Skip to main content

Hey, June

 



Selain Maret, bulan lain yang paling spesial untukku adalah Juni. Di bulan itu, banyak orang yang akhirnya betah membersamaiku yang lahir di bulan Juni, utamanya para Gemini. Bayangkan, 14, 15, dan 16 Juni secara berturut-turut adalah ulang tahun sahabatku. Tiga-tiganya adalah sahabat dekat sejak SMA dan kuliah dan yang paling betah menghadapi mood ku yang berantakan, kelakuanku yang memalukan, dan jalan pikiranku yang paling aneh. Juga Bulan Juni adalah bulan kelahiran babeh, dan adik sepupu cucu Eyang yang paling bungsu.


Btw..


Hai Eyang..

Lebaran kemarin aku tidur di kamar Eyang. Dua malam tidur di sana, dan aku semakin sadar betapa dekat Eyang dengan toa masjid. Suaranya menggema di seisi kamar setiap kali tadarusan atau azan. Eyang tidak pernah mengeluh ya, apalagi protes ke masjid. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan Eyang tentang-Nya, dan ya.. Eyang tidak pernah lupa pada-Nya kan. Buktinya, Allah panggil Eyang dengan cara yang saangat indah.


Tradisi kita setiap kali lebaran adalah berkunjung ke makam. Biasanya, aku cuma ikut nimbrung saja, karena mustahil untuk diam di rumah. Padahal, setiap yang di makam itu tidak ada yang aku kenal. Kakek buyut, saudara-saudara nenek, aku biasanya cuma ngedumel saja di dalam hati karena panas minta ampun. Tapi sekarang.. ada yang ku kenal di makam itu.. satu-satunya makam yang belum ada tembokannya. Masih segar pula bunganya. Sampai ada penjaga makam situ yang bisu, yang memang biasa ngerawat makam keluarga kita, narik-narik tanganku untuk ke makam lain karena aku cuma berdiri di tempat Eyang, hehe.


Alhamdulillah kami semua sudah recover, semua sudah ketawa ketiwi, walau aku yakin pasti sesekali Om Dadang menyeka air mata diam-diam. Karena akupun begitu. Aku dan Om Dadang terpaku di depan makam Eyang lama sekali. Sebetulnya aku nangis, tapi gak keliatan, karena ada masker, dan karena aku tahan juga. 


Sampai sekarang pun kalau inget Eyang, bahkan sambil nyetir di jalanan lengang sekalipun, mataku pasti panas. Tapi aku terlatih untuk tidak membiarkan air mata itu jatuh. Aku tahu Eyang gak mau cucunya lemah. 


Eyang..

Banyak sekali yang berubah sekarang. Nenek akhirnya beli mobil. Satu hal yang bikin aku sakit hati karena.. aku tahu betapa Eyang pingin beli mobil dari dulu. Tapi kan uang di nenek semua. Waktu kita jalan-jalan terakhir kali di Bulan Oktober lalu, kan yang Eyang bahas hanya harga mobil. Eyang masih sangat update soal itu. Sekarang akhirnya nenek beli, dan semua orang bergembira. Tapi aku biasa saja. Bahkan mungkin.. jadinya aku akan jarang ke Pamanukan, mungkin ya mungkin. Karena selain udah gak ada Eyang, mereka pun udah bisa sendiri kalau mau anter-anter nenek berobat. Om Epul diajarin sama Adit dan langsung bisa. Jadi kayaknya my task is over.


Trus Om Dadang mau ajak kita semua ke Solo, mewakili Eyang. Juga aku tolak mentah-mentah. Aku sudah berniat untuk tidak ikut. Karena aku tahu betapa Eyang pingin pulang ke Solo, tapi tidak pernah ada yang merealisasikan. Padahal aku sudah siap jadi sopir, Hisyam, Caca dan Adit pun siap. Makanya kalau nanti beneran berangkat, aku gak akan ikut. Soal mewakili Eyang ke Solo, kan sudah aku tunaikan tahun 2017 yang aku ceritain langsung ke Eyang soal kondisi Solo saat ini.


Eyang,

Sekarang aku lagi antar mama dan babeh to their nostalgic trip ke Cianjur. Sepanjang jalan mereka tidak berhenti berceloteh soal jalanan yang kita lalui. Dulu ada ini dan itu, dan bahkan.. kita nginap di dekat rumah Eyang dan Nenek dulu. Rumah yang Eyang jual, dan membuat semacam 'ketegangan' itu. Kalau sekarang harganya pasti sudah M-M-an. Samping alun-alun dan Masjid Agung gini.. 


Banyak cerita tentang Eyang kini. Tapi ya itu tinggal cerita. Terima kasih Eyang atas pembelajarannya, aku pegang dan aku bawa sampai nanti. 


12 Juni nanti Eyang akan genap 40 hari, De Ahza juga akan ulang tahun. Spesial sekali hari itu ya.. cucu Eyang yang paling kecil akan berusia tujuh tahun! Dede Ahza udah makin pengertian sekarang, kalau diomongin dia selalu nurut. 


Banyak sekali yang mau ku ceritain ke Eyang, tapi aku capek. Nyetir dari Bogor ke Lido sampai Cianjur sendirian. Sekarang aku mau turun dulu negur orang ketawa2 kenceng banget di bawah. Ga tahu tamu hotel apa petugasnya itu teh. Udah ya Eyang.. moga kita ketemu di mimpi aku malam ini ya. Ku rindu.


***

Cianjur, 17 Mei 2021

Kemarin juga nyoba ke Cianjur tapi kena cegat. Alhamdulillah hari ini mah bisa lewat.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal