Skip to main content

Sebuah Pilihan

 




Dua tahun lalu, saya berdoa. Berdoa dalam sujud yang sangat panjang. Menangis. Saya meminta, memohon, agar didatangkan satu sosok yang bisa jadi pasangan hidup. Lalu saya tertidur. Keesokan harinya, saya menempuh perjalanan ke Jakarta, untuk memenuhi ajakan buka bersama. Dalam perjalanan, diam menunggu, saya tengok ponsel. Sebuah pesan tertulis di situ: 'Ma, ada temen gue lagi nyari taarufan. Lu mau ga gue kenalin? Ini ig nya.' Saya terdiam. Di dalam commuter line yang sepi penumpang, saya duduk termangu. Ponsel saya simpan, sebelum tentu saja saya screenshot dan kirim ke teman yang bijak. 'Ini gimana jawabnya?' tanya saya, yang jawabannya baru saya buka selepas acara berbuka.


'Wah.. tapi gue belum pernah nih ginian.. taarufan gini gini.. hehe' 

Jawaban itu.. adalah pilihan. Bukan menerima, bukan juga menolak. Teman saya paham, dan tidak lagi melanjutkan.

***


'Kak, nanti Om kenalin deh. Ini ada anak buah Om,' ujarnya sambil mengacungkan jempol, mengangkat alis. Saya hanya tertawa. Sejak itu, setiap kali mereka coba untuk menggoda-goda kami, saya selalu menghindar, memilih masuk ke dalam rumah, atau bersembunyi di kamar Eyang.


'Please.. don't..' saya memohon dengan lemas saat si Om datang merangkul saya yang duduk 'I don't like it.. I just don't..' 


Permintaan itu.. adalah pilihan. Saya tidak suka, jika urusan pribadi dicampuri oleh orang lain, walau keluarga sekalipun. Meskipun saya tahu, dalam Islam, adalah kewajiban keluarga untuk mencarikan pasangan bagi anaknya. Tapi.. ini terlalu weird, dan sebagai permulaan, this isn't good. 

***


Hari ini, demi melihat bayangan yang memantul di cermin, saya memutuskan untuk membuat QnA iseng-iseng di instagram. Lucu-lucuan saja, yang cukup mengundang reaksi tawa dari beberapa teman. Tidak disangka, satu pertanyaan yang datang dari seorang kawan lama, bersifat sangat 'menjurus'. Beruntungnya, tapi saya percaya ini bukan kebetulan, beruntungnya pagi tadi sebelum bikin QnA itu, sempat melintas di twitter tentang pasangan yang menikah karena awalnya bercanda 'kenapa? lu mau nglamar' kata si ceweknya dan foto selanjutnya adalah foto pernikahan mereka. Berbekal pengetahuan tadi, maka saya tahan jawaban itu, tidak dibalas dengan video, tetapi hanya direspon dengan chat. 'makkk', dan satu emoji tawa. 


Reaksi saya tadi.. adalah pilihan.

***


Setelah serangkaian pilihan yang saya ambil itu.. yang saya pun tidak tahu apakah itu pilihan yang benar, atau reaksi yang tepat, saya jadi takut. Saya takut sampai harus menunda pekerjaan translate-an padahal due nya besok. (Tulisan ini pun ditulis dalam sesi peralihan satu file ke file lain). Saya takut jika ternyata pilihan-pilihan itu akan membawa saya pada kesendirian selamanya.


Saya hanya ingin mengikuti click. The click yang hanya hati yang tahu, tapi sekarang saya mulai ragu.. apakah itu terlalu muluk? 


Sepertinya dulu saya pernah menulis tentang mempercayai bisikan ruh dalam mengambil keputusan karena ruh lah yang paling tahu apa yang Tuhan tunjukkan. Tapi sekarang saya mulai bertanya-tanya sendiri, apakah benar ruh yang saya ikuti selama ini? Memang sih, sampai sekarang tidak ada pilihan yang saya sesali. Termasuk keputusan untuk meminta penundaan hari pernikahan yang berujung batal itu pun tidak sama sekali saya sesali, justru sebaliknya. Karena kini di depan mata saya telah terjadi perpecahan antara dua keluarga, sepasang suami istri yang hidup bersama hingga maut memisahkan, namun hampa cinta. Sepertinya sih sengsara, jika kapasitas mental si pasangan ini serapuh saya, dan itu bisa saja terjadi pada saya jika menikah dengan beliau, dulu. Karena hal yang dia rasakan pada keluarga pasangannya, adalah hal yang sama persis dengan yang saya rasakan pada keluarganya. Bibit itu ada, dan jika diteruskan, tentu saya akan jadi tipe menantu yang tidak akan pernah pulang ke rumah mertua selama lebaran, sampai selamanya. Seperti mereka.


Kini saya ingin kembali mengikuti klik itu.. tapi saya takut jika salah jalan. Percayalah, meragukan diri sendiri adalah keraguan paling tidak nyaman. Itu yang sedang saya alami sekarang, dan untuk itu saya menulis tulisan ini. 


Saya tidak meminta banyak pada Tuhan untuk urusan ini, saya hanya ingin the click, and a good start. Karena awal yang bagus setidaknya akan jadi modal dasar berpijak jika di tengah jalan nanti salah satu dari kami mulai limbung dan goyah. Tapi sekarang saya jadi makin takut. Takut untuk merasa takut, karena biasanya yang ditakuti itulah yang.... bahkan menulisnya saja saya takut.


Untuk sekarang saya mungkin bisa menghindar. Berlindung dibalik tawa-tawa jenaka. Sembunyi dari setiap lontaran pertanyaan yang berbahaya. Karna saya ingin.. suatu nanti.. yang melontarkan pertanyaan adalah jiwa yang saya kenali, seolah sejak dulu sekali. Saya ingin yakin bahwa yang seperti itu memang ada di dunia ini. Kita diciptakan bersama, terpisah, saling mencari, saling menemukan, lalu bersatu, berjuang dan berjalan bersama, hingga nanti terpisah, dan bertemu lagi, terus begitu, to the eternity. 


I just want the click,

The click, is my choice.

***

Bogor, 24 Maret 2021

Comments

Popular posts from this blog

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Camping, for some reason..

Camping is a pretty handful thing. You pack a bag filled with your life for a day or two, all these efforts, all these mess, just to sleep in a stranger's place, inconveniently, without any certainty if the weather will always be clear. Terus terang saya sebetulnya bukan tipe yang bersemangat kalau ada acara kantor yang melibatkan keluarga. Tapi kali ini justru berbeda, pertama kali ajakan camping ini datang, saya langsung iyakan tanpa berpikir terlalu panjang meskipun saya tahu ini melibatkan keluarga. Padahal saya sudah meninggalkan dunia per-camping-an sejak enam tahun lalu, sejak semua peralatan camping saya bagi-bagi ke orang terdekat.  Kami berangkat tanpa kendala yang signifikan, semua lancar, tenang, bahagia, bahkan saya bisa bilang 'I had one of the best sleeps during pandemic' di dalam tenda malam itu. Sebagai seorang single sejati, tentu saya bawa tenda single juga (minjem punya si Ale), which already filled with my bagage (literally). Rasanya familiar ketika mal