Skip to main content

Living the Dream

 




I have nothing to complain. This morning I wake up, with my period on schedule. Dia masih disiplin, datang pada waktunya, dan memenuhi pinta yang saya buat dalam hati agar tidak datang tiba-tiba jelang matahari terbenam. Saya memang sudah menyiapkan mental menyambut kedatangannya. Rasa sakit, pening, mual, dan mood yang terombang ambing yang kerap menjadi penanda akan hadirnya pun saya lalui dalam diam. Tidak dikeluhkan pada siapapun.


Karena saya terlalu sibuk dengan segala bentuk rencana yang saya susun sendiri, timeline nya pun saya tentukan sendiri, budgetnya saya buat sendiri, nyaris tidak ada yang menyuruh saya untuk melakukan ini dan itu. Pun tidak ada yang mengontrol atau me monitor seberapa jauh pekerjaan saya sudah terseleaikan. Seperti ini semua hanya antara saya dan dignity saya sebagai seorang muslim yang masih harus bekerja, memenuhi kewajiban serta tanggung jawab.


Pun kalau misalkan disuruh, atau dikontrol, saya tentu tidak akan mengerjakan apa-apa. Tell me what to do, and I won't do it for a bit. Kan begitu prinsipnya orang-orang Aries.


Period yang sudah tiba menjadi penanda berakhirnya masa pre-menstruasi. Masa-masa kelam di mana seluruh badan, emosi, dan jiwa, semua merasakan rasa sakit luar biasa. Untuk itu, pagi ini saya bisa bangun dengan lebih 'ringan'. Bangkit dari kasur jauh setelah matahari terbit, memberesi kasur, melipat selimut, melipat kabel-kabel yang menjulur berserakan, menyapu lantai, memasukkan baju ke mesin cuci, melipat baju dari jemuran, dan terakhir, mengelap seluruh lantai dengan kain pel. I love the house after it mopped. Sayangnya, mood untuk ngepel tidak bisa setiap hari ada, terutama kalau sedang pre-menstruasi. Rasanya berat sekali mau ngepel lantai.


Semua saya lakukan dengan sangat pelan. Sekarang saya baru tahu kenapa tante yang di Bandung, kalau bergerak pelan sekali.. ternyata ini yang beliau rasakan. Menikmati setiap geraknya, memikirkan setiap langkah selanjutnya sembari melakukan satu pekerjaan. Karena lambat, jadi setelah semua dibersihkan dengan baik, cucian selesai. Tugas saya selanjutnya adalah menjemur pakaian ke luar, sambil sedikit menikmati sinar matahari. Sedikit saja.. tidak bisa lama-lama. Karena area terbuka di rumah ini hanya di teras depan, yang walaupun sudah di pagar, tetap bisa tembus pandang dari luar. Beruntung pagi tadi masih sepi, jadi masih bisa agak lama berdiri di bawah sinar matahari tanpa khawatir terlihat oleh para penjaja makanan yang melintas.


Coffee maker yang saya beli setahun lalu masih teronggok manis. Baru dua kali dipakai, dan dua-duanya untuk menyeduhkan kopi buat tetangga. Karena dia yang lebih excited saat coffee maker ini tiba sebagai paket bundling dari slow juicer pertama yang saya beli. Pagi ini, saya bermaksud memberi coffee maker ini sebuah kesempatan kedua, sebelum benar-benar memutuskan apakah akan menyimpannya atau menjualnya. Jadi saya seduh kopi Arabika Aceh Gayo Wine yang sekarang saya nyesel belinya (karena dengan teknik seduhan ala kadar seperti saya ini, rasanya jadi tidak beda dengan Arabika Aceh Gayo biasa), dan saya tinggal mandi. Tidak lupa sebelum mandi, saya menyetel podcast bapak-bapak ala obrolan Imam Darto, Surya dkk. 


Mandi tanpa ada tenggat waktu juga adalah sebuah kenikmatan yang jarang disadari. Membersihkan tubuh secara menyeluruh, notice dengan ruam-ruam kecil yang bermunculan karena PMS, bisa menjadi sebuah perjalanan refleksi internal dalam bentuk fisik. Saya mandi perlahan, sambil sesekali senyam-senyum dengan celoteh bapak-bapak kocak itu. Sampai beberapa menit kemudian mulai tercium aroma kopi yang sedap sekali. Waw.. I really like the smell of the house when I bake something, but this.. is much more simpler dengan perasaan hati yang sama saat mencium aroma kue kering yang dipanggang. Aroma kopi menyerbak di seantero rumah saat saya keluar dari kamar mandi. Saya berniat untuk menikmati hari ini, jadi walaupun tidak kemana-mana, saya memilih tuk dress-up sebelum menyesap kopi.


Kopi disesap. Biscoff dibuka. Sarapan standar yang selalu saya nikmati setiap hari; kopi dan pendampingnya. Kali ini ada biscoff dan kue kering yang saya buat beberapa hari lalu. Sambil memilih-milih film yang akan saya tonton untuk menghabiskan hari, karena saya sedang tidak ingin melakukan sesuatu yang serius seperti membaca buku, atau mengerjakan konten untuk baby juices. I just wanna relax. 


Jika sudah begini baru saya sadar, betapa besar nikmat yang sudah Tuhan beri untuk saya. Saya terlalu fokus dengan yang tidak ada, sampai lelah hati ini dibuatnya. Fokus pada sesuatu yang belum saya punya, dan sejak dulu memang hanya itu yang saya idamkan. Tapi ternyata Tuhan justru memberi saya hal lain. Hal yang memang hati saya inginkan, tapi seingat saya tidak pernah saya pinta secara spesifik. Saya tidak pernah minta untuk bisa beli rumah dan seisinya, bisa diberi kelebihan anggaran untuk membeli peralatan memasak, baking, furnitur, atau sekedar cat berkualitas yang membuat dinding kosong jadi enak dipandang. Saya hanya selalu meminta sebuah cinta yang datang dari pasangan sejiwa. Yang ruhnya diciptakan bersamaan dengan ruh saya. Yang dengannya kami bisa berbicara tentang apa saja, bertukar rasa dalam frekuensi yang sama. Ya.. itu yang saya selalu pinta. And yet.. He choses to delay that wishes. Ternyata, mungkin ini sebabnya. Agar saya bisa menikmati apa yang saya punya, yang bisa saya dapatkan, dan tahu seberapa jauh kemampuan saya untuk bisa saya kenali. 


Mungkin hanya dengan begini, dalam perjalanan nanti, kita tidak akan dibiarkan untuk merendahkan diri di depan orang lain, hanya demi dicintai. Butuh seorang laki-laki yang kuat untuk bisa mencintai dan hidup bersama seorang ratu, layaknya Prince Phillip yang akhirnya mau berlutut di depan istrinya ditonton oleh ribuan masyarakat. Karena itu tidak berarti sama sekali dia lebih rendah dari istrinya, dan justru sebaliknya. Namun, tidak banyak laki-laki yang mau berada di posisi seperti itu. Tidak banyak yang mengerti. 


Makanya saya selalu bilang sama semua teman-teman perempuan, yang datang mengadu akhir-akhir ini. Ketika perasaan insecurity dan tidak dicintai itu menyergap, jangan pernah terburu-buru untuk menerima mereka yang datang sekedar mencoba-coba. Jangan juga menurunkan mahkota hanya demi dicinta. Kamu lebih dari itu. Kamu punya semua yang kamu mau. Kamu bisa dapatkan apapun yang ingin kamu raih. Jangan pernah menggadaikan kemampuanmu, untuk diinjak-injak atas nama cinta. 


Pada waktunya nanti, kita pun pasti akan menurunkan ego. Untuk melayani, mengasihi, dan merawat dia sepenuh hati. Pada waktunya nanti, pasti akan ada yang kita lepaskan, karena status sebagai seorang istri mengharuskan kita untuk patuh pada suami. Itu pasti, dan wajib untuk kita jalani. Tapi sekarang.. jadikan waktu sendirimu untuk menghargai dirimu sendiri. Agar yang datang pun tahu bagaimana cara mereka menghargaimu. Pilih cinta yang tepat. Jangan andalkan fisik semata, karena fisik hanya bertahan paling lama dalam bilangan tahun. Temukan cara yang paling tepat untuk mencintai dirimu sendiri, karena dengan begitu, akan memudahkan kalian bersatu di tengah-tengah, di titik yang sudah dijanjikan. 


***

Bogor, 25 April 2021

Baru sekarang saya ingat, saya tidak pernah bercita-cita untuk berkarir tinggi. Saya selalu ingin menikah muda, atau maksimal usia dua lima. Saya hanya selalu ingin jadi Ibu. Hanya itu. Rela hidup sederhana, bahkan waktu itu saya sudah ambil ancang-ancang untuk jualan souvenir flanel di Samarinda. Ternyata Allah punya rencana lain. And so here I am.. kalau ini yang Tuhan mau, kalau ini yang terbaik untuk saya menurut-Nya, so be it. I'm game. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal