Skip to main content

Eyang, Tujuh Hari

 



Hi, Eyang.

Ini hari ke-tujuh Eyang ninggalin kita. Kemarin aku pulang ke Pamanukan, bawa mama, papa, Aini sama Tsaltsa. Alhamdulillah di jalanan lancar, lengang, dan kita ga diberhentiin sama pos-pos penjagaan. Allah lancarkan perjalanan kami sampai di rumah selepas Ashar. Ternyata banyak karangan bunga baru, loh Yang. Jadi makin penuh sekeliling halaman sampe ke luar-luar.


Trus hari ini juga tamunya masih banyak. Pas pengajian aku sempetin fotoin buat Eyang. Bukti kalau banyak yang sayang sama Eyang atau anak cucu Eyang.


Eyang kayaknya udah enak ya di sana? Meuni udh ga balik-balik nengok ke sini. Aku minta-minta sama Allah pas lagi solat teh.. biar ketemu Eyang sebentaar aja. Pingin ngobrol lagi gitu Yang. Kan kalo kemaren mah kan Eyang nya sakit.. obrolan kita seputar sakitnya Eyang dan cara supaya sembuh aja. Kalo sekarang kan Eyang udah jauh lebih enakeun pasti tempatnya.. trus Eyang mungkin jadi lebih deket ke Allah nya? Siapa tahu gitu Allah ngirimin pesan lewat mimpi lewat Eyang.. tentang jalan yang harus aku ambil. Aku butuh arahan.. aku masih butuh diarahin..


Eyang..

Sekarang sepupu semua udah pada kumpul lagi. Udah mulai pada akrab. Kaka Caca ama Kaka Hisyam sekarang udh jadi duo bujang andalan. Mas Kiki aja masih malu-malu, tapi aku bisa masuk obrolannya dgn Mas Kiki karna dia doyan baca buku. Kemaren ke gap ama aku dia bacaannya A Brief History of Time nya Stephen Hawking. Aku juga waktu masih SMP, seumuran Mas Kiki, bacaannya seberat itu. Nurun dari siapa yak? Eyang yak?


Eyang,

Aku mau Yang ambil peran itu. Peran jadi kakak tertua bagi mereka semua. Jadi konektor, yang masuk ke semua lapis. Ke pasukan Dede Rara, Kaka Mifzal dan Dede Salsa pun aku nyambung. Diajak maen mereka pun kita seru. Masa ya minggu lalu, waktu aku anterin Euteu sama Teu Hanny belanja, mereka bertiga minta ngikut. Yaudah aku ajak aja. Sepanjang belanja kita mah ga turun. Mampir beli risol, kita di mobil. Beli plastik, kita di mobil. Sampe pas kita beli ayam. Teu Hanny sama Teu Ulan lama pisan eta meuli ayam na teh. Aku di mobil sempetin diri utk chat kerjaan ke orang. Karna urusan kerja, aku butuh khusu. Dan kebetulan anak bertiga di belakang itu diem aja. Yaudah aku biarin kan, akunya kudu wa-an ini.


Pas udah lama gitu aku mbatin.. kok heningnya lama bangeet ya.

Eh pas aku nengok ke belakang.. taunya mereka tidur. Tidurnya samaan pula posisinya. Seketika itu juga aku ngakaak. Teu Hanny juga pas masuk mobil tau mereka tidur gitu langsung ngakak. Ga berenti aku ketawa sampe udah nyampe.


Lucu ya mereka itu. Cucu-cucu paling kecilnya Eyang.

Hehe..


Eyang,

Aku kangen. Kangeen banget. Aku kemaren beli mihun goreng kesukaan Eyang. Walau harus antri lama., pulang-pulang udh mau buka puasa.

Aku kangen banget sama Eyang. Kangen bobo siang di samping Eyang, di bawah angin sepoi-sepoi lewat jendela.

Tapi kita kan emang cuma sebentar ya di sini ya. Dunia hanya sehari atau setengah hari. Di sana yg lebih lama lagi. Moga-moga kita bisa ketemu lagi ya di sana. 


Doain aku ya Eyang.

Aku bingung sekarang. 

Aku takut.

Kalau Eyang lihat aku, Eyang ngerasain pesan dari aku.. please please please.. mampir ya Eyang. Aku kangen.. walau cuma lewat mimpi.


***

Bogor, 8 May 2021


Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal