Skip to main content

Eyang

 



Aku ikhlas kalau Eyang mau pergi.

Walau selama ini doaku selalu satu: supaya eyang diberi kekuatan untuk sampai minimal tahu dengan siapa nanti aku akan melanjutkan hidup. Minimal dia tahu siapa pasanganku.


Tapi rupanya dia belum juga menampakkan wujudnya. Hingga sekarang kondisi eyang sudah sangat menyesakkan jiwa.


23.00 sy tiba di rumah. Nyetir dengan kecepatan rata-rata 140km dan berulang kali nyaris “bersapa” mobil lain. Tapi Allah masih tolong. Allah masih ampuni kelakuanku di jalan. Mudah-mudahan Allah tidak marah. Karena aku tidak bermaksud ugal-ugalan. Pikiranku hanya sedang kacau.


Dari kecil aku selalu dibela oleh Eyang. Nenek dan Euteu sering sekali marahin aku yang terlalu kreatif ngulik-ulik barang. Cerewet bukan main, semua hal ditanyai. Cuma Eyang yang mau jawab pertanyaan-pertanyaanku. Cuma Eyang yang selalu bela aku kalo dimarahin. Sampai sekarang... cuma Eyang yang selalu bilang “gausah buru-buru. Nikmati saja dulu karir mu” ketika semua orang sibuk bertanya kapan aku akan menikah.


Kalau Eyang pergi nanti.. yang akan menjadi jalan tenangnya karena sudah tidak merasakan sakit lagi.. aku pasti akan ikut mati rasa. Mematung dan berdiam adalah caraku berduka di depan banyak orang. Seperti malam ini. Begitu gerbang ditutup, pintu dikunci. Tangisku pecah dengan kencang. Sama kencang seperti aku dua puluh tahun lalu, dimarahi nenek gara-gara gak mau tidur siang.


***

Bogor, 1 May 2021

I love you, Eyang.

Love,

Cimut


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal