Skip to main content

Yang unik tentang cinta

 




Soalan satu ini, terus terang saya hanya berperan sebagai pengamat. Melihat, mendengar, terkagum, tanpa pernah benar-benar menjadi pemain utama. Lebih tepatnya, belum. Saya hanya sedang menunggu waktu dan orang yang tepat untuk melakoni aksi ini, dan sambil menunggu, saya habiskan waktu untuk memetik pelajaran dari satu per satu kisah cinta yang melintas di hadapan saya.


Ada yang unik, yang lucu baru-baru saya temui. Kisah nyata, namun hubungan saya dengan mereka tidak perlu saya beberkan di sini. Anggap saja.. kami tidak saling mengenal,.. atau saling mengenal.. terserahlah.


Mereka berdua adalah dua insan yang jatuh cinta saat usia masih sangat belia. Singkat cerita, perasaan yang mereka punya hanya bisa diendapkan diam-diam. Karena usia masih dianggap belum paham urusan cinta, hingga mereka beranjak dewasa. Pun karakter keduanya sama-sama pemendam.. pendiam.. dan cenderung tidak menampakkan apa yang mereka rasakan. Akhirnya mereka tumbuh besar, dan menikah dengan pilihan orang tua masing-masing. Pilihan yang juga mereka amini, hingga mereka bertambah usia, memiliki jumlah keturunan yang sama banyaknya.


Puluhan tahun terpisah.. puluhan tahun jarak terpaut saat rasa itu pertama terbersit.. rupanya tidak juga mampu memadamkan kisah itu. Masih ada, bahkan hingga usia mereka tak lagi terbilang muda. 


Cerita ini saya dengar berulang kali. Tentang si perempuan yang begitu baik terhadap keluarga laki-laki, dan si laki-laki yang begitu gamang dengan keadaan ini. Walhasil, saya yang hanya pengamat ini hanya bisa membatin..  kok bisa. 


Lantas suatu hari, saya berkesempatan untuk bertemu keduanya. Melihat langsung rupa si laki-laki beserta istri, dan rupa si perempuan beserta suami. Saat itu batin saya tergelitik, berbisik pelan.. oh.


Karena nampaknya, cinta keduanya memang masih terpaut pada satu sama lain. Ada diri masing-masing dalam pasangan masing-masing. Si lelaki, misalnya.. memilih istri yang karakternya mewakili si perempuan yang ia cintai saat remaja; lembut suaranya, bersih kulitnya, tutur bahasanya sangat mirip. Pun si perempuan, memilih suami yang wajahnya mirip dengan si laki-laki yang ia cintai hingga kini. Raut tegas, senyum jenaka, dan sikap berwibawa.


Duhai cinta..

Rupanya mereka memang tidak pernah menghilangkan perasaan antara satu sama lain walau berhasil mengarungi hidup puluhan tahun dengan orang lain.


Pertanyaan saya.. 

Kok bisa.. 

Kok bisa ada cinta yang terpendam begitu lama dan tidak padam?

Kok bisa ada orang begitu mencintai hingga memperlakukan keluarga si yang dicintai ini dengan begitu baik, begitu mewah nan menyanjung tanpa mengharap balas sedikitpun. 

Kok bisa ada orang yang berprinsip begitu kuat, saya mencintai orang ini dan dengan demikian saya mencintai orang yang dia cintai meski saya tahu saya tidak akan pernah memiliki orang ini. 


Kok.. bisa.

***


Mungkin begitulah sederhananya hidup yang kita pikir rumit ini. Letak kesederhanaan perasaan dua bocah remaja, yang ternyata tidak sesederhana tampaknya. Mungkin kita orang dewasa memang senang memperumit keadaan, memperumit pikiran, hingga njelimet dan membiarkannya kusut karena terlalu malas untuk meluruskan.


Yang unik tentang cinta, adalah soal kita yang sebetulnya sederhana. Namun ego mengubah segalanya.

***

Bogor, 27 May 2021; 02.16

Tumben banget ini ai tak bisa tidur.. mama dan babeh masih di sini, dan hari ini ai keceplosan bilang ndak, as in logat Gorontalo ke babeh. I know he misses his hometown, but if only ego is not on our way, maybe he could find a piece of it in me. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal