Skip to main content

Almost 30

 



Looking back.. this month last year, adalah saat di mana saya menemukan momentum yang lumayan membelokkan arah hidup. Idul Adha jadi penanda, karena selama empat bulan saya berdiam diri di rumah, sendirian, dan benar-benar tidak keluar pagar. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk mengunjungi Eyang setiap bulan secara rutin, yang saya wujudkan. Setelah Idul Adha saya memutuskan untuk pergi ke pantai, mengajak seorang teman, dan melepas tuntas perasaan yang sudah membelenggu selama empat tahun lamanya. Setelah itu.. saya jadi orang baru.


Orang yang tidak peduli lagi akan detail remeh temeh. Orang yang tidak peduli dengan drama, dan masa bodoh dengan apapun anggapan orang lain. Saya tidak lagi peduli jika sikap saya dianggap menyebalkan, jika saya sedang tidak mau melakukan sesuatu, I say it loud and clear.. but not that loud.. you know..


Karena setelah perjalanan ke pantai di area Pelabuhan Ratu itu, pulangnya saya melihat sebuah postingan yang seakan menjawab pertanyaan yang memenuhi kepala saya. Tentu saja tentang pekerjaan, postingan itupun berupa sesi kelas gratis tentang hal yang saya kerjakan. Pola itu kini kembali terjadi. Pagi tadi saya bangun dan mendapati sebuah pesan pengingat bahwa saya ada sesi kelas pukul dua belas siang. Bahkan saya pun lupa sudah mendaftar kelas itu. Ternyata kelas itu bukan seperti kelas yang saya bayangkan, melainkan sebuah sesi privat yang menjawab semuuua pertanyaan yang bertengger di kepala saya selama seminggu ini.


Begitu cara semesta mendatangkan jawaban, jadi.. ngapain sih terlalu khawatir dan persnickety.

***


I'm almost thirty now, dan baru menyadari tentang banyak sekali hal yang saya tidak mengerti kemarin. Bener kata Suhay Salim, anak di bawah tiga puluh otaknya belum jadi.


***

I guess I just wanna be real right now. Less fake, less drama. I don't care if people don't like me, also I'm good if they do. I'm not gonna try too hard on everything, unless if it serves my purpose in life. Boy, do I found my purpose already? you bet!


***

I love July. The warm and clear blue sky reminds me of when I had a hot summer in Vietnam. Twas forty degrees, I couldn't stand the heat. 


***

I hope you guys still there. Sane, and read everything online. Stay sane, alright? We'll get through this.

***

Bogor, 21 July 2021

For the record, I've been switching tabs from scrabble game to disney plus watching Modern Family. This is my guilty pleasure. Binge watch until two am, take hours of break just to watch a couple episodes or finish one or two levels from the game. You know.. killing time. It's better then me killing my self.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk