Skip to main content

When you open your heart, eventually you’ll have everything that you want

 



Pingin kue cucur dari akhir Januari: kesampean hari ini.

Pingin ke Kopi Nako, walau sekedar tahu kayak apa sebenernya lokasinya: kesampean hari ini (walau belum kesampean sampe masuk).

Pingin ganti baterai jam yg udh mati dari Januari: kesampean hari ini.

Kesampean akhirnya pingin menjalani ritual lama: muterin Botani Square, masuk-masuk semua store, dan mencentang beberapa list yg sudah ditulis lama sekali.


All these.. karna saya mencoba membuka hati.


***

Ada satu kebiasaan dari keluarga yg sangat saya tidak suka: mereka selalu impromptu terhadap sesuatu yang mestinya butuh persiapan. Saya adalah orang yang penuh perencanaan. Jika saya sudah memutuskan untuk A, maka itu artinya setelah itu ada A.1, A.2, A.3, dst yg akan saya lakukan. Kebiasaan mereka adalah meminta saya melakukan sesuatu yang sangat di luar dugaan, dan merusak semua rencana yang sudah tersusun rapi.


But I learned the hard way.

Pernah suatu ketika, Om saya meminta hal yang sama. Padahal saya sudah punya rencana, dan jika saya turuti permintaannya, saya harus batalkan janji yg sudah saya buat. Akhirnya dengan segenap keberanian saya menolak, dan hanya mengantarnya sampai terminal ketimbang sampai ke luar tol menuju rumahnya.


Dan saya menyesal.

Waktu itu saya tahu, keputusan ini akan saya sesali. Tapi ego untuk memenuhi rencana pribadi jauh lebih besar ketimbang rasa kompromi terhadap request mendadak. 


Jadilah kali ini saya tidak ingin menyesal dua kali. Begitu permintaan itu disampaikan oleh Tante, sy langsung iyakan bahkan dengan tawaran yg lebih baik. Tawaran yg SANGAT tidak saya pertimbangkan sebelumnya. Tawaran yang bahkan saya sendiri pun kaget mendengarnya:


“Nginep di Bogor aja, di rumah ku”.


Saya bukan jenis orang yang mudah memasukkan orang ke rumah. Bahkan teman-teman lelaki, walau dekat sekalipun, tidak saya beritahu alamat rumah ini. Mengajak mereka menginap pun seharusnya dilakukan dengan penuh persiapan: setidaknya kamar depan sudah siap. Setidaknya kamar mandi sudah dibersihkan. Setidaknya..


Tapi mereka tiba di rumah dengan kondisi rumah benar-benar apa adanya. Kamar depan yang masih berperan jadi ruang setrika, secepat kilat saya ubah untuk kembali berfungsi sebagai kamar. Dengan sedikit pemberitahuan tentang pintu kamar mandi yang agak “khusus”, mereka tidak keberatan dan tetap bersikap biasa saja.


Ternyata..

Ternyata urusan membuka hati tidak serumit itu. Membuka hati tidak selamanya hanya tentang menemukan the right one. Membuka hati bisa juga berarti, mempersilakan orang-orang yang selama ini mencintaimu, untuk masuk menempati ruang di dalam situ.


Decluttering dan tidying up memberi saya semacam rasa kepercayaan diri untuk mengajak mereka masuk. Membiarkan mereka melihat, berkomentar, menilai, apapun yang ada di dalam ruang saya yang paling personal sekalipun. 


Lalu setelah itu.. perlahan satu persatu keinginan yang sudah lama saya pendam pun mulai terwujud. Mulai dari pagi hari, secara tiba-tiba kita jalan kaki, beli kue ke tukang kue sy biasa beli, dan ternyata ada cucur yang selama ini saya cari-cari. Kopi Nako yg baru kemarin saya ajak seorang kawan untuk menyambanginya tapi kita terlalu sama-sama malas jalan jauh, akhirnya tadi saya lihat langsung di depan mata tanpa sengaja karna bersebelahan dgn tempat makan yg kami tuju. Pencarian oleh-oleh lapis talas, berhenti di sebelah Botani Square, mall yg sudah genap satu tahun tidak saya sambangi.


Terakhir tawaf di Botani tanggal 5 Maret, selepas pelatihan offline pertama dan terakhir di 2020.


***

Namun hati kami sedang patah kini.

Om yg tadi saya ceritakan, anggota keluarga tertua dari lima bersaudara ini, kini sedang dirawat di ICU dan memasuki minggu ketiga. Kami mencoba mengunjunginya semalam, tapi dilarang oleh petugas. Jadi hanya mendengar cerita kondisinya, dan itupun sudah cukup membuat saya dan tante berlinangan air mata.


Keluarga kami hanya segini dan belum pernah mengalami kehilangan yang berarti. Jika nanti ini terjadi.. maka ini akan menjadi kehilangan pertama dan saya sangat tidak sanggup membayangkan apa yang akan saya lakukan.


“Aku akan jongkok di situ dan nangis” ujar saya pada kedua tante pagi tadi sambil ngobrol pagi. Mereka tertawa, saya pun tertawa. Sudut itu memang sudut ternyaman untuk jongkok, menangis, membenamkan muka, dan berharap menghilang dari sini.


Saya bahkan tidak tahu bagaimana harus ke Jakarta jika nanti kabar itu datang. Naik kereta sungguh tidak mungkin.


“Orang kan kalau masuk ICU kemungkinan hidupnya sudah kecil sekali”

Perkataan seorang rekan beberapa minggu lalu masih terngiang sangat jelas. Ya, saya tahu. Bahkan mendengar cerita kondisinya yang seratus persen bergantung pada alat.. saya tahu kalau sembuhpun kemungkinan untuk kembali berfungsi secara normal sangat kecil sekali.


Sekarang hanya tentang apakah memang tugas beliau sudah selesai di sini atau belum. Atau adakah lain yang harus beliau perantarai agar bisa pulang dengan tenang.. seperti mengajarkan saya untuk mencari lokasi yang tepat sambil memberi saran yang tepat pada bisnis juice yang akan saya tekuni.. atau menjadi perantara bagi Nenek dan Euteu untuk bisa punya alasan sekedar keluar rumah dan mengambil ‘libur’ sebentar dalam mengurusi keseharian Eyang yang kian grumpy.. atau apalagi..


Beliau punya anak yang meninggal saat baru lahir. Anak perempuan yang saya masih ingat namanya. Aneh memang kenapa saya bisa ingat.. padahal waktu itu saya masih sangat kecil. Kata mereka, anak itulah nanti yang akan datang menjemput ayahnya. Lalu saya tertegun.. betapa singkat.. betapa singkat rasanya memori antara saya duduk di depan makam kecil itu.. hingga saat ini saat beliau sudah kehilangan sepenuhnya kesadaran di ruang ICU. Rasanya sebentar sekali.. padahal dua puluh tahun sudah berlalu.


***

Ya Allah..

Benar memang hidup ini singkat sekali.

Terlalu singkat untuk terus menerus dipakai mengurusi hal printil duniawi. Bantu kami.. Ya Allah. Bantu kami selalu sadar bahwa dunia ini memang sebentar. Agar hati kami tidak terlalu terpaut pada apa yang tidak akan membawa nilai berarti di Hari Penghitungan nanti.


Bantu kami fokus pada nilai. Bantu kami membuka hati, pada hal-hal yang Engkau senangi. 


***

Decluttering helps you to open the heart, yang bahkan kamu sendiri pun mungkin tidak sadar bahwa sedang tertutup

***

Bogor, 7 Maret 2021

Pojok kiri depan kaca ruang dalam The Coffee Bean & Tea Leaf. Hi, chair. I’m back

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2