Skip to main content

Traditional Love

 



Tradition? What is tradition? That ancient, irrational act that people do just because the ancestors did. I used to careless about tradition. But now.. I understand.


It started with Ramadan. I knew that my mom, or aunts, or all muslim mothers in this country, always 'prepared' the house to welcome Ramadan. They declutter, they change things, sometimes they re-paint the house, just to get the new vibe of it. 


Saya tidak pernah benar-benar melakukannya sejak tiga tahun lalu. Meski sudah tinggal di rumah sendiri, saya tidak begitu peduli dengan bersih-bersih menyeluruh jelang Ramadan. Untuk apa, toh nanti juga ditinggal lagi. Lagipula Ramadan adalah tentang membersihkan hati, bukan rumah. Begitu kurang lebih yang ada di pikiran saya waktu itu.


Hingga pandemic menyerang. Dan kemudian saya tahu bagaimana rasanya menjalani Ramadan di satu tempat yang sama: rumah. Waktu itu agenda bersih-bersih jelang Ramadan saya lakukan hanya demi membunuh waktu. Berbulan berdiam diri di rumah, dan akan menghadapi sebuah kebiasaan baru, tentu secara naluri saya ingin membenahi rumah menjadi lebih nyaman. Walau saat itu saya belum mengerti, bahwa yang saya jalani adalah sebuah tradisi. 


Lalu lebaran datang, dan paket-paket berdatangan. Satu persatu hampers lebaran, yang juga baru bagi saya, berdatangan. Dulu, paket lebaran yang datang hanya dari kantor saja. Karena saya selalu mudik, kemanapun tujuan mudiknya, yang penting tidak di Bogor. Barulah saat itu saya panik mencari paket hampers balasan yang sudah habis semua. Saya harus menunggu hingga musim lebaran reda untuk bisa membalas satu demi satu paket hampers yang teman-teman saya kirimkan.


Belajar dari situ, kini saya sudah lebih.. prepared. Sudah mulai merencanakan isi hampers jauh sebelum Ramadan tiba. Sudah mulai memilih-milih warna baru untuk tirai jendela, satu minggu sebelum tamu agung itu datang. (Yang rencananya akan dipasang di akhir pekan ini, akhir pekan terakhir sebelum Ramadan. Tapi batal karena saya harus membagi waktu antara memenuhi pinta warga komplek dan mengurus rumah satu lagi yang penghuni kontrakannya tiba-tiba sudah angkut barang hari ini. Pfiuh. I hate my father for this. Ngurus satu rumah saja saya sudah bukan main lelahnya, ini harus urus dua rumah. Dengan seenaknya berpikir bahwa ngurus rumah semudah bayar orang suruh ini itu. hiks).


Anyway.


Tirai jendela tiba tadi siang, namun saya sudah kehabisan energi untuk memasangnya setelah menjadi MC untuk acara warga perumahan. Saya memilih beristirahat, bersembunyi di dalam rumah padahal tenda masih terpasang dan ibu-ibu masih sibuk rumpi asik sambil bagi-bagi kue. Saya memilih menonton film lama; The Vow. Amazing ya pilihannya. Menonton film lama memang super healing, karena kita tidak perlu capek-capek menerka alurnya. Saya pilih The Vow karena ya.. five years can change a person that much, babe. 


Sorenya, setelah energi saya lumayan terisi, sebuah telepon masuk yang langsung saya angkat. Ibu yang mau ngontrak rupanya sudah angkut semua barang ke rumah itu, padahal perjanjiannya dia baru akan melunasi Minggu atau Senin besok, dan baru akan pindah sekitar minggu depan. Tentu saja saya panik. Semua barang yang sudah saya beli, belum terpasang. Halaman belakang yang mau saya rapikan, tentu belum terapikan, karena memang harusnya hari ini saya ke sana kalau bukan karena acara perumahan tadi. 


Namun setelah beberapa pertimbangan yang cukup dalam, akhirnya saya memilih untuk rebah lagi di kasur, kembali melanjutkan tontonan-tontonan youtube, mulai dari interview Sebastian Stan, Olivia Wilde, Jason Sudeikis, sampai ke prosesi penembakan meriam untuk menghormati Prince Phillip. Ditutup dengan menonton filmnya Rosamund Pike yang selalu berhasil bikin menahan napas. (Btw filmnya Rosamund Pike I care a lot ini, opening lines nya bikin saya jatuh hati, dan ending nya bikin saya terpaku. Dunia bisnis memang kejam, babe. Makanya saya takut, my baby juices will one day, akan jadi bahan sengketa seperti itu.. no.. mereka anak-anak manis. Saya antara takut tapi ingin juga mereka jadi besar dan mandiri.. but.. anyway).


Maka beres-beres rumah sebelum Ramadan, mengganti suasanya, atau sekedar mengganti warna-warnanya, akan saya abadikan sebagai tradisi. Karena di dalam sebuah tradisi, ada pesan dan makna yang tersembunyi. Dengan membenahi rumah, setiap orang akan merasa melakukan sesuatu. Membenahi rumah juga simbol untuk orang yang akan menyambut kedatangan tamu, dan dengannya, akan melatih anak-anak untuk bisa senang menyambut Ramadan. Ya tentu saja, itu harus dicontohkan. Parenting skill kan juga leadership skill, harus lewat contoh, bukan titah. 


Sebagai millennial, kita cenderung abai pada tradisi. Untuk apa dilakukan jika tidak ada yang melihat, mungkin begitu kira-kira. Karena kita terlalu sibuk. Isi kepala selalu dipenuhi dengan hal-hal praktikal, sehingga lupa untuk melihat sesuatu dengan lebih dalam. Bahwa dalam setiap kebiasaan, ada pesan terselubung. Pesan yang hanya bisa ditangkap oleh hati, bukan otak. Pesan yang akan menyentuh jiwa kita, dan mengeluarkannya dari dalam sini. To reveal our inner self.. of who you really are.


Makanya saya agak ngeri sama pernikahan youtuber sama anak artis yang heboh baru-baru ini. Mereka banyak abai pada tradisi, terutama yang berkaitan dengan orang tua. Mungkin, ya hanya mungkin, mereka pikir mereka bisa hidup tanpa itu. Mereka bisa mandiri, tidak terkait sama sekali, dan super berdiri sendiri. Kenapa saya ngeri? Karena saya pun dulu berpikir demikian. Sebegitu egoisnya saya, sehingga menginginkan pernikahan yang maunya saya saja. Tidak peduli dengan keinginan keluarga, termasuk keinginan ibunya. This is MY life. Begitu yang saya tekankan. Pft. Funny. Alhamdulillah Allah gagalkan.. Kalau tidak.. mungkin sampai sekarang saya tidak akan paham tentang semua ini.


Saya ngeri karena.. I can messed up, but they can't. Presiden loh yang datang jadi saksi. Kalau suatu hari they wake up one day, and realized they never loved each other, that this is all just for show, karena salah satunya haus akan perhatian publik dan pernikahan mereka sangat seksi di mata publik dan terbukti berhasil mengarahkan semua sorot kamera hanya untuk mereka selama berbulan-bulan.. well.. that's one miserable life, they're heading. But let's just hope not.


"People get married for many reasons.." "like what?" "I don't know.. money.. citizenship.. family.." cuplikan dari The Vow. 


Ya.. banyak alasan yang bisa membuat orang menikahi satu sama lain. Yang beruntung adalah yang menikah dengan alasan cinta, kompatibilitas, dan kesamaan visi. Tapi mungkin hanya sekian persen saja. Selebihnya.. the reasons are swept under the rug. Siapa sih yang mau mengakui bahwa dulu saya menikah, karena takut jomblo seumur hidup. 


Lagi-lagi, saya tekankan, menjaga tradisi itu penting. Termasuk tradisi dalam proses pencarian cinta, yang seharusnya memang diawali dengan proses penemuan jati diri. Sebagaimana tradisi, orang suka melewati satu tahapan karena dinilai terlalu usang dan tidak ada artinya. Padahal ini tahap yang krusial. 


Sebuah cinta yang tradisional, umumnya memang yang bertahan lama. Sebagaimana Ratu Elizabeth dan pangerannya yang selalu tersenyum ceria. Pasti di balik pintu mereka tidak selalu seperti itu, tapi.. berhasil menunjukkan senyum tulus terus menerus, pasti melibatkan kedalaman hati yang tidak main-main. Ada ketulusan, yang kita semua bisa saksikan, dari sebuah cinta yang terlahir secara tradisional.


Cinta yang tradisional, adalah yang bertanya ketimbang menebak. Yang meminta secara lugas, ketimbang bermain sandi dalam pikiran. Cinta yang tradisional adalah yang sederhana, namun cukup berani dalam mengambil resiko. Berimbang antara selfless, dan selfish. Tidak terlalu mengutamakan orang lain di atas dirinya, namun juga tidak terlalu mengutamakan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Imbang. Berada di tengah-tengah. Di garis abu-abu antara hitam dan putih. Imbang.


This is why I love grey. 


Saya suka cinta yang sederhana. Cinta yang tradisional, yang meski mendapatkannya pasti amat susah. Ya kalau mudah, mungkin dari kemarin kita sudah menikah. Saya hanya tidak suka dengan yang bercanda-canda haha hehe dalam bertanya pertanyaan yang serius. Seakan ingin bilang jika kamu tidak suka pun aku cuma becanda kok. 


Kamu pun harus demikian. Kamu.. pantas untuk dicintai dengan lugas. Kamu tidak pantas bermain teka-teki pada dia yang bahkan berkata aku mencintaimu saja tidak berani. Jangan buang waktu dan perasaanmu untuk mereka yang tidak berani bertanya di hadapanmu. Ya.. bukan berarti kamu harus tuntut dia untuk bertanya langsung, bertanya melalui perantara pun harus kau anggap sebagai bertanya langsung. Setidaknya dia tidak menutupinya dengan candaan tidak penting.


Itulah cinta yang pantas kau ijinkan masuk. Yang padanya kau ijinkan melihat dirimu seutuhnya. Kuatmu, rapuhmu, semua kau buka. Kau ijinkan dia melihat semua cacat yang kau sembunyikan. Kau pun sama. Bersedia melihatnya secara nyata, bukan secara angan-angan yang kau bangun selama ini tentangnya. This is real, honey. He's not gonna be always perfect and capable of handling everything. He has flaws, he has weakness. He has his trauma, and don't you ever think a man as your guard forever. You are his guard too. 


Karena cinta yang tradisional, adalah cinta yang memiliki akar. Kuat, menghujam hingga ke inti Bumi. Dengannya, bisa membawa kita bertumbuh tinggi. Menempuh dunia yang kian modern, dan kian.. melogika. Be patient, darling. You will be found. That's the traditional way of finding it.


***

Bogor, 10 April 2021

Fix nih jadi emak-emak?

Am I the only person in my circle who's constantly got amazed by how fast time flies?

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal