Skip to main content

I'm your peace


 


Saya belajar satu hal hari ini, dan lagi-lagi tentang Ruh. Topik yang tiga tahun lalu membawa saya ke ceramah Nouman Ali Khan dan menyeret saya ke kesadaran baru tentang manusia dan perannya di Bumi. 

***

Dulu sekali, mantan pacar saya pernah berkata.. "kamu tidak bisa bikin aku merasa tenang.." karena memang saya sendiri saat itu belum kenal dengan rasa 'tenang' yang sebenarnya. Usia saya dua puluh tiga saat kita berencana untuk menikah. Saya baru akan lulus kuliah (cenderung terlambat memang), dan belum ada kepastian karir nanti akan seperti apa. Pikiran saya sibuk dengan rencana-rencana visi masa depan, sedangkan si mantan lebih suka untuk mengikuti alur. Dia sudah punya pekerjaan, tapi pekerjaan itu akan membuat kami --kalau jadi menikah-- harus tinggal di luar Pulau Jawa. Walhasil, yang terus saya bicarakan adalah tentang rencana, strategi, dan visi. Tentu bukan topik menyenangkan untuk dibahas dua orang muda yang clueless. Makanya dia bilang, saya bukan sumber ketenangannya. 


Tidak lama setelah dia bilang begitu, saya meminta untuk menunda pernikahan, sampai akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut yang langsung saya iyakan.


Lima tahun berlalu, dan ternyata, saya masih ingat kata-kata yang dia ucapkan. Bahkan setelah saya dengar dari Nouman Ali Khan hari ini tentang heaven on Earth yang dimaksudkan dalam konteks pernikahan. Ternyata benar ya, orang bisa lupa dengan apapun yang pernah kamu lakukan padanya, tapi mereka gak bisa lupa dengan perasaan yang kamu timbulkan untuknya.

***


'Companionship is the piece of heaven on Earth..' Nouman Ali Khan membuka topik ini dengan suara pelan. Sengaja diberi penekanan pada konsep heaven on Earth yang dimaksudkan dalam pernikahan. Karena memiliki pasangan yang sejalan adalah bagian dari kenikmatan yang kita dapatkan di surga nanti. Bukan karena cintanya, birahinya, atau hal-hal yang bisa dijelaskan lain, tetapi soal companionship. Jika diartikan sebagai kebersamaan tentu maknanya jadi kurang dalam..


'If your spouse is your peace.. you can't wait to talk to them, to call them in the middle of the day, you can't wait to come home to see their face..' jelas Nouman Ali Khan lagi 'it's different with love. Yes you can love your children, but they can't be your source of tranquility..' kurang lebih seperti itu lanjutnya, sambil membercandai anak-anak yang ada di ruangan. 


Bukan cinta, tetapi kedamaian itu lah yang menjadi goal utama dalam pernikahan. Cinta ada untuk menciptakan kasih sayang dan rasa peduli, dan dari situlah timbul rasa damai dan tenang bagi satu sama lain.


Sekarang baru saya mengerti, dan untuk itu saya sangat berterimakasih. Butuh waktu dan perjalanan sebegini panjang dan lama bagi saya untuk memahami soal ini; kamu tidak bisa menjadi sumber damai bagi orang lain, jika dirimu sendiri tidak bisa merasakan damai dari dalam dirimu. 


Kita sering dengar kan orang-orang bilang 'berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan masa lalu.' Karena memang itulah yang sering kita abaikan jika hidup sudah terlalu kompleks dan penuh ketakutan. Seringkali kita tidak sadar bahwa kita punya ketakutan/kecemasan seperti itu, karena bisa jadi kita pun dibesarkan di bawah orang tua yang punya anxiety berlebihan. Kita terlalu terbutakan oleh slogan dan konsep umum bahwa orang tua adalah makhluk suci yang tahu segalanya, tapi kita lupa bahwa mereka pun manusia juga yang punya mental health. Mental health mereka tidak selamanya imbang, dan sayangnya sebagai anak, kita tidak akan pernah tahu seberapa 'tidak imbang' nya mereka, karena sebagai anak kita hanya harus selalu menerima. 


Tapi soal bagaimana masa kecil kita, bagaimana cara kita dibesarkan, itu adalah cerita lama yang tidak bisa kita putar kembali untuk diperbaiki. Yang ada sekarang hanyalah menghadapi apa yang saat ini kita punya, jika itu butuh menghidupkan kembali memori lama, silakan saja, asal tujuannya untuk menerima. Merengkuh masa lalu, sehitam dan segelap apapun itu, untuk diterima, dan dimaafkan. Jika untuk damai itu datang kita harus memaafkan diri sendiri, apapun caranya harus kita tempuh. Karena kita ingin membuka pintu yang baru. A clean slate, that's what we want. It requires peace, so find it. 


"Peace is the state of being, the goal in companionship." Nouman Ali Khan

***

Foto di atas tentu tidak ada hubungannya dengan peace yang sedang saya coba promosikan. Foto itu diambil karena adik saya yang bungsu akan dikirim ke sekolah berasrama mulai dua minggu depan. Di sana mereka diwajibkan bercadar, dan mama membelikan beberapa set kerudung-cadar lewat aplikasi online. Kerudungnya baru sampai, jadi kami langsung coba. Sekali jepret dan saya upload, mengundang banyak sekali tawa. Juga doa. Haha.


***

Begitulah hari ini saya belajar, dari Story Night berjudul Whisper. Saya habiskan Sabtu seharian sampai malam, mengagumi Nouman Ali Khan. I have a soft spot for intellect people like him. Pengajar, dosen, guru, apapun lah yang sifatnya public speaking dan membagi-bagi ilmu tapi bukan sembarang ilmu. Ilmu yang membuat saya ber 'wow' karena memang hal baru.. itu jarang sekali untuk saya. Makanya waktu NAK cerita pengalamannya di Indonesia, ngajar seribu seratus orang yang sudah stand by depan pintu dari jam tiga sore padahal kelas baru mulai jam tujuh malam, itu saya tertawa keras. Karena saya ada di situ. Menjadi bagian dari seribu orang itu. Meninggalkan kantor lepas makan siang, commuting dan tiba di Balai Kartini pukul tiga sore, dan langsung masuk antrian. 


Nouman Ali Khan adalah sosok yang saya bisikkan, kalau bisa Ya Allah, punya suami pinter kayak gitu boleh gak.. Mungkin nanti akan jadi tough karena saya akan kalah saing dengan buku-bukunya, tapi saya gapapa Ya Allah. Lebih baik bersaing sama buku daripada sama perempuan lain.. takut nyakitin hati orang akutu.


***

And because I was prepared to be your peace, I'll start with me. You do you, Explore your world, and come find me. I'm here, ready to listen to all stories you got. Because I'm your peace.

***

Bogor, 26 Juni 2021

Kalo bukan Nouman Ali Khan, aku nontonnya Garfield dan Tonight Show. What a wonderful weekend. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk