Skip to main content

15 Ramadan 1442

 



2021 nampaknya tengah mengajarkan tentang betapa berharganya jika kita bisa 'tiba dengan selamat'.

Setelah 2020 mengajarkan dengan polah sang waktu mencabut, mengambil, menghilangkan apa yang selama ini kita pikir akan terus ada selamanya. 


***


Sore kemarin saya menemani seorang teman lama berbuka puasa di sekitar area kampus. Namanya area kampus di jam buka puasa, meskipun pandemi, tetap saja ramai. Celoteh riang mahasiswa-mahasiswi, dengan baju kemeja, sneakers, tertawa-tawa menertawai satu sama lain. Mata saya terpaku pada meja panjang mereka. Membayangkan rasanya betapa baru kemarin saya adalah mereka. Tidak pernah melalui waktu sendirian, selalu dikelilingi banyak teman. Tidak terbayang jika sepuluh tahun telah lewat dan saya duduk di sana.. bersama seorang teman, bercerita tentang seisi dunia dan sekelumit politik-reliji yang rumit.


Satu setengah tahun pandemi.. saya tidak lagi menjalani ritual mengelilingi botani square sepulang kantor. Ritual yang dulu saya jalani nyaris setiap hari, dengan atau tanpa membeli sesuatu apapun. Maka hari ini, bertepatan dengan tanggal 15 Ramadan yang jatuh di saat saya sedang datang bulan, saat di mana saya bisa leluasa bepergian karena tidak perlu ribet dengan pemilihan lokasi mushola, saya kembali memilih menjalani ritual itu. Berbekal satu-dua kebutuhan yang memang harus dibeli, maka saya mengelilingi mall ini selama dua jam.


15 Ramadan, setahun yang lalu. Untuk pertama kalinya saya merasakan kehilangan yang begitu nyata. Kehilangan seorang teman dekat yang hanya terhitung bulan sejak pertama kali saya diberitahu kabar 'rahasia' tentang penyakit yang ia derita diam-diam. Pagi itu, langit saya runtuh. Tangis tidak mampu terbendung, padahal saya berpuasa. Hingga matahari berada di atas kepala, saya hanya bisa tidur dan menangis. Kehilangan itu begitu nyata.


Belum genap satu tahun luka itu terbentuk, saya kembali mengalami kehilangan yang lain. Membuat saya semakin takut.. jatuh cinta.


Saya takut.. jika perasaan itu terbentuk, rasa sayang, rasa memiliki, rasa aman, yang saya jadikan pegangan, kemudian tiba-tiba, dalam satu antuk batu, dalam satu kejap mata, itu semua kembali hilang dan saya kembali.. sendiri.


Seperti sekarang. Kadang mengutuk kesendirian, kadang pula merengkuhnya erat seolah tidak ingin siapapun merebut secara paksa. 


Kita terlalu sibuk dibuai oleh angan jika nanti dia tiba, sampai lupa untuk mempersiapkan diri bahwa kelak jika dia tiada pun tidak kalah nyata. Saya kini takut dengan pikiran saya sendiri. Takut merutuk, takut pula membuka diri menceritakan terlalu banyak tentang yang saya rasakan. Sampai teman saya bilang kemarin, mungkin karena tekanan itu sudah kena ke mental, jadi kamu semakin tertutup. Mungkin.. 


Walau begitu.,

Kita tetap dituntut untuk melanjutkan hidup. Pada garis edar yang sudah ditentukan untuk kita. Pada cerita yang kita tidak akan pernah tahu akan berakhir seperti apa. Indahkah.. tragiskah.. 

Tanpa pernah tahu jika nanti kita pergi dari dunia ini, akankah ada orang yang sudi merelakan 60 detiknya untuk membaca Al-Fatihah yang ditujukan untuk kita seorang.


***

Botani Square masih sepi. Entah karena pandemi, atau karena tanggal tua, atau karna Bulan Ramadan, atau mungkin kombinasi ketiganya.


***

Bogor, 27 April 2021

Akan ada fase di mana kamu tidak lagi berambisi pada output dari apapun yang kamu kerjakan. Yang penting niatmu baik, kerjamu sungguh-sungguh. Cuma itu.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal