Skip to main content

Cinta Sederhana

 



I'm not a superstitious person, even if I believe Astrology has something to do to human's psychologies,  but I do believe that nothing in this world happened by coincidence. Everything, every single little things, are all planned. Carefully planned as part of a grand design we don't know about. 


After that one big question my moment, about my fear of incapable of love.. these days I read things that led to it: Vanessa Carlton interview with Vice in which she says something related to this and there's a book that she read which inspires her to write a song, the episodes I re-watch just to see Sebastian Stan in OUAT where the dialogue are all about opening your heart and starting a new beginnings, and.. the Royals.


All that led me to a conclusion that.. love should be.. simple. 

Tidak serumit memecahkan konsep-konsep ketuhanan, atau prinsip hidup yang jelimet.

Sesederhana memilih sebuah lukisan, yang kalau ditanya itu kan biasa aja.. kenapa pilih itu? Yang jawabannya sulit disampaikan secara verbal because I hope you just.. understand. 

Dalam memilih lukisan, ada sesuatu yang move your soul, menggerakkan isi di dalam hati, dan itu sulit untuk ditafsirkan. Kamu hanya yakin, dan memang sesederhana itu. Tidak perlu banyak penjelasan, pun yang dijelaskan tidak perlu banyak menuntut elaborasi yang panjang melebar. Cukup.. mengerti. 


Ini mungkin yang kita cari. Mungkin yang kita butuhkan. Sebuah kesederhanaan di tengah kehidupan yang kian rumit. Di tengah media yang kian cerewet dan tidak berhenti bicara. Perbincangan tanpa makna menjadi perdebatan. Hal-hal bodoh dipertontonkan. Duhai gusti, sekarang aku paham resahnya para pujangga masa lalu saat melihat tayangan di televisi. Kini aku pun merasa begitu, setiap kali harus menjelajahi tab trending  di layar ponsel.


***

Lagi-lagi masih tentang The Royal Family. Sekarang saya agak sedikit paham emosi yang dirasakan oleh Meghan sampai memutuskan untuk lakukan interview dengan Oprah. Mungkin dia memang tertekan oleh the institution, dan wawancara itu bukan ditujukan untuk The Royal Family. Mungkin dia pun ingin membuktikan bahwa dia pun punya pengaruh di dunia. Bukan hanya sekedar aktris Hollywood biasa yang bisanya main tv series berjilid-jilid. Karena perlakuan di dalam istana bisa jadi amat kejam, apalagi dari lingkaran pertama di luar lingkaran inti.. memperlakukan orang asing, a divorcee, beda warna kulit, aktris pula, tiba-tiba mereka harus tunduk dan menghormat pada nya dan memiliki gelar kerajaan. 


Selepas meeting terakhir sore tadi, saya masih memutar satu video analisis youtube dari seorang black people yang marah dengan interview Meghan. Sampai tertidur mendengarnya marah-marah, pas bangun ternyata sudah kelewat sore dan hujan. 


Alrite, enough about Meghan.

Saya ingin membahas cinta yang sederhana saja.

Sesederhana Kate dan William yang tidak pernah bergandengan tangan. Berbeda dengan Meghan yang selalu merangkul erat suaminya setiap berjalan seolah tidak mau sendiri. Kate, despite everything they say, melakukan tugasnya dengan sangat baik. Soal cinta, biar mereka saja yang punya, tidak perlu ditunjukkan apalagi dipamerkan. Karena dengan Kate yang selalu hadir di depan publik, tersenyum melambai yang terpancar dari mata, ketenangan yang dia tampilkan, cukuplah menjadi bukti cinta yang sangat dalam pada laki-laki yang ia nikahi karena cinta itu. Dia melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan itulah cinta yang sederhana.


***

Maybe the world needs more of that. A simple love, yang datang dari sebuah understanding. As 'I understand' is a complete sentence.


***

Bogor, 15 April 2021, 21:48

April is a halfway now. I never know that living a simple life is now a luxury. Wanting a simple love is now a.. real struggle. I've been waiting, and I'll wait and wait. I will just.. wait. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal