Skip to main content

What I do in Ramadan, and my view about The Royals

 


Blue hour Bogor, 05.47 am.

(Tulisan ditulis dengan aroma diffuser yang baru diseduh selepas subuh. Ternyata enak ya nge diffuse pagi-pagi. Bikin lebih siap menghadapi pekerjaan and lyfe).

***

Saya menulis ini setelah menguatkan hati dan tekad untuk membangun kebiasaan baru, setidaknya selama Ramadan. Ramadan lalu adalah Ramadan pertama yang saya jalani dengan disiplin; masak sahur dan berbuka setiap hari. Pasalnya, Ramadan tahun lalu tiba saat pandemi masih sangat menakutkan, bahkan untuk memesan makanan dari luar pun saya tidak percaya. Jadilah saya membiasakan diri untuk masak, walau masih sangat terbata. 


Namun dari Ramadan kali itu pula lah saya benar-benar belajar memasak. You see, cooking isn't just about mixing things and stir it together. Cooking is all about planning. Merencanakan apa yang mau dimasak, juga butuh persiapan dan visi yang jelas. Sejak itu saya jadi tahu, kondisi ideal seperti apa yang saya butuhkan jika hendak memasak, dan bagaimana mengatasi diri ini ketika kondisi sedang tidak ideal tapi tetap butuh makanan yang terpercaya.


Rupanya Tuhan menilai saya belum lulus dari ujian Ramadan kali itu, makanya Dia memberikan saya kesempatan sekali lagi untuk menjalani Ramadan kedua kala pandemi dan sendirian. Saya sadar bahwa, kelak jika berkeluarga, sudah tidak ada lagi yang namanya coba-coba. Yang ada hanya kompromi dan kerjasama, sedangkan untuk bisa berkompromi dan bekerjasama, kita harus mampu berkomunikasi. Bagaimana mungkin kita berkomunikasi jika kita sendiri tidak paham apa yang harus dikomunikasikan, dan masih mencari-cari bagaimana sebenarnya kita ingin diperlakukan.


Untuk itu di hari ketiga ini, dengan bangga saya tuliskan, bahwa saya berhasil membangun kebiasaan baru setidaknya di tiga hari pertama Ramadan; bangun pukul tiga pagi, brew my coffee, leave it, wudhu, lanjutin sholat malam tak lupa berdoa untuk masa depan gemilang, kembali ke dapur, masak masakan sederhana (tumis sayur dan apapun lauk yang tinggal goreng), memasukkan cucian ke mesin cuci, memutar video youtube yang berfaedah, lalu makan sahur sampai batas waktu imsak. 


Kenapa imsak, padahal kan masih bisa makan sampai azan subuh?


Yaa, ini juga yang saya pelajari dari Ramadan lalu. Fungsi dari imsak adalah untuk mencuci semua peralatan makan, karena sehabis subuh biasanya sudah tidak mood untuk beberes. Pengalaman Ramadan lalu, kalau alat makan tidak dicuci sebelum subuh, saya baru akan cuci selepas ashar, saat menyiapkan masakan berbuka. Karena rangkaian ibadah subuh itu bisa bikin betah dan ngantuk setelahnya.


Jadi setelah imsak, saya mencuci piring, gelas dan semuanya. Lalu minum segelas air dan berwudhu. Saat wudhu, suara azan mulai terdengar. Dengan begini, saya tidak ketinggalan lagi untuk mendapat kebaikan yang lebih baik dari dunia dan seisinya. Setelah itu saya jalankan rangkaian ibadah pagi, sampai pukul lima lebih. Masih masuk ke waktu terlarang untuk tidur lagi. Jadi waktu ini bisa digunakan untuk membersihkan rumah, sedikit nyapu, sedikit lap sana sini, dan memasang diffuser. Tidak lupa menjemur pakaian yang sudah selesai dicuci, dan diletakkan di tempat yang akan tersinari matahari. Biasanya jam sudah menunjukkan waktu terbit matahari setelah ini semua dilakukan. Di sini, kamu bisa memilih, mau tidur lagi pun sudah boleh, atau mau mencicil pekerjaan. Saya memilih bersantai, berceloteh di sini, atau sekedar menggambar-gambar konten untuk my baby juices. 

Saya memilih berceloteh, karena ada yang ingin saya ceritakan tentang analisis Meghan-Kate dari hasil menonton video-video yang banyak sekali, sampai isi youtube saya sekarang hanya soal The Royal Family. 


***

Menonton video tentang Meghan Markle membuat saya jadi semakin cringe padanya. Dia adalah bukti keegoisan diri, yang menikahi seorang pangeran hanya untuk membuat dirinya bahagia. Apakah mengejar kebahagiaan itu salah? Tentu tidak. Tapi, the pursuit of happiness is the lowest, shallowest, pursuit in the world. Happiness is a package deal, in it there comes a responsibility. Wanting to have them without accepting the responsibility, is a real selfish example.


Saya tidak suka dengan perempuan egois. I've been dealing with so many of them, including my pre-pandemic self. Egois tentu beda dengan self love, karena jika seseorang itu egois, dia dibutakan oleh kepentingannya dan mengorbankan kepentingan banyak orang. 


Menikahi seorang pangeran tentu tidak sama dengan menikahi artis biasa. Mereka bukan selebriti yang pekerjaannya menghibur orang, dan bisa punya pilihan untuk berhenti kapanpun mereka mau. Keluarga kerajaan telah menjalani tradisi ratusan tahun, dengan sebuah alasan: the people need identity. Itulah kenapa orang yang berasal dari daerah monarki punya karakter yang kuat. Mereka punya sesuatu untuk dipegang, they have identity and clarity about who they are yang di representasikan oleh keluarga kerajaan. 


American tentu tidak paham hal itu. Mereka lah yang terlebih dahulu mengusung tema kebebasan, keberagaman, karena mereka tidak punya satu ciri yang bisa mempersatukan. Mengingat sejarah mereka pun bukan asli berasal dari tanah tersebut, dan bisa mendiami, menginvasi tanah itu dengan menyingkirkan suku aslinya; The Indian, yang mereka sebut savages, (I grow up with Pocahontas, by the way. The color of the wind was my first un-reverse lyric song that I used to remember by heart). Jadi alasan Meghan yang bilang bahwa dia merasa direnggut kebebasannya, mengorbankan karirnya, dan hal menyedihkan lain tentang pertanyaan soal warna kulit anaknya membuat saya semakin bergidik.


Bahkan Donald Trump saja sudah me warning Prince Harry soal perempuan ini. Dia mungkin pejabat politik yang sulit dipercaya, tapi urusan perempuan.. well.. he could be an expert.


Perhatian saya kini tertuju pada Kate Middleton. Yang tadinya perempuan biasa, sekarang harus bertugas sebagai The Royal. Dia harus hidup dengan semua pernyataan miring tentangnya sebagai social climber, gold digger, perempuan beruntung yang menikahi anggota keluarga kerajaan.. but trust me, none of those are easy.


Di setiap video, dia selalu menampilkan senyum lebar, senyum tulus, melambai pada semua orang, hadir di setiap acara.. and she wasn't even born for that. Beda dengan princess lain yang memang sejak lahir, dan sejak kecil sudah dididik untuk bertata krama, Kate Middleton harus keep up dan beradaptasi dengan cepat. Satu saja kesalahan yang dia buat, bisa jadi bahan berita dengan sorot kamera yang di zoom berkali-kali lipat. Kamera media itu mengerikan.. Jarak tujuh ratus meter bisa dibuat tujuh centi meter oleh mereka hanya demi membaca air muka yang memberi isyarat secara tipiis sekali.


Jika Meghan bisa berkeluh kesah soal mental health nya, bayangkan pressure seperti apa yang dialami Kate Middleton, yang hanya ingin menikah dengan orang yang dia cintai, membesarkan anak-anaknya, fokus pada keluarganya, tapi juga harus melayani masyarakat. Kalau kata Michelle Obama, "It's never about you when it comes to public service. It's about the people we serve" aktris hollywood yang tadinya tidak begitu dikenal macam Meghan ya mana pahamlah hal seperti ini. 


Prince Harry is such a confused sad boy. All he wanted is to be loved by who he is, yang dia pikir bisa dia dapatkan dari Meghan. I bet now he's in shock too, knowing how different the reality is. Ini bukan salahnya tentu saja. Ibu nya meninggal saat dia masih sangat belia, pun sebelum itu orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan hati mereka masing-masing, konflik, dan battling with media, Harry kecil pasti sangat membutuhkan sosok yang bisa dia jadikan sandaran secara emosional. Kakek-Nenek yang bisa menjadi figur pun, sangat sibuk mengurusi negara-negara persemakmuran, menggotong tanggung jawab jutaan jiwa. Dia pikir dari Meghan lah dia bisa mendapat sebuah cinta for who he really is, tapi cinta yang mengeluarkannya dari rumahnya sendiri, memutuskan hubungan dengan keluarga yang membesarkannya, is not the kind of love for who he really is. 


Saya salut dengan Kate Middleton, karena tidak tergoda untuk melakukan wawancara dengan media dan mengeluh kesahkan berat bebannya menjalani hidup yang berubah sejak menjadi seorang Royal Princess. Dia menerima tanggung jawab sebagai public servant, sebagaimana dia menerima mencintai Prince William dan semua beban yang akan dilimpahkan kepada mereka dan keluarga mereka. Dia menjalani peran itu dengan sangat baik, dan tak heran kalau dia sangat dicintai oleh rakyat persemakmuran. 


***

Happiness is a package deal, rasanya saya ingin melemparkan itu ke Meghan. Beberapa video yang saya tonton pun menunjukkan kebencian British people padanya. Meghan mengangkat isu rasisme, karena dia tahu itulah yang akan menjadi media darling masyarakat dunia, dan sebagai orang berkulit hitam, tentu mudah baginya untuk menjaring simpati. A long history of slavery yang kini dimanfaatkan oleh orang-orang macam dia ini untuk kepentingan pribadinya. I have my own judgment for British people, yes, not all of them are nice, but neither the black. Both sides have their own portion on racism, and we all have our own racism. But telling it out loud in a bombshell interview.. what does she want? Memancing dunia agar benci pada The Royal Family? Saya kasihan dengan anak-anaknya harus menonton video ini suatu hari nanti. 


Sekarang kita dibuat penasaran, apa yang akan terjadi setelah kepulangan Prince Harry ke rumah, dan bertemu dengan keluarganya sendirian saja. Apakah ada heart to heart brother talk.. apakah Harry sudah mulai tercerahkan dengan beberapa bulan tinggal di Amerika di bawah bayang-bayang istrinya, mudah-mudahan ya.


Ada seorang Ustadz muslim yang ikut diwawancara oleh British Tv, yang beliau sudah belasan tahun diangkat oleh Ratu Elizabeth II untuk menjadi pendakwah muslim di keluarga kerajaan, juga ikut memberi pernyataan. "Saya tahu ini salah karena menonton wawancara itu, dan saya dianggap berdosa. Beberapa jamaah pun pergi setelah tahu saya angkat bicara soal ini, tapi saya harus mengeluarkan statement ini.." jelasnya pada si pewawancara (60 minutes). Menurutnya, komentar tentang warna kulit anak Meghan adalah hal yang sangat wajar sekali dilontarkan oleh keluarga. It's family for godsake, mereka tidak akan terus-terusan sopan padamu, karena mereka adalah orang terdekatmu. Di sini kita semua belajar untuk tidak gampang termakan omongan keluarga.. they're family. Menurut ustadz itu, dia yakin bahwa suatu hari nanti Prince Harry akan kembali. Dia pun berdoa untuk itu, bahkan membandingkan Harry dengan a prodigal son di kitab Gospel yang pergi, namun suatu saat dia sadar dan pulang. Kalau soal pulangnya sama Meghan atau tidak, Ustadz pun tidak memberi harapan. 


Prince Harry will always be the beloved prince. Anak bungsu dari Pangeran Charles, putra sulung Queen Elizabeth II. Sedangkan Meghan.. ini langkah yang brutal dan salah bagi nya dalam memulai hubungan kekeluargaan. Pun jika pernikahan mereka bertahan, dia tidak akan bisa lagi berada di tengah-tengah keluarga kerajaan. The joke will be, uwh.. we need to be careful around her darling, like stepping on the eggshells. Or else, we will end up as a story in an oprah interview. (bayangkan yang ngomong dengan aksen evil sister nya Cinderella).


***

Dari semua ini saya belajar, bahwa menjadi perempuan yang egois, walaupun menampakkan diri sebagai korban sekalipun, bukan hal yang benar. Perempuan harus bisa menjadi sosok yang tenang. Jika tersakiti, tidak perlu seluruh dunia tahu. Cukup adukan pada yang dia percayai. Karena kelembutan, ketegaran, kekuatan hati perempuan adalah sandaran bagi banyak orang. Bukan hanya bagi suaminya, tapi juga untuk anak-anaknya yang kelak akan mengambil peran sebagai garda terdepan pembangunan dunia.


Perempuan tidak pantas menjadikan kebahagiaan pribadi sebagai dasar untuk menjelekkan orang lain. Menerima tanggung jawab, jati diri sebagai perempuan, menerima bahwa tidak ada yang benar-benar merdeka di muka bumi ini, adalah bagian dalam membangun karakter yang kuat. There is nothing such freedom in this world, we all are slaves. Tinggal bagaimana kita memilih, siapa tuan yang akan kita layani. If the Master is God.. then nothing will block her way.


Ada kutipan dari film Harriet, yang saya lupa harfiahnya, tapi kurang lebih menyatakan bahwa perempuan yang telah disentuh oleh Tuhan, tidak akan bisa dipatahkan oleh manusia. Meghan menjadikan kebahagiaan sebagai tuannya, dan Kate menjadikan pengabdian pada masyarakat sebagai tuannya. Mana yang lebih mulia, you tell me. But for us.. rakyat jelata yang cuma bisa berkomentar.. kita pun harus memilih kepada siapa kita hendak dedikasikan hidup yang tidak seberapa ini. To whom we are being slaved to, and devoted to.


Di sinilah saya dibuat takjub dengan keagungan Allah, yang telah menciptakan karakter dengan sangat teramat beragam. Sekarang saya mungkin bisa menulis seperti ini, karena belum mengalami sendiri konflik batin antara ingin bahagia dan mengutamakan diri sendiri, atau membahagiakan orang lain. Mudah-mudahan blog ini eksis sampai bertahun mendatang, jadi kalau nanti saya ada di posisi itu, dan sedang hilang arah, tulisan sendiri lah yang akan menampar saya kembali ke kenyataan. 


***

Bogor, 15 April 2021 07.03 AM

Satu jam lagi meeting. Saya tidak akan bangkit dari kasur kecuali ke toilet. Saya ingin sekali beli furnitur, tapi masih takut berkomitmen, jadinya kemarin hanya checkout meja belajar kecil untuk dipakai di kasur. And it's PINK for godsake. LOL. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk