Skip to main content

Bagaimana kabarmu?




Jika duniamu dan duniaku sama, maka dunia kita sedang tidak baik-baik saja.

Sosial media yang biasa menjadi penglipur lara, kini justru menjadi penimbul duka.

Berita kematian silih berganti, menyisakan lubang gelap di dalam hati. Kian lama kian membesar, membuat langit biru bersih nan cerah pun tidak sanggup menyinarinya.

Kita kini tengah hidup di dalam bayang-bayang ketakutan. Ketakutan akan esok hari yang datang. Nama siapakah yang akan melintas di dalam pesan itu? Akankah seseorang yang kita kenal? Atau justru.. nama kita?

Cekaman ekonomi terus menghantui. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dan kita kini bergantung pada pekerjaan yang mungkin tidak kita senangi. Yang menyisakan tangis di setiap akhir hari, karena berhenti.. tentu bukan pilihan.


Kini kita tengah lelah untuk berpura bahagia. Berpura bahwa semua ini akan baik-baik saja. Berhenti menggantungkan harapan pada tahun yang akan datang. Kenapa? Sama saja. Toh kemarin pun kita berharap pada tahun berikut, agar dapat melambaikan bendera perpisahan pada virus laknat nan mematikan. Ternyata sama saja, bukan?


Dunia sedang tidak baik-baik saja. Watak serakah tanpa malu-malu menampakkan dirinya. Memanfaatkan ketakutan dan cekaman untuk dikonversi menjadi pundi-pundi rupiah. Orang baik kehabisan energi, lelah menghadapi rasa sedih yang bertubi-tubi. Kita semua ingin menolong dunia, tapi apa yang kita bisa.. selain menyaksikan video-video pendek tanpa jeda.


Tulisanku ini bukan untuk menjadi kaca pembesar pada masalah yang tengah kita hadapi bersama. Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa dunia kini sedang tidak baik-baik saja, dan tidak apa-apa jika dirimu pun tidak baik-baik saja.


Tidak apa-apa bahkan jika kau menangis sendirian di tengah malam mu yang gelap. Di dinginnya angin malam tak berkawan. Tidak apa-apa jika kau merasa ini seperti kiamat. Saat kota berubah menjadi sepi, meninggalkanmu, menjadikan sendirimu terasa semakin nyata.


Aku pun tidak berjanji bahwa ini semua akan baik-baik saja. Karena hidup memang dapat terprediksi, tapi tetap ada ruang baginya untuk berbelok arah, menukik tajam, menghadirkan yang tak terduga. Sesiap apapun kita pada duka, tetap akan sulit bagi kita untuk menerimanya. 


Wajar jika sekarang rasanya kau hanya ingin berdiam diri. Berdiam diri dan tenggelam dalam pikiran gelapmu. Berdiam diri dan menjauh dari siapapun. Tidak apa-apa. Karena kau tidak sendirian. Semua orang dari duniaku pun melakukannya. Kita melakukan ini bersama-sama. Sendiri dalam diam kita, seolah berputus asa. Tapi kita tidak boleh berputus asa, ya. Aku tahu ini gelap dan kelam dan seolah tak ada jalan keluar, tapi putus asa tidak boleh sedikitpun bertengger di hati kita. Cahaya itu harus tetap ada walau sedikit. Beri dia ruang di dalam sini untuk tetap bersinar. Antara cahaya harapan dan gelapnya ketakutan, biarkan mereka berseteru di dalam ruang hati kita. Tapi kita tidak boleh membiarkan cahaya itu padam. Tidak walau sedetik.

***

Bogor, 12 Juli 2021

My parents and my sisters are here, it's been three days now.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk