Skip to main content

Pengajar, Bersahaja

 



Sebuah jambu kristal besar berkulit mulus tanpa cela. Masih dibalut plastik dan tangkai hasil dipetik. "Nih, buat lu. Organik, dari pohon bokap gue" ujarnya sambil menyerahkan jambu kristal besar. Saya terima dengan mata membulat tidak kalah besar, antusias mendapatkan buah organik, hasil petik sendiri. Bukan main-main, yang memetik adalah seorang pengajar yang dikenal senang 'memudahkan' mahasiswa. "Thanks, Peng" begitu saya memanggilnya; Epeng. Dia pun memanggil saya dengan sebutan: B.... ah sudahlah. Lima tahun saya menutup rapat nama panggilan itu.. bukan hanya karena tidak mau disebut begitu, tapi saya juga tidak mau mengunjungi memori lama saat masih berjibaku dengan organisasi tersebut. Biarlah jadi memori dan pelajaran.


Kawan saya ini sekarang menikah dengan seseorang yang juga sahabat saya semasa kuliah. Keduanya bertemu dengan romantis, di bawah rumah pohon, saat kami sedang belajar tumbuhan bawah alias gulma. Sebetulnya mereka sudah saling kenal sebelumnya, karena satu kelas semasa TPB, tapi tidak akrab dan barulah di semester lima itu si kawan memberanikan diri untuk meminta nomornya, dicomblangin sebentar tak lama mereka pun jadian, setelah lulus kuliah langsung menikah. Hasilnya? Anak mereka pun sampai sekarang betah sekali bermain dengan saya.. seolah dia tahu, bahwa ayah bundanya berteman dekat dengan tante-tante lonely satu ini, yang love life nya masih juga samar. Haha. Duh curhat mulu dah.


Jambu kristal besar yang diserahkan kemarin, kini masih tergeletak utuh di atas meja kopi. Baru akan saya kunyah lewat malam nanti, karena saya yakin malam ini saya akan butuh banyak asupan nutrisi.


Tapi bukan jambu itu yang ingin saya ceritakan. Melainkan tentang kesahajaan ayah kawan saya, alias mertua sahabat saya, yang merupakan seorang pengajar. Saya tahu sejak dulu bahwa si kawan ini 'anak dosen'. Di mata saya, dosen adalah profesi paling mulia nan bersahaja. Sampai kini pun masih tak lepas kekaguman saya pada mereka yang berprofesi sebagai pengajar di perguruan tinggi. Saya tumbuh dari keluarga yang sebetulnya berbasis pengajar. Oma dan Opa adalah guru, walau saya tidak pernah berkesempatan mendapatkan pengajaran dari mereka secara langsung, dan tante-tante saya pun beberapa ada yang jadi guru. Sejak dulu, punya anak yang kelak menjadi dosen pun telah jadi impian para orang tua di keluarga ini. Tidak terkecuali pada saya.. yang pernah disodori tawaran untuk mengajar.


Sejatinya saya memang bercita-cita untuk jadi guru. Dari kecil, saya lebih senang main sekolah-sekolahan ketimbang masak-masakan. Saya suka bercerita pada orang bahwa nanti kalau sudah besar, saya akan jadi guru. Pun karena saya suka menulis, saya pikir dua hal ini cocok sekali dikombinasikan, karena dosen pun sering menulis buku-buku ternama.


Namun cita-cita itu harus terkubur, karena jurusan yang saya impikan tidak dikabulkan oleh orang tua yang malah memasukkan saya ke fakultas yang paling tidak ada dalam daftar impian. Mana mungkin menjadi pengajar jika pelajarannya saja tidak diminati.


"Ortu lu masih di sini? Mana mobilnya?" Saya bertanya pada si kawan saat kami baru sampai di halaman rumah mereka. Kawan saya hanya menunjuk sebuah motor bebek keluaran lama, yang sangat sederhana. Saya ber oh pelan, dan tidak berkomentar apa-apa lagi. Suami-istri, berboncengan, mencari udara segar dan tempat jumatan yang taat protokol kesehatan, sembari mampir ke rumah anak dan menantunya, bermain bersama cucu yang sedang ditinggal kerja.


Kesahajaan, keilmuan, dan kedalaman berpikir para pengajar tetap membuat saya terkagum-kagum sampai sekarang. Pun beberapa dosen yang cerdas luar biasa yang saya kenal, hidup jauh lebih sederhana ketimbang, maaf, beberapa orang lain yang tidak begitu cerdas dalam pikiran, namun bisa kaya raya. Ada orang-orang yang jika saya duduk bersamanya, seolah dunia milik berdua. Kita bisa membicarakan segala hal tentang semesta, tentang energi dan tata surya, sejarah peradaban manusia, hingga susunan lapisan tanah yang membentuk gunung dan bukit. Seluas dan sedalam samudera, yang bisa membuat tiga jam tidak terasa. Di saat seperti itulah saya merasa sangat kaya. Seperti berada di antara dua samudera, dan bisa menengok kemana saja, memandang jauh ke depan, ke samping, dan yang terlihat hanya keindahan. Jika sudah begitu, harta pun seolah tidak ada artinya. Untuk apa punya banyak uang jika tidak paham makna kesahajaan.


***

Bogor, 13 Maret 2021

Tulisan ditulis untuk procrastinating translating tiga puluh tiga ribu kata dalam sepuluh hari. Semangat Mim. No Sunday Sunday club. Dan ini cuma sepuluh hari kok. 

Comments

Popular posts from this blog

Travel Through Time to Raijua

Menuju Raijua.. bahkan perjalanannya adalah petualangan tersendiri. Kamu harus terbang ke Kota Kupang (atau Waingapu), tapi saya memilih Kupang, lalu berlayar dengan kapal cepat selama 5-7 jam untuk menuju Pulau Sabu. Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk ke Pulau Sabu dari Kupang, yaitu dengan naik pesawat Susi Air selama kurang lebih 55 menit dengan harga sekitar 1,3 juta, atau naik kapal Ferry lambat dengan waktu tempuh selama 12-13 jam seharga Rp 80 - 120rb per orang, atau naik kapal Ferry cepat yang berangkatnya malam dan sampai di Pulau Sabu pagi (jadi kurang lebih 8 jam juga). Kapal cepat harganya berkisar di 200rb-an, saya sendiri memilih naik kapal Cantika Express kelas VIP seharga Rp 262 ribu. Di dalam kelas VIP Kapal Express Cantika, tapi jendelanya terlalu tinggi untuk bisa duduk lihat laut Tenang, ada jaket keselamatan. Tadinya saya mau bawa sendiri karena takut menyeberang selama tujuh jam. Tapi rupanya yang harus lebih dikhawatirkan itu menyeberang dua jam

Definisi orang baik, dari alm Sri Wahyuningsih Djangko

"Mims, ngana kita mo tarek jadi informasi wa.. ( Mim, kamu aku rekrut jadi bagian informasi ya)" ujarnya suatu hari. Kalimat tersebut menjadi awal dari pengalaman kelas sebelas ku yang penuh dengan kesibukan non-akademis. Berorganisasi di OP (Organisasi Pelajar, atau OSIS) sambil berjibaku dengan lomba-lomba debat bersama klub debat. Entah apa yang membuatnya menarikku sebagai anggotanya di Sekbid Informasi, tapi yang jelas ku bersyukur sekali bisa dipilih sebagai partnernya. "Yuk, torang baku pangge apa e? Dorang bahasa so baku pangge 'aner' ... ( Yuk, nama panggilan kita apa nih, anak sekbid bahasa sudah punya panggilan sendiri yaitu 'aner' )" kataku di hari yang lain jauh setelah pelantikan. Dari situ tercetus lah nama Parti alias Partner-Informasi. Aku panggil dia dengan Parti, dia panggil ku pun dengan Parti. Panggilan itu bertahan hingga dua belas tahun kemudian, sampai akhir hayatnya. *** Namanya Yayuk, orang kenalnya dengan nama Yayuk

Back to my nir-faedah kinda post.

I was on page 184 when a good friend of mine texted and she suddenly poured her mental state. I was frozen for a moment before picking up my self and texted her back with some rational-encouraging words that I wish could help. This is a tough time for us, especially her, with all burden on her shoulder and the recent loss that we've experienced. It's not easy and never getting any easier, so we just have to face it now, embrace the fact that she's gone and feel the stings for a couple years. I finished two books today, one that I read from weeks ago, and one that I just read and not really have much information that I need. When I decided to go on the third book, only when I was halfway distractions started to come. Alright, I put my book aside and try to attend to the only thing I should attend: life. It's been a week since I shut myself in the house. Not going outside, let alone spoke to another human being. I feel weird doing that especially when I used to talk