Skip to main content

Acceptance, Contentment


 

Teruntuk teman-temanku tersayang, ijinkan aku mengingatkan kita semua tentang satu hal, bahwa apa yang kita tidak miliki sekarang, bukan jaminan kebahagiaan. Jangan tunggu untuk memiliki yang tidak ada hanya agar bahagia. Bukan di situ letak bahagia itu.

***


Pukul lima sore adalah waktu favorit saya untuk nyetir di jalan besar. Pantura-Cikampek khususnya, karena pada jam itu, matahari sedang menunjukkan kebolehannya. Bersinar teduh namun tegas, bulat sempurna kemerahan warnanya dan berada tepat di depan mata kita. 

Perjalanan menuju Bogor sore tadi amat dimanja oleh matahari yang seperti di lukisan-lukisan mahal atau hasil karya fotografer ternama. Sungguh hati ini meronta ingin menghentikan laju mobil, berdiri di tengah jalan, mengangkat kamera dan membidiknya. Indah jingga cahayanya, tunggal di tengah langit luas kelabu. Sesekali dia berada di atas pepohonan, layaknya adegan dramatis cuplikan film perjalanan. Hingga saya menyaksikannya tenggelam. Dari ketinggian jalan tol layang, matahari perlahan menukik mundur. terus ke bawah hingga bersentuhan dengan gedung tinggi nun jauh di sana. Dalam sekejap posisi kami tidak lagi sejajar, matahari berada sempurna dibalik gedung, sebelum terbenam dibalik awan menyisakan langit sore kemerahan.


Adegan itu terekam sangat jelas bahkan sampai sekarang. Langit dan fenomenanya memang lebih dari cukup untuk mengobati hati yang sedang bosan dengan atap dan dinding. Ada beberapa pekerja yang masih berkutat dengan pembangunan monorail saat detik-detik matahari hendak terbenam. Dari ketinggian, tanpa terusik kendaraan lalu lalang, mereka berdiri persis di depan Sang Surya. Duhai jikalah mereka menyadari, betapa beruntung bapak-bapak itu bisa bekerja dari tempat yang menyajikan pertunjukan teramat megah. 


Saya mematikan musik saat langit mulai gelap. Ingin mengendarai mobil dalam hening saja kali ini. Karena ini adalah kepulangan pertama yang ditujukkan bukan untuk menengok Eyang.


Rutinitas one-day trip ke Pamanukan ini sudah rutin saya jalankan sejak Oktober 2020. Sebelum Eyang jatuh sakit dan lumpuh total. Saya sempat mengajak Eyang jalan-jalan, keliling naik mobil dan membeli makanan kesukaannya. Kenapa hanya satu hari? Karena saya masih berkomitmen pada jualan juice Minggu & Senin kala itu. Hari ini saya memutuskan untuk kembali menjalankan kunjungan satu hari tersebut, walau tujuannya berbeda, yaitu untuk menengok mama, papa, dan adik-adik yang sedang tinggal di sana. Mereka lebih memilih tinggal di Pamanukan ketimbang bersama saya di Bogor sini. Maklumlah, tidak banyak memang yang bisa dilakukan di rumah berukuran enam kali enam meter ini. 


Pikiran saya melayang ke hari itu, hari terakhir saya berpamitan ke kamar Eyang selepas merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Beliau tidur dengan kepayahan, tidak lagi merespon apapun yang saya utarakan. Bahkan untuk mencium tangannya pun saya harus menunduk sampai ke kasur karena Eyang tidak lagi mengangkat tangannya. Walau sebelum itu, kami sempat bermain genggaman tanggan. Tangan kami saling menggenggam, lalu Eyang akan melepas genggamannya, lalu mengeratkannya lagi, begitu berulang-ulang. Tangan Eyang dingin, dan yang saya tanyakan hanyalah 'Eyang kedinginan? Matiin atuh kipasnya yah?', namun beliau tidak merespon. Betapa bodoh saya. Jika saja saya sadar bahwa itu tanda ia hendak berpamitan, tentu saya tidak akan pulang malam itu, meninggalkannya sendirian merenggang nyawa. 


Saya masih ingat, sesampai di rumah jelang tengah malam, setelah membersihkan semuanya dan bersiap tidur, saya berbisik di dalam doa. Ya Allah, aku ikhlas sekarang. Eyang sudah sangat kepayahan. Aku tahu, selama ini aku minta, agar Eyang bertahan sampai nanti tiba waktunya orang yang akan datang padanya, dan berjanji untuk menjagaku selamanya. Setidaknya agar Eyang tahu siapa nanti yang kelak akan bersamaku. Tapi sekarang aku ralat pinta itu, Ya Allah. Tidak apa-apa jika pun Eyang tidak sempat melihat siapa dia, Eyang pasti senang dengan pilihanku, siapapun dia nanti. 


Acceptance. Malam itu, saya mempraktikkan acceptance. Penerimaan bahwa tidak semua hal yang kita inginkan bisa kita kendalikan. Tidak semua yang kita inginkan akan terkabul, dan itu tidak apa-apa. 


Paginya hanya berselang satu jam dari bangun tidur yang damai, saya mendapat telepon yang isinya hanya isak tangis. 

***

Saya tahu ini bukan hal baru dan malah terdengar klise, tapi bukankah kita semua menghendaki kebahagiaan di dunia ini?


Kita cari kebahagiaan di manapun berada. Di gemerlap dunia malam, di sesak kereta untuk bekerja menunaikan kewajiban, di video tak berujung yang berisikan polah warga dunia.. bahkan tidak jarang kita menyakiti diri sendiri atas nama kebahagiaan. 


Kadang kita dibuat percaya, bahwa apa yang tidak kita miliki, harus kita kejar karena itu adalah sumber kebahagiaan. Yang tidak punya pacar, menghendaki punya pacar agar bahagia. Yang tidak punya uang, menghendaki punya uang agar bahagia. Yang punya pacar dan uang, menghendaki barang-barang mewah agar bahagia. Lagi dan lagi kita dibuat untuk selalu haus akan apa yang tidak kita punya. Kita dibuat sadar betul dengan lubang kosong yang harus segera ditambal, sampai lupa bahwa lubang kosong itulah justru yang membuat sekitarnya menjadi cantik karena variasinya.


Percayakah kamu jika saya bilang bahwa letak kebahagiaan adanya di sense of enough? Menerima bahwa apa yang tidak kita miliki memang menjadi kekurangan kita, tapi kita baik-baik saja tanpanya. Minimalism adalah tentang seni menerima keadaan, berdamai dengan kekurangan dan memanfaatkan secara maksimal ruang dan benda yang kita miliki sekarang. Jika kita hidup dengan penuh kesadaran (consciousness), kita akan tahu bahwa selama ini pun setelah satu impian tercapai, setelah satu lubang terisi, akan ada lubang lain lagi yang menganga kembali. Jika kita terus fokus pada lubang tersebut, sampai akhir hayat pun kita tidak akan pernah mengenal yang namanya kebahagiaan sejati.



Hidup yang disertai dengan kesadaran, menghadirkan hati dan pikiran untuk saat ini dan bukan terlalu sibuk merencanakan masa depan, adalah cara kita bisa menerima keadaan. Menerima bahwa kita memang tidak punya kontrol terhadap apapun kecuali diri kita sendiri. Menerima bahwa ada power yang jauh lebih besar yang bisa membuat kita bahagia, sedih, kecewa, menghilangkan sesuatu yang kita sayang, mengakhirkan sesuatu yang tidak kita inginkan tuk berakhir, dan menerima bahwa satu-satunya yang bisa kita kendalikan hanyalah reaksi terhadap perubahan eksternal itu.


Syaithan memang menginginkan manusia untuk bersifat serakah. Sebagaimana dirinya yang ingin menjadi kesayangan Tuhan padahal sudah diberi tempat yang baik di surga. Dan kita pun sebagai manusia, pasti punya sifat serakah itu, no matter what we breed we still are made of greed, kata sebuah lirik lagu. Perang yang sedang kita hadapi di dunia ini sejatinya hanyalah memerangi nafsu dan keserakahan di dalam sendiri. Cerita hidup ini ternyata hanyalah tentang pertempuran kita dan pasukan syaithan yang terus menerus membisikkan keburukan dari berbagai arah, dengan berbagai cara dan kini melalui berbagai media. Hanya dengan acceptance, dengan sadar menerima ketidaksempurnaan hidup inilah kita bisa menang melawan mereka dan menemukan bahagia yang kita cari-cari.


Hidup memang selalu penuh kekurangan, dan kita terlatih sejak kecil untuk menemukan kekurangan. Mahasiswa baru masuk ke dunia kampus sudah diteriaki sebagai Agent of Change, dengan ambisi untuk mengubah sistem, mengubah dunia, tanpa diberi kesempatan untuk melihat bahwa sebetulnya dunia sudah baik-baik saja. Yaaa, ada satu dua masalah di sana dan di sini, tapi bagi orang yang buta akan dunia nyata dan hidup di dunia utopis, masalah-masalah itu adalah monster yang harus dibabat habis sampai ke akar, diperjuangkan dengan urat leher dan darah, sampai hilang semua cahaya bahagia di wajahnya karena sibuk memikirkan dunia. 


Bukan berarti sekarang kalau saya lihat deforestasi atau konflik tenurial saya akan bilang 'ya sudah terima saja, memang sudah begitu cara orang berkebun sejak rezim lampau', ya ndak. Kita bisa tetap melawan dan tidak setuju dengan praktik perusakan lingkungan, tapi bisa juga melakukannya dengan elegan tanpa menyedot habis aura bahagia dari tubuh kita karena terlalu marah dengan para pebisnis kelas kakap tersebut. (Lagipula kalau kita melawan, dan perlawanannya dengan terus menerus menulis tagar di media sosial, apakah ada efeknya jika yang dilawan adalah perusahaan yang punya kebun ratusan ribu hektar. Cerdas sikitlah).


***

Sebetulnya sekarang ini saya sedang dalam 'perjalanan' menyembuhkan inner child. Beberapa waktu lalu saya memutuskan untuk meminta bantuan profesional, yang menggali saya sangat dalam, begitu dalam sampai saya terduduk di lantai menangis dengan air mata sangat deras tanpa suara karena sembari mendengar kata-kata yang dilontarkan psikolog itu. Saya memilih berkonsultasi ke psikolog ketimbang curhat ke teman, karena saat ini saya sudah tahu di mana letak masalah yang ingin saya perbaiki. Jadi curhatnya pun bukan lagi mengelaborasi masalah tetapi menceritakan pokok isu dan output yang saya harapkan. Ternyata benar, jika profesional yang kita hadapi, dia tahu apa yang kita mau dan bisa memberikan sesuai dengan yang kita ekspektasikan.


Saya pun tidak pernah tahu sebelum ini kalau ternyata, segala bentuk pola yang terjadi dalam interaksi sosial saya, berujung pada inner child yang punya luka. Trauma masa kecil punya peran paling besar ketimbang trauma lain yang sifatnya fisik. Jika trauma fisik itu terjadi saat seseorang masih kecil, efeknya pasti dobel. Saya baru tahu sekarang, dan berkat sesi tersebut saya dibawa ke arah penerimaan. Accepting my childhood, dengan saya menjadi orang tua bagi diri saya sendiri selagi masih kecil. Sungguh ini adalah proses yang sangat sangat aneh. Baru satu menit bisa bikin nangis tiba-tiba.


Output yang diharapkan memang sederhana, hanya agar saya bisa berdamai dengan ingatan tersebut. Jika ingatan itu muncul lagi, reaksi saya sudah bisa lebih ringan dan bukan buru-buru menepisnya pergi hanya karena takut sakit. 


At the end of the day, when we're looking for happiness the only way to get it is by accepting who we are, how we were, thus lead to contentment. Only when we content with our life and our selves, happiness will find its way and lead us to many more possibilities.

***

Bogor, 3 Juli 2021

I love you, Mima.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk