Skip to main content

Self Acceptance

 



There’s one lesson that eventually all human beings will learn. Some learn it at very young age, some learn it when they’re old and grey. Some people are lucky enough to learn it while they were single, and some people have to struggle with it while taking care of their children.


The lesson is about self acceptance. Because at the end of the day, all we have is ourselves. The only person who live and breathe with us since the day we born till the day we die. 


Self acceptance came in many form, and mostly pain will bring the lesson. To accept of who you are, where you came from, who’s your family.. to uncover all the layers of mask because you wanna be somebody else. 


Sometimes people are not very proud about their origin, sometimes people tried to hide their families, these are the masks that people need to deal with before they move forward. And by ‘deal with’, I mean accept it. 

Accepting that you’re not perfect, and neither the world. Accepting that you have an embarrassing family, but who didn’t (I mean.. 🤷🏻‍♀️). Accepting that you are human, you have flaws, and that’s the value of you.


Being your authentic self doesn’t always mean showing off your flaws, or your insecurity. Being your authentic self can also mean that you realize the flaws, you recognize it, embrace it and accept it, whether or not you announce it to the world.


Learning about yourself is one amazing journey that everyone should have. It will be dark and scary, because we tend to escape reality, not from the external world, but from within.


Accepting who you are, your true origin, your truest desire, your darkest ego.. is the most liberating lesson to learn in life. Be grateful if you had it before your thirties.


***

Bogor, 1 April 2021

Today, I’m accepting the fact that I need an entire day off from the external world, after weeks of huge responsibility and interaction with people. I’m not picking up the phone, nor answering any texts. I can’t. And I only realize it now, after every event, I should spare one day off just to put myself back together. And I dont need anyone’s permission to do that. 

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal