Skip to main content

Letaknya ketenangan jiwa

 



Kita cenderung mudah terperangkap dalam pemikiran bahwa segala hal yang kita miliki sekarang ini adalah kondisi yang sangat rumit, yang butuh suatu perubahan sehingga nantinya hidup akan jadi lebih mudah.


Padahal nyatanya, yang kita hadapi sekarang adalah level termudah karena ketika apa yang kita pikir bisa mempermudah hidup itu menjadi kenyataan, selalu ada hal lain yang datang dengan kerumitan berbeda. 


Untuk itu kita terus menerus terjebak dalam pikiran; kalau ada A, hidup akan lebih mudah. Saat A sudah terwujud, ternyata ada A+ yang kita butuhkan. Kebutuhan untuk memenuhi A+ mendatangkan kerumitan baru, sampai terwujudlah A+ tadi. Dan seterusnya.


Tadinya saya pikir kunci hidup bahagia adalah memiliki apa yang saya pikir akan mempermudah hidup saya. Ternyata kunci hidup bahagia adalah dengan menikmati apa yang ada di depan mata sekarang dan saat ini.


Tadinya saya pikir ketenangan batin terletak pada perbuatan baik yang kita beri pada orang lain. Ternyata justru saya temukan ketenangan batin saat tidak terlalu peduli pada orang lain. Saya tidak peduli jika mereka miskin, walau terdengar kasar, karena boleh jadi walau mereka miskin mereka sebetulnya lebih berkecukupan dari saya.


Tadinya saya pikir memberi materi adalah jalan kebaikan tertinggi. Ternyata justru saya temukan, memberi materi saat hati kita senang dan memang ingib memberi (bukan karena kasihan apalagi mengharap balas) justru yang mendatangkan ketenangan.


“Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan”, bukan berarti jika sekarang sulit besok akan lebih mudah. Malah bisa jadi, jika sekarang sulit, coba tengok di lapak sebelah, pasti ada kemudahan yang membersamai. Memfokuskan pikiran pada celah “kemudahan” itulah yang mendatangkan tenang dalam jiwa. Dengannya, segala kesulitan yang tengah menerpa, menjadi ringan terasa. Karena bantuan Tuhan sedang bersama kita saat ini. “..bersama kesulitan pasti ada kemudahan..” dan Tuhan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang meminta.


***

Bogor, 31 Mei 2021

Setelah nyaris sebulan berjibaku dengan keluarga, akhirnya malam ini ku bisa sendirian lagi. Ternyata kesendirian adalah nikmat yang luar biasa. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal