Skip to main content

Malam Pertama Eyang

 




Hi Eyang..

Aku penasaran bagaimana di sana malam ini.. pasti enak ya? Kan ga ada siksa kubur di Bulan Ramadan ini. 

Aku sakit kepala Yang. Emang gini kalo kebanyakan nangis. Maap aku nangis.. aku nyesel kenapa semalam pulang. Kalo tadi malam ga pulang, mungkin paginya aku bisa nuntun Eyang ngucapin kalimat tauhid. Tapi pasti Eyang ngucapin ya. Kata Euteu Eyang perginya gampang.. kayak bobo aja gitu nutup mata aja. Ga pake adegan aneh-aneh. Alhamdulillah.. moga ga sakit ya Eyang. You’ve had enough pain. Bahkan akupun yang tidur sendirian di kamar Eyang sekarang, tidak tersentuh dan tidak ditengok orang dari luar, bisa sedikit merasakan gimana rasanya nahan sakit dan gak ada yang dateng padahal orang di luar rame lalu lalang.


Eyang..

Mereka masih ngaji. Ini jam 22.21 pas aku nulis bagian ini. Tante Hanny, Om Dadang, Nenek, Teu Ulan, masih di luar. Ada tenda warna kuning, Yang depan rumah. Trus karangan bunga. Banyaaaak banget karangan bunga buat Eyang.  Halaman depan penuhh. Sampe ke luar luar.


Eyang..

Di sana gimana?

Kalau belum ada siksa kubur bisa ga mampir bentar ke mimpi aku? I need one more proper talk.. give me something I can use. I need direction, Eyang. Aku butuh diarahin. Aku butuh dikasih tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu aku mandiri, dan bisa diandalkan. Tapi kan itu karna aku harus. Kalau mau ku sih yaa.. aku pingin diarahin. Kan sekarang Eyang sudah ada di posisi yang mudah-mudahan lebih dekat dengan Allah. Siapa tahu ada yg Allah titip untuk disampaikan lewat Eyang di mimpiku. Please?


Aku sekarang pindah ke kamar nenek. Yg ngaji pada ngerokok aku pusing. Baunya masuk ke kamar. Berarti gitu juga ya kalau ada yg ribut-ribut di ruang tamu. Berasa ke Eyangnya.


Eyang..

Thank you for an awesome childhood ya. Aku sayang Eyang.


***

Pamanukan, 2 Mei 2021

Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara tu mirip Eyang

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal