Skip to main content

What Solitude has Taught me (2)

 



Solitude has taught me many things. But the precious one is about the value of people. Friends and family are irreplaceable. Jangan sampai kehadiran mereka tergantikan oleh aroma orang baru yang hanya cemerlang tuk sesaat. Biar bagaimanapun, merekalah yang telah lama hadir dan berada di hidup kita. Walau tidak terus menerus ada.. tapi ikatan yang ada tidak bisa diabaikan begitu saja.


Walau mereka adalah orang-orang yang sulit untuk kalian hadapi. Mereka menyebalkan, kadang egois, tak jarang bikin sakit hati. Mereka juga yang sering membuatmu tersinggung, ucapannya paling tidak bisa diterima, dan kerap membuatmu berjanji untuk tidak pernah menemuinya lagi.


But solitude has taught me that not even that, should replace them in your life. Because at the end of the day, saat lampu sorot sudah mati, and the crowd slowly leave you standing, they're the ones who are clapping. 


Di umur 28, saya baru mengenal jenis hidup yang ingin saya jalani. Karena selama dua puluh delapan tahun itu pula lah saya pernah mengalami hidup terisolir dari keluarga, jauh dan tidak mengenal siapa mereka, hingga bergantung sepenuhnya pada mereka, sampai kembali jauh tapi dengan pilihan untuk bisa sesekali berkunjung atau tidak sama sekali. Di umur ini saya mendefinisikan jenis hidup apa yang ingin saya jalani. Yaitu yang tidak membuat saya sendirian di masa tua, karena menghabiskan masa muda untuk loyal and pledge allegiance untuk sesuatu yang tidak akan bertahan minimal enam jam jika saya sakit.


Pulang ke rumah setelah bekerja seharian, bercengkrama dengan keluarga, dengan mama, adik atau bahkan tetangga, tidak terbebani dengan overtime pekerjaan yang tidak kunjung selesai, adalah jenis hidup yang saya inginkan.

Mudah-mudahan kalian pun juga sama. Jangan terlalu terpaku pada pencapaian nominal dan angka di umur tiga puluh. Bisa mengenal dirimu sendiri, menemukan value dari dirimu, dan memilih jalan hidup, adalah pencapaian luar biasa yang patut kamu rayakan. Karena tidak semua orang seberuntung itu. Banyak yang menua, tanpa tahu ke mana arah tujuannya, sehingga menyenangkan hati semua orang dan mendapat pengakuan dari mereka masih menjadi target harian.


***

Once you learned your value, it's easy to walk away from those who won't admit your quality.


***

Bogor, 8 Maret 2021

Happy International Women's Day.

Comments

Popular posts from this blog

About being a strong woman.,

My product(s) are a means to show people that we could and should be happy in wherever we are, in whatever the circumstances. As a single person battling with all the worryness of who am I gonna end up with while dealing with work and life, I must admit that I am strong enough to do it all alone. Including being obedient to difficult father and grandfather. I am strong. But at the end of the day, when I got home after a very long Sunday and clean my self with cold water.. I still wish that I have somebody in this house... to open the hair serum for me. :( Kenceng banget 15 menit nyoba buka tutupnya gabisa2

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam