Skip to main content

What Solitude Has Taught Me

 




Solitude has been my safest place since childhood. Growing up in Eyang's house, far from any neighbors I can play, masuk sekolah di umur yang lebih muda dari mayoritas teman-teman, lalu hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, membuat saya terbiasa menyendiri dan bermain dengan imajinasi. 


I like being alone, but not in the crowd. At school, you'll always find me among the flock, terutama saat mahasiswa -saya butuh kerumunan itu untuk mencegah nyasar masuk ruangan- jadi sepulang sekolah atau kuliah, saya lebih suka menyendiri di kamar. 


Tapi kesukaan saya menyendiri, pikiran-pikiran liar yang lebih sering saya redam, keinginan untuk berkata tidak jika ada ajakan yang saya tidak sukai.. hanya baru bisa saya pelajari, akui, dan kemukakan setelah pandemi. Pandemi adalah ruang bagi saya untuk menyadari dan mengakui bahwa saya memang tidak suka terlalu banyak berinteraksi, saya tidak suka obrolan yang tidak perlu (kecuali obrolan itu dengan orang yang saya suka, klik, atau se frekuensi), dan saya senang menjadi orang yang menepati omongan. Karena sering terjadi orang terlalu terbiasa untuk melontarkan suatu janji, lalu menganggap orang lain sudah lupa dengan janji itu dan tidak diungkit lagi. Nah, saya senang menjadi orang yang walau janji itu terucap sekian lama yang lalu, tetap saya usahakan untuk dipenuhi, walau jadinya akan dianggap 'kaku banget si, santai kali, gue aja udah lupa.' 


Saya suka jadi orang yang kaku. Yang berani bilang 'baik Pak saya akan selesaikan dalam 2 minggu' padahal si bapak mintanya dalam tiga hari. Saya suka mengakui bahwa saya tidak bisa memenuhi semua permintaan mereka, dan saya punya alasan jelas serta mumpuni mengapa saya minta tenggat sedemikian lama. Padahal lebih mudah jika di iyain saja, nanti kalau sudah habis waktunya tinggal minta perpanjang. 


No, darling. That's the easiest way to lose someone's respect. 


Saya suka jadi orang yang pushing my own limit, melawan rasa malas dan lelah luar biasa setelah seharian nyetir bolak-balik Pamanukan-Jakarta-Bogor, lalu keesokan harinya ikut nemenin jalan-jalan, dan pulang dengan rumah berantakan yang dibersihkan secara fokus dan menyeluruh dalam 2,5 jam. Saya suka jadi orang yang tegas, walau itu artinya, saya mungkin akan ditakuti bahkan oleh orang yang saya sayangi.


Tapi hanya itulah satu-satunya cara yang bisa mengeluarkan seseorang dari lingkaran keburukan yang terus menerus dia dapati. Bulan berganti tahun, dan masalah yang menimpanya masih selalu sama. Itu artinya apa? Artinya, dia memang tidak belajar dan tidak berusaha memutus pola tersebut. Cara memutus pola yang berakibat buruk pada kehidupan dan nasib kita, adalah dengan memaksa diri sendiri untuk mengakui apa yang mungkin akan dipandang buruk oleh orang lain. 


Siapa yang suka dengan orang tegas, disiplin, true to their words, dan tidak mudah tertawa? Tidak ada kan? Orang seperti itu bukan jenis orang yang akan dikerumuni oleh massa dan dielu-elukan. Karakter seperti itu justru rentan membuat seseorang dijauhi dari kumpulannya karena tidak asik. 


Percayalah, sayang. Itu .. tidak.. apa-apa. Tidak apa-apa kalau pada akhirnya mereka berhenti mengajakmu nongkrong, karena kelak kamu akan menemukan kumpulan mu sendiri yang dengan nongkrong tidak berfaedah kalian pun tetap akan jadi produk berfaedah. 


Tidak semua orang berkesempatan untuk mempelajari dirinya sendiri. Karena solitude, atau kesendirian, memang bukan tempat favorit yang asik untuk dihuni. Jika kamu adalah bagian dari yang sedikit itu, maka gunakan waktu dan tempatmu sebaik mungkin. Kamu akan belajar mengenali satu demi satu pola yang membuatmu melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, sehingga jika pola itu kembali terulang, kamu sudah bisa prediksi apa yang akan terjadi dan bagaimana mencegahnya. 


Semisal kalau kamu mendapati rumahmu penuh orang, atau mungkin yang menghuni banyak, dan kamu adalah orang yang suka bersih-bersih, maka kamu tahu bahwa kamu harus belajar membiasakan diri bersih-bersih di malam hari saat seisi rumah sedang tidur. Atau minimal sekali, kamu belajar untuk menurunkan standar kebersihanmu di dalam hati, demi berkompromi dengan kehadiran orang-orang yang kamu cintai.


Sesederhana itu perjalanan mengenali diri sendiri, tapi rupanya, dan lagi-lagi rupanya, hal yang sederhana justru datang karena proses menemukannya sendiri sudah rumit. Tidak ada kesederhanaan tanpa kerumitan. Jadi jangan anggap enteng sekecil apapun pelajaran yang kamu dapati tentang dirimu sendiri. Mau menyediakan waktu dan pikiran untuk mempelajari itu saja sudah menguras energi, bukan?


***

Kamu mungkin tidak akan hidup seperti ini selamanya, tapi kamu akan hidup dengan dirimu selamanya. Dirimulah satu-satunya yang harus kamu kenal, jika sedang lelah tapi banyak yang harus dilakukan, bagaimana cara mengatasi dirimu ini supaya tetap bisa melakukan hal prioritas. Terlebih dahulu tentu saja kamu harus mengenali bagaimana caramu menentukan prioritas, apa yang paling utama bagimu, dan mengapa.


Because honey.. your kids will copy the kind of character that you have. Knowing yourselves will make it easier to them to knowing themselves since early age.


***

Bogor, March 7 2021

22.53

All this.. just to be a mother. I want to be a mother. A good one.

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk