Skip to main content

What I Truly Feel About Ramadan,

 



Setiap jiwa yang tenang, pasti tergetar saat sadar bahwa Ramadan telah mendekat. Sukacita bersiap menyambutnya, membersihkan diri dan hati, dan berbenah ruang. 


Namun bagi saya..


I was thirteen when I first left the house. Saya lulus SMP dan harus pergi meninggalkan rumah. Diutus oleh Papa demi pendidikan yang lebih baik, di sekolah berasrama, katanya begitu. Untuk memperbaiki akhlak saya yang nakal, susah diatur, dan keras kepala. Di rumah, saya selalu berantem dengan adik saya yang laki-laki, sehingga kami harus dipisahkan. Sehingga kami tidak pernah lagi punya kesempatan untuk rekonsiliasi, untuk memperbaiki hubungan yang rusak dan meninggalkan di jiwa-jiwa kecil kami. 


Sejak saat itu, setiap Ramadan hendak tiba, ada ketakutan yang selalu saya sembunyikan di dalam hati. Ketakutan kecil, yang selalu berhasil saya tutup rapat-rapat. Tahun pertama saya melalui Ramadan tanpa orang tua, karena masih sekolah dan belum pernah merasakan Ramadan di kampung halaman Papa. Mereka tentu tidak bisa datang menyusul, karena masih punya tanggungan dua adik saya yang masih kecil yang terlalu melelahkan untuk dibawa keluar kota. Juga Oma masih ingin bertemu saya, karena beliau sama sekali tidak pernah bertemu saya lagi sejak saya lahir. Lima belas tahun lalu, Ramadan saya lalui dengan menangis. Dikecup pelan oleh kakak sepupu yang baru pulang dari Bali, sepertinya dia tahu saya pura-pura tidur karena tidak mau terlihat menangis menahan rindu. Pada papa dan mama. I was fourteen, dan itu adalah lebaran pertama saya tanpa mereka. 


Tapi di situ juga lah pertama kali saya mengenal makanan favorit saya; tili aya. Sebutnya, makanan itu hanya ada ketika Ramadan. Namun ya.. ternyata hanya tahun itu saja saya bisa mencicipinya. Setelah itu bahkan sampai sekarang.. saya bahkan sudah tidak ingat rasanya seperti apa.


Ramadan selanjutnya saya selalu diberikan pertanyaan mau lebaran di mana? dan tahun setelahnya saya pilih ke rumah Eyang.. lagi-lagi rumah Eyang. Tahun ketiga barulah saya melewati Ramadan sama mama dan papa.. tapi perasaan itu sudah terlanjur kaku, sudah terlanjur mati untuk sebuah rindu. Saya tidak lagi menjadi anak yang bisa mengungkapkan perasaan pada orang tua sendiri.


Memasuki waktu kuliah, saya selalu menghabiskan Ramadan bersama teman-teman. Sebetulnya itu hanyalah sebuah kamuflase, karena ketidaksanggupan saya untuk pulang ke rumah orang tua. Saya selalu menghabiskan waktu lebaran di rumah Eyang, tapi tidak pernah lama. Saya menghindari segala bentuk interaksi dengan keluarga.. dan selalu memilih menjalani Ramadan sendirian. 


Well.. tidak pernah sendirian sih, semasa kuliah dulu. Minimal selalu ada anak-anak sekret yang siap masak untuk sahur dan berbuka, dan di sanalah saya tinggal. Barulah setelah memasuki usia tingkat akhir, dan memasuki transisi ke dunia bekerja.. kesendirian itu semakin nyata. Terutama jelang Ramadan. 


Saat saya mendewasa, dan berhenti memilih teman sembarangan hanya asal ada kawan, saat itu juga lah sebuah lubang itu semakin nyata. Lubang berisi kekosongan, yang hampa jika Ramadan mulai berkumandang. Untuk itu saya benci layar kaca. Iklan televisi dan suara musik ketimuran, membuat kental suasana rumah yang sudah enam belas tahun saya tinggalkan. Membuat lubang itu semakin terasa gelapnya. Menganga lebar, mengeja hampa.


Tapi saya tidak pernah kehilangan akal. Enam belas tahun cerdik mengakali sepinya Ramadan, ujian itu terpampang nyata di tahun kemarin. Saat Ramadan penuh saya habiskan sendirian. Benar-benar sendirian. Tanpa ada teman yang sesekali datang, tanpa ada ajakan berbuka bersama, apalagi sahur on the road seperti semasa kuliah dulu. Semua sendirian. Solitude itu indah.. solitude menyenangkan. Tapi.. dalam kadar tertentu, pada waktu tertentu, kamu akan paham rasanya ingin mati saja.


Tahun ini, secara khusus saya meminta adik saya untuk terbang menghabiskan Ramadan di sini. Secara spesifik dan lugas saya sampaikan pada mama dan papa saya tidak mau sendirian. Saya tidak mau ramadan sendirian. Mereka meluluskan keinginan itu. Semua sudah dipersiapkan, hingga ternyata keputusan kebijakan sekolah berkata lain. Semua siswa dilarang meninggalkan kota, sebelum tenggat waktu. Ujian dilaksanakan di sana, hingga jauh setelah lebaran.


Mendengar kabar tersebut kemarin, saya bereaksi seperti kanak-kanak lima tahun tidak dibelikan sepatu roda. Saya berteriak, dan bertanya berulang-ulang melalui fitur facetime.. trus saya gimana.. ramadan sama siapa.. saya tidak mau sendirian.. yang saya ulang selama dua jam. Hingga mereka bosan, dan saya lelah, lalu tertidur.


Keesokan harinya, saya bangun dengan kesadaran bahwa.. ya Ramadan kali ini, mungkin akan sama seperti kemarin. Sendirian lagi. Untuk itu, tubuh saya merespon dengan responnya yang khas. Khas seperti Mima kecil ditinggal Papa jauh ke Papua. Khas seperti jarak Bogor-Merauke yang harus ia tempuh demi bisa bersama papa setiap hari. Saya demam, bersin tidak karuan. Mengawal training dengan tetap semangat, namun harus mematikan kamera lebih sering untuk sekedar mengelap hidung yang tidak berhenti mengeluarkan cairan. Saya terus menerus bersin.. hingga training selesai, memilih satu film dan mengangkutnya ke kamar, menontonnya sambil terus tidak peduli.. karena badan mulai hangat.


Saya tahu, saya bukan pejuang tangguh. Saya mudah sakit, jika mendapat tekanan emosional. Saya pun tahu, seharusnya saya bersuka cita menyambut datangnya Ramadan. Tapi inilah yang jujur saya rasakan.. maka saya ingin bertanya.. apakah perasaan ini salah? Jika saya takut karena Ramadan akan datang, dan justru tidak sukacita menyambutnya, jika saya justru merasa semakin kesepian karenanya.. apakah itu artinya saya termasuk bagian dari orang-orang yang tidak beriman karena tidak mencintai Ramadan?


Saya tahu pertanyaan ini tidak akan menemui jawaban jika hanya dipajang di sini.

Tapi saya lebih baik bertanya pada dinding kosong, daripada pada orang-orang sok tahu yang kemudian menghakimi bahwa saya tidak berhak sedih karena saya punya segalanya.


***

Bogor, 31 Maret 2021

Bye, March.. in summary.. Papa Gode meninggal, orang-orang kantor terkena wabah penyakit yang melemahkan kondisi mereka, menyurutkan semangat, benturan teguran di Pantura, dan rangkaian event yang harus tetap terlaksana. Terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal