Skip to main content

Next Level: Ego

 



Slow success builds character, fast success builds ego. 


Ini kutipan bagus yang saya lihat tidak sengaja di media sosial. Kenapa saya bilang bagus?


Jadi beberapa hari lalu saya pernah menulis "..tidak semua orang seberuntung itu bisa memulai karir dari bawah sebelum dipertemukan dengan pekerjaan impiannya..". Karena yang saya rasakan, memang merupakan anugerah luar biasa dan saya sama sekali tidak menyesali jalan ini. Pekerjaan ini yang menemukan saya. Tanpa melamar, saya bisa masuk menjadi staff tetap sebuah perusahaan yang menggaji lumayan dengan cara bekerja yang menyenangkan. But nothing in this world is designed to be permanent, not even your dream job. Akan ada satu fase di mana semua kebahagiaan dan kesenangan itu, tertutupi oleh gajah yang begitu besar dan berat. Membuat segala yang menyenangkan jadi tidak semenyenangkan itu lagi. 


Baru saya temukan rintangan ini setelah "dilamar" oleh beberapa lembaga yang menawari saya pekerjaan lain yang juga sama menyenangkannya. Namun, lagi-lagi saya dibutakan oleh ekspektasi. Sesuatu yang saya jalani selama lima setengah tahun lamanya ini telah menjadi zona nyaman baru bagi saya dan saya pun terbiasa dengannya. Ada ego yang harus digerus jika saya hendak mengiyakan tawaran-tawaran itu.


Bagaimana dengan pindah ke luar kota? Apakah saya siap untuk beradaptasi lagi dengan kamar baru? Bagaimana dengan kamar ini? Bagaimana dengan rutinitas pagi membaca buku satu jam, menulis satu jam sebelum tidur, apakah ada meja yang nyaman untuk saya pakai? Bagaimana dengan kursinya? Saya duduk berjam-jam di kursi yang saya beli, dan apakah saya harus beli lagi kursi yang sama? Bagaimana jika nanti saya tidak bisa beradaptasi dengan cuacanya? Siapa yang nanti akan mengurus rumah ini?


Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di pikiran. Sudah sebulan terakhir ini saya meninggalkan semua rutinitas baik yang saya bangun susah payah setelah baca buku scarcity dan atomic habit. Pola makan pun kacau, tidak ada lagi asupan rutin juice buah dan sayur mentah organik yang biasanya selalu ada di kulkas. Antara menggerus ego dan menyiapkan mental untuk kemungkinan baru, ternyata sangat menguras energi.


Jadi begitu rupanya.

Jika jalanmu mulus di awal, jangan sampai itu membuatmu lengah. Jangan kamu pikir jalan itu akan terus mulus dan jika suatu saat kamu bosan, kamu bisa mengulangnya lagi dengan cara yang sama mudahnya. Ada yang bilang keberuntungan tidak datang dua kali, tapi bagi orang beriman, tentu tidak percaya akan adanya keberuntungan. Yang ada hanyalah rahmat Tuhan, dan kepantasan. Mungkin waktu itu kamu memang pantas diberkahi sedemikian melimpah, mungkin kali ini pun sama, tapi untuk bisa sampai ke situ, terlebih dahulu kamu harus menggerus sampai habis batu kerikil bernama ego itu.


***

Yang saya pelajari dari Story Night Nouman Ali Khan berjudul Whisper, yaitu superpower manusia terletak pada ruh nya. Karena ruh itu adalah bagian dari Sang Pencipta yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Baru sekarang saya mengerti, ruh itu pun datangnya sepaket dengan ego. Karena ego datangnya dari setan yang membisiki. Setan bersumpah untuk tidak pernah membiarkan manusia lepas dari bisikannya sampai akhir zaman. And here we are., dealing with our superpower and its challenge, all at once.


Selamat menikmati, menggerus ego. Pertarungan dengan diri sendiri hanya akan dimenangkan oleh pemimpin sejati. Aku harap kamu menang.

***

Bogor, 28 Juni 2021

Dan aku berdoa, siapapun yang berbuat curang dalam bisnisnya, pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal, dunia dan akhirat.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk