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk