Skip to main content

Between the Needs and the Wants

 



Tadi malam saya tidur dengan satu pertanyaan menggantung: Apa yang kamu inginkan? Pertanyaan yang saya tulis di postingan sebelum ini, yang berasal dari akun anonim di twitter. Untuk alasan tertentu, kali ini saya lebih memilih bertanya pada orang asing ketimbang teman sendiri. 


Saya terbangun dengan kecewa. Karena terputus dari mimpi yang begitu nyata. Rasanya saya benar-benar sedang berada di Gorontalo, menumpang taksi online menuju ke pantai, tapi minta dicarikan penjaja pisang goreng ter-enak di sana. Di mimpi itu saya lupa apa nama pisang gorengnya, jadi saya berulang kali bilang 'pisang goreng tipis yang ga manis, makannya pake sambel'. Saat bangun, saya menggerutu sendiri, 'pisang goroho kali, Mim'.


Seharian ini pun pertanyaan itu masih terngiang di kepala. Sesibuk apapun pikiran saya bekerja, beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, saya masih terus mencari apa yang benar-benar saya inginkan? Dalam urusan karir, memang tidak semua orang seberuntung itu untuk memulai dari pekerjaan yang dia tidak suka sebelum menemukan happy ending di pekerjaan impiannya. Beberapa ada yang langsung dipertemukan dengan pekerjaan yang sesuai mimpi dan karakternya, memenuhi semua yang pernah dia damba tentang dunia. Padahal seperti yang kita tahu bersama, urusan dunia tidak ada yang permanen, se indah apapun pasti ada cela. Ketika cela itu datang, dan merusak semua kesempurnaan yang ada, di situlah ego manusia diuji; apakah akan tetap tinggal dan bersabar, atau pergi mencari kemungkinan lain yang justru mungkin mengarahkannya ke pekerjaan yang paling tidak dia sukai.


Sedikit curiga, apakah alam bawah sadar saya sebetulnya sedang memberitahu bahwa yang benar-benar saya inginkan adalah berada di Gorontalo, karena mimpi itu datang begitu nyata setelah saya berulang kali mengulang pertanyaan ini sebelum tidur? Saya hanya bisa mengangkat bahu sok tidak peduli. Karena jangankan ingin, menampakkan bahwa saya orang Gorontalo di depan papa saja saya enggan. 


Baru sekarang saya mengerti, semakin dewasa usia seseorang, semakin berkurang keinginannya terhadap sesuatu. Bukan karena dia menginginkan akhirat atau hal mulia lain, tapi lebih ke.. kehilangan hasrat terhadap kehidupan itu sendiri. Apakah itu tanda depresi? Entah. 


Saya dulu pernah jatuh cinta sangat dalam pada seseorang yang.. saya bingung kenapa kok dia seperti tidak punya ketertarikan terhadap apapun. Sikapnya yang dingin dan tidak peduli itu justru menjadi magnet buat saya yang waktu itu masih jadi orang super antusias terhadap apapun. Dia hanya punya keinginan sederhana, yang setiap tahun berusaha diwujudkan, dan selalu gagal. Saya sudah berulang kali meyakinkannya bahwa dia punya potensi yang jauh lebih dari apa yang dia inginkan itu. Tapi omongan saya hanya seperti angin lalu, dan jadinya dia malah tidak punya ketertarikan untuk berbicara dengan saya sama sekali, karena yang saya omongkan hanya soal visi, rencana, ide, dan hal-hal futuristik omong kosong. Beruntung kini saya berhasil menghapus tuntas perasaan itu, gak sia-sia emang ke Raijua trus lanjut nyetir sembilan jam bolak balik ke Pelabuhan Ratu. Karena sekarang, saya mengerti apa yang dia alami dan rasakan hingga hilang ketertarikan terhadap apapun.


Sikap tersebut bisa ada karena seseorang begitu fokus dengan satu keinginan. Hanya satu keinginan itu yang menghantui pikirannya, mengisi doa-doanya, dan terus dia pinta-pinta. Anehnya, biasanya keinginan itu juga lah yang tidak kunjung terwujud. Saya pun baru mengerti sekarang. Walau secara teori saya tahu, semakin sedikit kita memikirkan sesuatu, semakin mungkin sesuatu itu untuk terjadi pada kita. Tapi prakteknya, bahkan pura-pura pada diri sendiri bahwa kita tidak peduli lagi dengan keinginan itu pun sulitnya bukan main. 


Mungkin bagi dia, jalur karir itulah keinginannya. Sehingga dia tidak peduli dengan apapun selain karir itu. Tidak, walaupun tawaran kerja di perusahaan konsultan yang menjanjikan gaji besar dan fleksibilitas tinggi berulang kali disodorkan di depan hidungnya. 


Lantas, bagi saya? Apa sebenarnya yang menjadi keinginan saya sehingga abai dengan hal-hal duniawi lainnya?


Pagi tadi setelah sepenuhnya sadar bahwa saya berada di Bogor dan bukan di Gorontalo, saya membuka jurnal dan meraih pulpen. Menggariskan beberapa diagram dalam bentuk SWOT analisis. Mencoba membandingkan dua kemungkinan jalur karir yang sekarang sedang menunggu untuk dipilih. Tentu saja saya tidak langsung mendapat jawaban mana yang harus saya pilih. Keduanya seperti neraca adil yang sama imbang. Pilihan yang lagi-lagi harus saya kulum sendiri, atau akhirnya ditumpahkan dalam solat istikharah. Solat favorit yang berhasil membawa saya untuk nyetir sembilan jam demi membuang perasaan itu.


Haha lucu ya. Kalau diingat-ingat lagi, kok bisa bertahun-tahun suka sama satu orang. Tapi bagus juga si, jadi betah menyendiri karenanya dan jadi tahu betapa mewah kesendirian itu. Tidak semua orang bisa seberuntung itu untuk bisa menikmati solitude. Dear solitude, I ship you mwah!. 


Anyway..

Antara keinginan dan kebutuhan, seringkali memang kita tidak berakhir dengan apa yang kita inginkan karena Tuhan menginginkan kita untuk berakhir pada jalan yang kita butuhkan. Kita pun tidak tahu apa sebenarnya yang kita butuhkan sampai itu terjadi. Makanya, saya selalu berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu ngoyo dengan keinginan, apalagi punya ekspektasi yang tinggi bahwa semua yang saya inginkan harus selalu terwujud. Karena itu akan mengurangi ruang untuk hal yang jauh lebih penting yang justru kita butuhkan.


Setelah berhasil mengentaskan keinginan lewat minimalism, sekarang justru saya harus menemukan kembali, apa yang sebetulnya saya inginkan. Kalau bisa malah, saya ingin bisa tahu apa sebenarnya yang saya butuhkan. Ternyata, pertanyaan sesederhana itu, sulit untuk dijawab ya.

***

Bogor, 24 Juni 2021

Makanya saya sakit hati betul waktu ada yang bilang "maunya apa sih yang jelas lah" dan dia secara teknis sebetulnya adalah bawahan saya. Things are different since then, saya jadi kehilangan selera untuk bercanda-canda lagi. Karena bukan saja cara bertanyanya yang tidak menyenangkan, tapi pertanyaannya juga mengandung garam.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk