Skip to main content

Cinta yang utuh

 



The only reason why I didn't write for the past couple of days, is because I was busy I'm having one big question that bothered me a lot. It interferes my peace, and kinda make me lose all my motivation. Especially today, which I practically doing absolutely nothing (as a person who is really picky with her time, this made me kinda guilty, but still doing it mindfully. Like, I'm totally aware that this is wrong, but I keep doing it anyway). I'll tell you the question later in this post.


***


I've been analysing watching Meghan Markle videos lately. Saya agak kaget juga ternyata banyak yang mengulas keculasan beliau sejak wawancara dengan Oprah itu melejit. Saya pikir semua orang ada di pihaknya.. karena isu rasisme kan adalah kesayangan segala bangsa, dan pihak yang tertindas (dulunya), adalah pihak yang tersayang sekarang. Makanya waktu video itu muncul dan menjadi perbincangan, saya sangat tidak berminat untuk mencari tahu. Untuk apa mencari tahu, toh pasti bergentayangan di laman feed youtube saya, yang walau saya tidak minat untuk tahu pun pasti tahu karna kalau melintas dalam durasi dua-tiga menit, ya paling saya klik juga.


Saya baru tertarik menonton mereka sekarang, setelah Prince Phillip meninggal, dan Prince Harry pulang untuk menghadiri pemakamannya. Kepulangan itu tentu tanpa didampingi istrinya mana berani lah yang di dalam salah satu berita (NYT kalau tidak salah), Meghan tidak bisa terbang jauh karena usia kehamilannya. Lucky for her, saya mbatin begitu waktu baca berita itu.


Entah ya.. sejak dulu saya memang tidak pernah berminat dengan sesuatu yang terlalu heboh. Ketika orang beramai-ramai berpihak pada victim, saya selalu memasang antena waspada untuk tidak ceroboh terikut opini publik. Juga karena saya terbiasa berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai lapisan, I can say that I have a rather good judgment to facial expression. And I can't trust her expression in that interview.. terlebih lagi, ekspresi Prince Harry yang seperti agak bingung dan canggung. Makanya saya tidak pernah buru-buru ada di pihak nya Meghan selaku orang yang mendapat perlakuan rasis dari keluarga kerajaan.


Yang ingin saya bahas di sini adalah tentang sebuah cara mencintai yang seringkali membuat manusia menderita. Pasalnya, dalam urusan cinta kita ini egois, bukan? Selalunya ingin menang sendiri. Jika cinta pada seseorang, maka orang itu harus kita miliki. Hingga muncullah sajak tentang cinta tidak harus memiliki, namun ketulusan melepaskan dan masih cinta itu jarang sekali terjadi. Yang ada, cinta yang dilepaskan itu, akan terganti dengan sendirinya oleh kehadiran orang baru, cinta yang baru, dan cinta yang sudah lepas itu.. ya.. lepas. Hilang.


Kepulangan Prince Harry ke kampung halamannya, bertemu keluarga besar, dan mungkin menumpahkan rindu pada apa yang selama ini familiar baginya, mungkin akan membawa perubahan pada hubungan mereka. Atau mungkin juga tidak. Yang jelas, saya semakin tertarik mengikuti kisahnya. Kenapa?


Karena sebagaimana Atta dan Aurel yang menikah tanpa kehadiran orang tua laki-laki, saya punya atensi khusus pada perempuan-perempuan yang menikahi, mencintai, laki-laki hanya untuk dirinya saja. Saya rasa itu bukan sebuah bentu falling in love, tapi adalah bentuk loving the idea of in love.. cintanya itu tidak.. utuh. Dan cinta yang tidak utuh, cinta yang setengah-setengah, biasanya akan luar biasa perjalanannya.


Saya sangat paham psikologis perempuan yang mencintai pasangannya begitu dalam, tapi di saat yang sama juga membenci keluarganya, termasuk orang tuanya. Saat pasangannya pulang ke rumah, dia marah luar biasa dan merasa ditinggal. Dia bahkan tidak rela jika pasangannya mengeluarkan uang lebih untuk merenovasi rumah orang tua, misal. Dia tidak suka jika harus berbaur dengan keluarga pasangan berlama-lama, dan seringkali jengah dengan kelakuan keluarga mereka. Ini merupakan tanda bahwa cintanya pada si pasangan, adalah karena pasangannya membuat dirinya berbeda. Dia mencintai pasangannya ini, karena ada sesuatu yang bisa dia dapatkan dari si pasangan, entah popularitas, harta, atau simply perasaan dicintai, namun si perempuan ini tidak benar-benar mencintai pasangannya. She doesn't love him, but she loves the way he loves her. Kurang lebih seperti itu.


Dulu, sewaktu saya ada di posisi itu, saya sudah berjanji dalam hati. Kalau lebaran dan dia minta berlebaran di rumahnya, saya lebih baik berlebaran sendiri. Entah di rumah mamah, rumah eyang, mana pun asal tidak bersama mereka. Rupanya Allah dengar niat buruk ini, jadi Dia dengan kuasa-Nya menggagalkan acara kami, dan saya digiring untuk belajar mencintai diri saya sendiri agar bisa lebih mengenal-Nya dan mencintai-Nya.


Karena saya yakin, cinta adalah wujud dari tanggung jawab. Sebagaimana rupa tanggungjawab, tentu menjalankannya tidak semanis yang dibayangkan. Bagi mereka yang sudah dewasa, cinta yang diberikan tentu sudah sepaket dengan penerimaan. Menerima kekurangan pasangan itu mudah, karena kita cinta kelebihannya, namun juga bisa menerima keluarganya dengan segala paket indah serta gelap yang menyertai kehadiran mereka di hidup kita. 


Perempuan dewasa tentu akan menyadari hal ini sebelum memutuskan untuk menerima pinangan. Dia sudah mempertimbangkan jenis keluarga seperti apa yang kelak ia akan jadi bagian di dalamnya, dan menetralisir hatinya untuk menerima segala bentuk baik dan buruk keluarga itu. Seperti memasuki sebuah lingkungan baru, sudah siap menerima kebaikan dan keburukan tingkah polah tetangga yang beragam. Bukan saya mau bilang Aurel dan Meghan sama-sama tidak dewasa, bukan itu. Tapi mereka bisa jadi contoh yang jelas, tentang wujud cinta yang tidak disertai penerimaan. Saya mungkin tidak tahu banyak juga tentang Aurel, karena video mereka sudah tidak ada sama sekali yang melintas di youtube saya (tiap kali lewat selalu saya klik don't recommend channel), jadi dia dan keluarga itu sudah lenyap total kecuali kalau saya tengok tab trending. Tapi jika dia memang sudah consciously in love, dan mencintai suaminya dengan utuh, tentu selepas acara mewah tersebut dia akan minta untuk mengunjungi mertua yang sedang sakit.. (tapi kalau sudah ya berarti dia memang dewasa, ya). Sedangkan untuk Meghan.. saya lega sih ternyata bukan hanya saya saja yang despise her interview with Oprah dan banyak lagi orang lain begitu.. dan yang jadi highlight saya adalah ketika dia bilang dia ingin berempat saja dengan Harry dan anak-anak mereka.. well that sounds absolutely selfish.


Saya pikir saya saja yang cringe melihat mereka terlalu banyak berpegangan tangan di depan publik (beda dengan Kate dan William yang tidak pernah pegangan tangan karena menjaga etika dalam bekerja, because in public, they are working). Ternyata banyak juga yang bahas tentang itu. Saya rasa akan sangat menarik kalau plot twistnya begini: Harry pulang kampung, jiwanya rindu pada suasana yang begitu familiar. Suasana rumah. Lalu semua orang berdatangan, keluarga jauh, kerabat, dan bertemulah dia dengan duchess dari mana gitu., yang memperlakukannya sebagaimana ia ingin diperlakukan, tanpa mengabaikan status royal nya, tapi juga tidak berlebihan dalam memperlakukannya sebagai seorang pangeran. Lebih-lebih lagi, si perempuan ini, adalah sangat.. British, paham manner, mengerti masa kecil Harry, they share the same appetite in food.. Hahahah... asli saya penasaran bagaimana kelanjutan mereka ini. Kata analis sih, Harry mungkin pulang dengan membawa penyesalan dari interview Oprahnya, karena dilakukan saat Prince Phillip sedang sakit dan Queen Elizabeth sedang banyak pikiran. 


***


Pertanyaan yang mengganggu.

Pertanyaan ini entah dari mana datangnya. Sabtu saat saya sedang mengisi acara komplek pun saya masih baik-baik saja.


What if.. I never love again? 


Mungkin karena sudah terlalu lama berkubang dengan pikiran sendiri, jadi pikiran agak aneh-aneh begini. Tapi ya.. yang jelas, pada setiap yang mendekat kini, yang flirting-flirting lucu di instagram, saya sulit sekali membangun perasaan pada mereka. Satu saja. Rasanya saya pun ingin bisa membalas kode-kode itu dengan tidak kalah genit, because man.. believe me, aku tu sangat flirty orangnya. Tapi kok sekarang tidak bisa.. sulit dan memang tidak ada sense ke arah sana.


Seorang teman pernah bertanya sebenarnya yang lu cari orang yang kayak apa? Yang saya jawab dengan jawaban standar dan dia tertawa. Padahal saya serius. Se-standar itu, dan sesederhana itu keinginan ini, ternyata dianggap utopis olehnya. Terlalu muluk, dan fairy tale. Padahal saya gak minta banyak, apalagi minta menikahi pangeran, karna lihat Kate Middleton, ikhlas sekali dia menikah tapi trus statusnya itu jadi pekerjaan, yang saya akui, dia menjalaninya dengan sangat baik sangat profesional. Susah loh itu.


Tapi saya pernah sekali waktu, beberapa bulan lalu, had a really good conversation with a man in a cafe. Kita sebetulnya lagi bahas kerjaan waktu itu, tapi karena sudah malam dan sudah selesai juga, jadi mulai bahas hal-hal lain di luar kerjaan. Saat itu saya menemukan sebuah perasaan aneh.. semacam comfort, but not too much. Di satu sisi, saya pun tidak pernah tertarik dengannya, yang kalau kata orang-orang sih, he's a good looking guy, and I must admit he has a look, and physical feature yang tidak bisa di deny. But I never liked a guy for those features, karena saya orang yang anti ribet dan orang-orang seperti itu biasanya yang naksir banyak dan saya terlalu malas untuk saingan hanya demi cinta. Blah. Jadi untuk amannya, sejak dulu saya immune terhadap good looking guys dan ga pernah sekalipun cinlok2 sama yang good looking. (Makanya track record mantan saya, rada-rada.. yaaa.. gitu deh).


Waktu itu saya pikir, maybe it's the conversation. Karena jarang sekali saya bisa mendapati orang yang speak my language, baca buku-buku yang saya dalami topiknya. Kita punya banyak sekali kesamaan, dan rasanya kali ini saya tidak takut to reveal my true mind, kadang kan saya suka takut juga kepinteran di depan cowok dan bikin mereka terintimidasi, jadi kalau ngobrol tu saya banyaknya diem dan mendengar serta bertanya. Men like those things, right.. ketika mereka dibuat seolah yang paling tahu segalanya. But not this time.. kali ini, if I ask a question, itu karena memang saya tidak tahu. Dan saya tidak perlu repot-repot berpura tidak tahu pada apapun yang dia jelaskan, karena ya memang dia lebih tahu.


There was this feeling.. but that feeling wasn't.. love. Or so I thought. Karena love yang saya tahu, itu ada perasaan geli-geli di dalamnya. Terus ingin bertemu, terus ingin berkontak.. tapi ini beda. It's just I feel like.. I understand him, dan dari situ saya dapat semacam kepercayaan diri that I can take care of this one. 


Atau saya pikir demikian. Tapi ternyata, berbulan berlalu, perasaan itu sekarang hilang entah kemana. Saya cari lagi, rupanya sudah tidak muncul. Entah karena memang ditelan kesibukan, atau saya yang secara alam bawah sadar menyingkirkannya dengan tega karena takut kecewa. Saya pun tidak tahu, tapi yang jelas, bahkan perasaan itu pun, belum bisa saya sebut bahwa saya bisa mencintai. Makanya saya makin takut.. bagaimana kalau hati ini memang sudah kebas? Saya buru-buru pinta pada Sang Penggenggam Hati, untuk melunakkan hati ini. Agar mudah menerima siapapun yang kelak datang dengan lugas.. rabbi innii limaa anzalta ilayya, min khoyrin faqiir.. artinya kan i'm not gonna be picky to whatever good You'll give me, Ya rabb.. berarti saya harus bisa not picky. Itu yang bikin takut.


Ketakutan itu berhasil membuat saya mencari jawaban seharian ini. Tidur sampai jam 10 pagi, hanya terbangun setiap jam, untuk tidur lagi, terus begitu. Tidak meninggalkan kasur kecuali untuk solat, bahkan sebelum ashar sempat tertidur yang waktu tetangga ada yang datang untuk antar risol, saya nya tidak dengar. Padahal pintu terbuka lebar.


Saya sangat takut tidak bisa mencintai lagi. Terlalu termakan label sendiri sebagai a cold-hearted woman dan ternyata benar, tidak bisa merasakan affection seperti dulu saat saya menemukan tagline love is always the secret ingredient. Haha. Saya rasa love yang saat itu saya punya, sudah terkemas rapi semua dalam toples-toples putri salju yang dia bawa. Makasih mas.. kamu meninggalkan pelajaran terlalu berharga di sini. Bahkan butter yang kita beli waktu itu masih tersimpan di dalam kulkas bareng dengan cetakan kue semprit yang kamu request. Good lord, now I hate you. 


Ya, takutnya itu. Saya pernah mencintai orang sebegitu dalam, bertahun-tahun. Sekarang, untuk melakukannya lagi, saya terlalu takut. Dan cari aman; menunggu orang lain mencintai saya duluan, mengungkapkannya terang-terangan, tanpa kode-kodean, supaya saya pun bisa langsung membuka jalan, membuka perasaan pada hidup yang baru itu. Tapi kan, orang sekarang maunya main aman juga.. gak mau mereka ambil resiko menumpahkan perasaan begitu saja tanpa ada garansi diterima.. sedangkan untuk main kode-kode saya sudah tidak minat. Ya Tuhan tolong hamba..


Tapi saya selalu percaya, perempuan itu lembut perasaannya. Mudah bagi mereka untuk mencintai orang yang mencintai mereka. Selama mereka merasa dihargai, selama mereka tidak cringe dengan polah orang itu.. selama itu pula perlahan dia akan buka hati dengan mudah. Juga mudah pula untuk memberikan semua yang mereka punya.


Saya ingin menjalaninya dengan benar kali ini. Dengan utuh, menerima sepaket duka dan bahagia yang kemungkinan dia bawa. Menerima dirinya, keluarganya, dan tidak memisahkan dia dari segala yang disukainya. Untuk urusan cinta, perempuan memang egois. Maunya si suami itu milik dia semua, lupa bahwa sebelum mereka bertemu, dia punya kehidupannya sendiri yang telah menjadi bagian dari dirinya. Jika itu direnggut, dia bisa kehilangan separuh jati diri yang membuatnya hilang arah. Beda dengan laki-laki yang cenderung senang kalau istrinya asik sendiri. Karena itu artinya they got to do their hoby, -_-. haha


Mungkin itu juga alasan Allah masih kasih saya Ramadan sendirian lagi. Ini pun yang saya tanyakan hari ini,, kenapa.. setelah Ramadan tahun lalu saya jalani dengan benar, sendirian tanpa gangguan, berdoa dengan serius, mempertimbangkan semua waktu terbaik untuk berdoa, mengungkapkannya dengan lugas dan jelas.. tapi masih juga tidak dikabulkan. Tentu bukan saya mempertanyakan kebijakan-Nya karena saya yakin keputusan ini adalah yang paling adil karena Dia Maha Adil. Saya lebih ke mempertanyakan diri sendiri, apa saya memang belum lulus tahun lalu. Belum sempurna menjadi jiwa yang utuh, belum sempurna terbiasa masak untuk sahur dan berbuka. Ya iya lah buktinya satu ramadan kali ini saja, sahurnya terlewat, pas bangun sudah subuh. Emak-emak macam apa yang baru bangun pas subuh, bisa gak puasa seisi rumah. 


Ya, mungkin karena saya belum lulus, dan saya harus cari tahu di mana saya harus remedial. I'll do better this time. Insya Allah.

***

Bogor, 1 Ramadan (lupa tahunnya, udah ngantuk mau ngecek hp).

13 April 2021

Jam 11.07 pm. nulis ginian doang sejam. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal