Skip to main content

Finding Newness: Jadi Ibu Kontrakan, Day One.

 



Satu hal yang baru saya ketahui tentang burnout (karena baru mengalami), yaitu your body craves for new energy. Makanya stress atau burnout sering diasosiasikan dengan kurang piknik, dan solusinya selalu piknik, jalan-jalan, foto-foto, demi suasana baru. Bagi sebagian orang tentu itu mudah dan tidak perlu berpikir panjang. Tapi, bagi orang seperti saya yang takut sakit dengan tes swab, piknik bukanlah jalan keluar. Lagipula, saya sudah kenyang jalan-jalan sendirian selama lima tahun terakhir menjalani ritual solo annual trip yang destinasinya selalu adalah tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sama sekali. Maka, burnout dengan situasi demikian jadi dua kali lebih berat, karena seolah-olah kamu tidak punya jalan keluar.


Tapi saya selalu yakin Allah pasti kasih jalan. Makanya, sebisa mungkin, walau rasanya sudah sangat buntu sekalipun, jangan putus doa dan keyakinan pada-Nya ya. Kamu tidak perlu jadi orang yang relijius untuk bisa selalu bergantung pada doa dan keyakinan pada entitas-Nya. Your logic is enough to embrace His power, if your soul is too weak to admit it.


Hari ini, resmi saya menyandang status baru sebagai Ibu Kontrakan! HAHA! Sebagai orang yang selalu ingin dipanggil Ibu, dan sejak umur dua puluh empat selalu merias wajah sedemikian rupa supaya disangka sudah Ibu-Ibu, saya bahagia sekali dengan status baru ini. 


Rumah yang orang tua saya beli nyaris setahun lalu, (yang saya protes keras sampai nangis bermalam-malam), baru saja ditawar oleh ibu-ibu untuk disewa. Kemarin sore, diiringi suara deras hujan, beliau menelepon. Meminta penawaran harga yang lebih ramah kantong. Sebutnya, rumah itu didamba oleh sang anak. Ada unit lain dengan harga sewa lebih murah dari yang saya tawarkan, tapi anaknya hanya mau rumah di deretan unit yang orang tua saya beli. Saya bersikukuh dengan harga yang saya tawarkan.. bukan apa-apa, gengsi bo. Itu juga sudah lebih murah dari penawaran pertama saya. 


Akhirnya si Ibu menutup telepon sambil berjanji akan menghubungi keesokan hari. Saya pun jadi berpikir yang lain selepas telepon ditutup, ah nothing to lose ini, kalau jadi ya Alhamdulillah, kalau tidak, mungkin bisa jadi peluang di sewakan per malam. Lebih-lebih papa tidak mensyaratkan uangnya ditransfer ke beliau, tapi semua untuk saya. HAHA. I am a money-oriented-kind of minimalist. Tapi tentu uang itupun tidak akan saya gunakan untuk keperluan saya semua.


Siang tadi si Ibu kembali menghubungi, meminta harga yang sama dengan yang ditawarkan kemarin sore. Akhirnya dengan syarat kami tidak membayarkan iuran bulanan, saya pun sepakat. Padahal kalau mau dihitung, jika mereka bayar sendiri iuran bulanan, harganya jadi lebih mahal dari harga yang saya tawarkan. Tidak lama setelah telepon ditutup, si Ibu mengirimkan bukti transfer pembayaran DP. Saat itu juga saya potong transferan tersebut untuk membayar marketing fee dari pihak developer yang sudah mencarikan penyewa.


Jujur sejak pagi hingga siang saya tidak punya energi sama sekali untuk bekerja. Hanya mengerjakan pekerjaan yang minor.. minor sekali.. ibarat lari, itu cuma... dua ratus meter.. Sampai si Ibu menghubungi, harga deal, dan saya mulai teraliri oleh energi baru. Oh begini rasanya energi baru.. 


Sorenya, saya menutup laptop lebih awal. Memilih jalan kaki untuk mencari beberapa toko yang menjual kebutuhan rumah kosong. Sebelumnya tentu saya langsung menelpon bapak tukang bangunan yang sebetulnya agak kurang saya percaya tapi beliau satu-satunya yang ada di sana, membuat janji temu dan meminta masukan untuk halaman belakang, bisa diapakan ya Pak? begitu kurang lebih isi percakapannya. Setelah itu barulah saya mencari item-item yang dimaksud. Berjalan kaki total satu jam sampai kembali ke rumah lagi, dengan mengantongi beberapa informasi, plus menemukan sebuah bak mandi granit yang elegan sekali.. saya rindu bak mandi.. hiks. Ternyata tiga tahun mandi pakai shower, akhirnya saya rindu juga bak mandi seperti waktu jaman ngekos dulu. Tapi kamar mandi di rumah ini terlalu kecil untuk dipasangi bak mandi sebagus itu.


Bak mandi saya book, beberapa batuan halaman juga saya pesan, untuk diangkut di akhir pekan. Saya nyaris tak sabar menunggu akhir pekan, karena akan mulai membenahi rumah yang sudah nyaris enam bulan kosong itu. 


Tidak berhenti sampai di situ, saya pun mengontak tukang gordyn yang dulu memasang gordyn dan semua teralis di rumah ini. Bapaknya masih ramah seperti biasa, mahal seperti biasa, tapi kali ini saya sudah lebih pintar dan lebih kaya referensi, gabisa lagi dibohongin dengan harga. Setelah chatting agak lumayan lama, bapaknya menawarkan diri untuk datang ke rumah besok siang, saya iyakan saja. Dengan catatan, saya baru nanya harga ya, Pak. Si Bapak setuju. 


Terakhir, dan ini yang paling menyenangkan, adalah bagian scrolling tokopedia untuk semua kebutuhan printil rumah. Setelah ini saya akan membuat surat perjanjian antara pihak penyewa, dan salah satu poinnya akan melarang penyewa untuk memaku atau mengubah secara permanen sesuatu di rumah itu. Maka, saya pun harus menyediakan semua fasilitas yang mendukung agar mereka tidak maku-maku sembarangan. Rak, gantungan kamar, gantungan kamar mandi, cermin, semua harus sudah ada supaya mereka tidak sembarangan pasang. Rumah itu memang saya protes, saya marah ketika tahu papa beli, saya kesal bukan main saat harus menerima kunci, tapi ya tetap saja.. it makes my parents happy. Semoga ini jadi pembuka jalan bagi bahagia-bahagia lain yang seperti snowball.. kecil-kecil.. interview menggelinding jadi besar. HAHA. (Btw, did you get my snowball jokes?)


Ada satu akun IKEA di tokopedia, menyalurkan semua barang IKEA non furnitur yang saya suka sekali. Satu setengah jam bisa habis hanya untuk melihat semua isi pajangan.. kalah nonton tiktok. ada lebih dari dua belas item yang saya masukkan ke keranjang, menunggu di checkout. Rencananya saya mau tengok dulu toko peralatan kamar mandi di dekat sini, yang juga lumayan terpercaya, jika ada item yang saya cari di sana, maka saya tidak jadi beli di toko online. Walaupun saya yakin, harganya pasti lebih mahal yang di sini.. tapi ya.. gapapa lah, yang penting pasti. Ini sudah waktunya saya mencari kepastian saja, bukan yang sok mencoba-coba, berteka-teki, mind games, blahhh.


Lah curhat.


Setelah semua selesai, terakhir, saya masih scroll instagram. Mencari ide-ide design interior yang mungkin bisa menginspirasi. Setelah enam bulan penyewa ini selesai, saya mungkin akan menjadikan rumah itu sebagai vacation house yang bisa disewa bulanan. Papa baru sekarang menyesal tidak beli rumah yang homestay, katanya harganya lebih murah, dua lantai, tapi tanahnya kecil, Waktu itu beliau tidak memperhitungkan bahwa rumah itu bisa dibisniskan.. dan tidak tahu anaknya bisa bisnis. But anyway.. saya pun sudah sedikit banyak tahu tentang bisnis penginapan, karena dulu sering sekali jumping dari satu penginapan ke penginapan lain, juga teman akrab saya, Direktur Keuangan kantor, pernah menjadikan rumah asetnya sebagai rumah sewat harian airbnb. Ternyata, banyak juga konfliknya, dan bukan hanya soal effort yang lebih untuk membersihkan rumah, ganti sprei tiap hari, tapi juga urusan dengan RT RW, tetangga setempat. Apalagi rumah papa ini, cenderung tenang neighborhoodnya. Saya harus berhati-hati juga kalau menerima penyewa nantinya.


But after all, the game is on.

Saya menemukan aliran energi terbaru di dalam darah saya, walau tidak begitu banyak, tapi setidaknya cukup untuk membuat saya bergerak keluar rumah, berjalan kaki, and sweat my ass off. Cukup untuk membuat saya kembali bergairah untuk belanja, dan membeli segala keperluan yang sifatnya sangat butuh, (bagi minimalist, membeli barang-barang dalam skala sangat butuh itu adalah kebahagiaan tersendiri. Tidak banyak orang yang mengerti perasaan ini.. jadi ya.. begitulah. Hehe).


So..


Bagi kalian yang sedang mengalami burnout.. mungkin kalian bisa mencari dari dalam diri kalian, bertanya,. jenis 'kebaruan' seperti apa yang saya mau? Karena bisa jadi, vacation pun tidak menyembuhkan burnout kalian. Bisa jadi vacation sifatnya hanya seperti asam mefenamat yang menghilangkan nyeri tapi tidak menyembuhkan akar masalah. Yang jelas, burnout itu adalah sinyal bahwa tubuh kita sedang membutuhkan sesuatu yang baru. Entah itu a change of mindset, or a change of life. Banyak juga orang mengartikan itu dengan pindah pekerjaan.. well, jika itu mudah untukmu, go ahead, take the leap, accept the offer.. yang penting ada sesuatu yang baru untuk dirimu dan bisa memercikkan the joy of your soul. Cuma diri kita sendiri yang tahu, apa yang paling pas untuk kita saat ini. Kebaruan seperti apa yang kita butuhkan.. apakah temporary, atau yang permanent. Yang sekedar hepi-hepi, atau yang menambah value terhadap jati diri.


***

Bogor, 5 April 2021 23.58

2 minutes before International Day of Conscience is over.


Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal